Friday, January 31, 2020

BUNDA BERKISAH PART #6 : PENA DAN BIBI HANA

January 31, 2020 0 Comments




PENA DAN BIBI HANA
Oleh: Prihantini

            “Assalamualaikum ...., Bibi Hana, Bi .... bukain pintu.”
            Suara Pena memecah keheningan dini hari itu. Waktu menunjukkan pukul 03.30. Pena dan Ayah Novo baru saja sampai di rumah Bibi Hana. Kedatangan mereka tidak diketahui oleh Bibi Hana dan juga oleh Bilo dan Dilo. Bibi Hana adalah adik dari Ayah Novo. Bibi Hana memiliki dua anak laki-laki bernama Dilo dan Bilo. Ayah Novo memiliki dua anak perempuan yaitu Pena dan Kena. Ayah Novo tinggal jauh dari Bibi Hana, namun silaturahmi kedua kakak beradik ini masih terjalin sangat baik. Hubungan baik juga dilanjutkan oleh anak-anak mereka, Pena, Kena, Dilo, dan Bilo. Jarak yang memisahkan karena beda kota pun tidak menjadi masalah.
            Liburan sekolah telah datang, dan sudah seperti biasa, Kena selalu minta untuk bisa liburan ke rumah Bibi Hana. Suara salam yang dikenal itu membangunkan Bibi Hana yang tengah terlelap tidur bersama Dilo dan Bilo.
            “Walaikumsalam”, jawab Bibi Hana.
            Mata yang belum sempurna membuka itu, secara perlahan melihat bayangan. Sosok yang tak asing ada di luar pagar rumah Bibi Hana.
            “Oh ... Kakak Novo dan Pena, sebentar ya Bibi bukain pintu.
            “Iya Bi, ini Pena dan Ayah Novo.” Jawab Pena.
            Bibi Hana bergegas mencari kunci pagar pintu. Bibi Hana merasa senang dengan kedatangan Pena dan tentunya Ayah Novi yang tak lain adalah Kakak kandungnya. Bibi Hana mempersilahkan Pena dan Ayah Novo masuk ke rumah. Bibi Hana dengan sigap menyiapkan teh hangat untuk mereka. Pena dan Ayah Novo tampak kelelahan menempuh perjalanan jauh. Bibi Hana mempersilahkan mereka untuk beristirahat.
            “Pena, diminum dulu teh hangatnya, ayo Ayah Novo juga, nanti kalau masih ngantuk bobok dulu aja ya.” Kata Bibi Hana.
            “Iya Bi, tapi sebentar lagi Subuh Bi.” Jawab Pena.
            Ayah Novo pun perlahan meminum teh hangat yang telah dihidangkan beserta roti kering yang tersedia di meja. Ayah Novo dan Bibi Hana terlibat percakapan seperti layaknya kakak beradik yang telah lama tidak bertemu. Sementara Pena tak sabar menunggu pagi dan bermain bersama Dilo dan Bilo yang saat itu masih terlelap. Adzan Subuh pun berkumandang, Pena bergegas sholat. Bibi Hana mempersilakan Pena untuk beristirahat, namun Pena tetap tidak mau.
            Tidak berselang lama, Bilo dan Dilo pun terbangun. Mereka kaget karena ada kakak sepupunya, Pena.
            “Lho...ada Kakak Pena.” Kata Bilo.
            Dilo pun juga terbangun dan tersenyum. Mereka bertiga tak perlu waktu untuk beradaptasi. Mereka bermain untuk melepas rindu beberapa bulan tidak bertemu. Bibi Hana merasa senang memandang anak dan keponakannya sangat rukun dan saling sayang.

***
            Ayah Novo tidak bisa terlalu lama dirumah Bibi Hana. Ayah Novo harus kembali bekerja dan juga mengawasi adiknya Pena yaitu Kena. Ibunya Pena sedang menjalankan tugas mulia yaitu bertelur. Keluarga Pena adalah keluarga Penyu Hijau. Penyu berkembang biak dengan bertelur dan semua jenis Penyu sudah termasuk satwa langka yang dilindungi. Oleh karena itu Ibu Pena harus berkonsentrasi penuh di masa bertelurnya. Di Indonesia terdapat enam jenis Penyu, yaitu Penyu Hijau, Penyu Sisik, Penyu Belimbing, Penyu Pipih, Penyu Tempayang, dan Penyu Lekang. Awal bulan Juli merupakan waktu yang tepat untuk berkembang biak. Cara berkembang biak Penyu Hijau adalah dengan bertelur. Penyu Hijau yang hidup di Indonesia biasanya bertelur pada musim kemarau yaitu antara bulan Juli dan Oktober.
            Penyu Hijau memiliki tempat favorit untuk bertelur. Lokasi bertelur Penyu Hijau biasanya memiliki garis pantai yang panjang, pasir yang putih dan disekitarnya ditumbuhi lamun. Tumbuhan lamun ini biasanya tumbuh di perairan laut dangkal (kurang dari tiga meter) dan bisa dianggap sebagai bagian dari ekosistem mangrove. Lamun memiliki fungsi sebagai tempat berkembang biak ikan-kan kecil, sebagai penahan erosi, dan penyedia makanan bagi makhluk hidup di laut.
***
            Ayah Novo berpamitan pada Bibi Hana, dan meminta tolong untuk menjaga Pena sementara selama liburan ini. Bibi Hana tidak berkeberatan justru merasa senang.
            “Hana, tolong jagain Pena ya, jangan lupa dia ada PR selama liburan ini”.
Kata Ayah Novo saat berpamitan dan memberi pesan kepada Bibi Hana. Pena merupakan anak yang pintar matematika terlebih kemampuannya diasah dengan mengikuti kegiatan ekstra di luar jam sekolah yaitu les Matematika.
“Iya Kak Novo, tenang saja.” Jawab Bibi Hana.
“Pena....Ayah pulang dulu ya, yang rukun sama Adik Bilo dan Adik Dilo, dan jangan lupa ngerjain PR nya ya.” Pesan Ayah Novo kepada Pena.
“Siap Yah, hati-hati ya Ayah.”.Jawab Pena.
Ayah Novo pun berangkat kembali ke kotanya. Bibi Hana dan kedua anaknya pun bergegas menyusun rencana liburan bersama Pena. Mereka berencana pergi ke taman bunga. Waktu yang dinanti tiba, Pena pergi ke taman bunga bersama keluarga Bibi Hana. Keseruan dan kegembiraan terpancar di wajah mereka.
Tidak berasa waktu liburan hampir berakhir. Ayah Novo menelepon Pena untuk menentukan waktu penjemputan. Pena masih ingin menghabiskan waktu liburan bersama Bibi Hana. Ayah Novo memberikan pengertian kepada Pena. Waktu liburan yang sudah hampir habis, jika pulang di akhir waktu liburan akan sangat rentan dengan kemacetan. Akhirnya Pena pun setuju untuk dijemput lebih awal dari yang direncanakan.
***
            Pena dijemput oleh keluarganya. Pena pun segera berkemas dengan berat hati. Satu per satu barang dikemasi dengan rapi. Semua barang dimasukkan di bagasi, dan Pena pun tak lama berpamitan dengan Bibi Hana. Semua telah siap untuk berangkat, Pena telah masuk dalam mobil. Tetiba saja Pena minta turun karena merasa ada barang yang tertinggal. Dia berlari kembali ke rumah Bibi Hana. Dari kejauhan Bibi Hana melihat Pena.
            “Ada apa Pena, kenapa lari-lari? Ada barang yang tertinggal?” Tanya Bibi Hana.
            “Iya Bi, Pena merasa ada yang tertinggal.” Jawab Pena.
            Bibi Hana tersenyum, dan memandang Pena. Bibi Hana tahu bahwa sebenarnya Pena belum ingin pulang. Pena anak yang baik, dia menuruti nasihat orang tua dan mengabaikan keinginannya. Bibi Hana memeluk Pena.
            “Pena, yang tertinggal ya Bibi Hana, iya kan?” Bibi Hana menggoda Pena.
            Pena tersenyum. “Ahhh Bibi Hana bisa aja.”
            Bibi Hana pun kembali mengantar Pena ke mobil keluarganya yang telah menunggu di luar. Bibi Hana membesarkan hati Pena. Dia sungguh anak yang baik. Pena tidak hanya pintar tapi dia berbakti dan sayang kedua orang tuanya. Pena mampu meredam keinginannya sendiri demi menghormati orang tuanya. Pena berpamitan sekali lagi kepada Bibi Hana.
            “Pena pulang ya Bi, Assalamualaikum.” Kata Pena.
            “Walaikumsalam Pena, hati-hati ya.” Balas Bibi Hana.
            Pena pulang ke kotanya. Bibi Hana kembali disibukkan dengan dua anak laki-lakinya. Bibi Hana bersyukur karena sekalipun berjauahan dengan Pena namun kasih sayangnya begitu terasa. Seberapa jauh jarak yang memisahkan saudara, tidak akan terasa. Kasih sayang tidak akan lekang oleh jarak sejauh apapun.
***

Pesan Moral:
  1. Mematuhi perintah orang tua salah satu bentuk bakti dan kasih sayang anak kepada orang tua
  2. Komunikasi dan diskusi antara orang tua dan anak serta keluarga itu penting untuk mengurangi kesalahpahaman dan menjaga silaturahmi
  3. Kasih sayang kakak beradik itu tidak tergantikan sekalipun telah berkeluarga dan hidup berjauhan

BUNDA BERKISAH PART #5 : DANAU IMPIAN BELISI

January 31, 2020 0 Comments




DANAU IMPIAN BELISI BELALANG
Oleh: Saras Hijrah

Di siang hari yang cukup panas, dua belalang Beli dan Beni sedang bersantai. Beni sang sepupu baru saja mengunjungi danau yang indah, udaranya sejuk, di pinggiran danau banyak rumput dan semak mengelilinginya,
“Udaranya sangat sejuk, pasti Kau betah bermain di sana, Beli. Kau jangan takut kelaparan karena danau itu seperti surga bagi kita, banyak makanan di depan mata kita.” ujar Beni.”
 “Baru sekali itu Aku menemukan danau yang begitu indah. Kujamin Kau akan menyukainya,” garansi Beni sambil berlalu tanpa memberi kesempatan Beli menanggapinya.
Seumur hidup Beli hanya tinggal di semak sekitar lapangan rumput. Beli memang belum pernah pergi jauh dari rumahnya. Ia hidup bersama ibu dan adiknya Nimfi yang masih kecil. Sepulang sekolah, ia harus membantu menjaga adiknya yang masih berbentuk nimfa agar tidak dimangsa oleh para musuh seperti  katak, serangga yang berukuran lebih besar dari belalang, dan beberapa jenis burung. Sedangkan ayah Beli sudah lama mati dimangsa burung Murai.
Spontan keinginannya untuk mengunjungi danau yang diceritakan Beli pun pupus.Dia menyimpan erat impiannya. Beli pun tersadar banyak tugas yang harus ia selesaikan hari itu. Ia bergegas melompat ke tanaman perdu dan mencari makan untuk adiknya.
 **
“Tenang, damai, indah. Tenang, damai, indah. Ayolah Beli, pergilah ke danau itu,” suara Beni teringang-ngiang di telinga Beli.Bruk, dan Beli terjatuh.
 “Ternyata Akubermimpi” ujar Beli lirih.
 Dikucek matanya danBeli berpikir mungkin ia harus mencoba pergi kesana. Tapi ia belum tahu arah ke danau itu. Keraguan mulai menghampiri Beli. Tiba-tiba ibunya masuk ke dalam kamarnya. Beli tersipu. Ibunya paham, ada sesuatu dengan anaknya.
“Ada apa, Nak?” Ibunya dengan lembut membelai kepala Beli. Ia menggeleng mencoba menenangkan Ibunya.
“Katakan saja, apa yang Kau inginkan. Sepertinya ada yang mengganjal. “ desak ibunya
.“Ibu, bolehkah aku berpetualang ke danau hijau yang pernah diceritakan Beni saudara kita?” tanya Beni.
Ibunya tersenyum. Ternyata hal ini yang diresahkan anak sulungnya.
 “Beli, pergilah. Sudah waktunya Kau melihat dunia lain di luar kampung kita ini. Apalagi besok mulai liburan sekolahmu. Kau butuh pengalaman agar dirimu makin kuat menjadi belalang dewasa.” tandas Ibunya.
Beli memeluk ibunya dan berkata
 “Benarkah, Bu? Ibu mengizinkan aku pergi kesana?” Ibunya mengangguk tanda setuju.
 Beli segera pergi ke rumah Beni namun, sampai di rumah Beni, sepi tidak ada satupun belalang yang nampak disana. Ia pun memutuskan untuk menunggu sepupunya pulang.
Sejam, dua jam, Beli menunggu dan tiba-tiba terdengar ada suara berdehem di dekat Beli. Spontan ia menengok asal suara itu. Seekor belalang sembah tua ternyata telah mengawasinya beberapa menit lalu.
“Apa yang Kau lakukan disini belalang muda? Apa Kau mencari sesuatu?”
 “Ya Paman, Aku sedang menunggu sepupuku Beni,” jawab Beli gugup.
“Ladang ini hampir terbakar kemarin. Aku minta semua serangga pergi dari sini termasuk Beni. Ternyata hari ini Kau datang. Pergilah, tak ada yang bisa Kau dapatkan disini,“ ujar belalang sembah itu.
Beli lemas, dengan langkah gontai, ia segera meninggalkan tempat yang pernah ditinggali sepupunya. Sebelum ia benar-benar berlalu dari tempat itu, belalang sembah itu memanggilnya.
“Hei anak muda, sepertinya aku pernah melihatmu. Apakah Kau anak dari Beno?” Beli sontak menengok. “Ya, Paman. Aku benar anak Beno. Dimana Paman kenal mendiang ayahku?” Beli tercengang. Belalang Tua itu kembali tertawa.
“Kau belum kenal aku ya? Aku Sembo. Kawanku banyak, anak muda. Kami biasa berpetualang bersama. Menempuh perjalanan panjang bersama. Suka duka bersama. Aku pernah berpetualang jauh sampai sebuah danau yang sangat indah. Rumput dan semak mengelilinginya. Udaranya sejuk.” ujar Paman Sembo.
Mendengar cerita itu, hati Beli berdenyut kencang. Danau impian yang akan ditujunya, sama dengan cerita paman itu.
 “Paman, bisakah Kau tunjukkan jalan ke arah danau yang Paman ceritakan itu?” tanya Beli. Ia makin tak sabar.
 “Anak muda ketahuilah danau itu sangat jauh letaknya dari sini. Dan banyak sekali rintangan menuju kesana. Belum lagi musuh siap mengintaimu. Apakah Kau siap? “ tanya Paman Sembo meragukan Beli.
Beli mencoba meyakinkan Paman Sembo dengan bersedia belajar pada belalang tua itu. Akhirnya Paman Sembo mengabulkan keinginan belalang muda itu. Ia berjanji akan mengajari Beli esok hari.
Beli sangat bersemangat hari ini,  ia segara melompat ke Bukit Tusam kediaman Paman Sembo. Sang Paman tak kalah senang karena ada belalang muda yang mau belajar kepadanya. Karena banyak didapatinya belalang muda yang angkuh dan kurang sopan. Namun, Sembo melihat hal berbeda pada Beli. Ia santun, dan semangat belajarnya tinggi. Ia ikuti semua nasihat sang paman dan mulai melatih kakinya agar luwes dalam melompat. Beli melatihnya tiap hari.
Sampai hari yang ditunggu tiba. Beli hampir tak bisa tidur semalam karena hari ini adalah peristiwa besar dalam hidupnya. Dia akan menikmati liburan sekolahnya namun di sisi lain dia harus meninggalkan ibu dan adiknya. Ibunya melepas dengan senyum dan mendoakan Beli akan sampai ke danau itu dan pulang dalam keadaan selamat. Paman Sembo tak disangka juga datang pagi itu.
 “Beruntung kau Beli, aku ada urusan di ladang yang nanti kau lewati. Aku bisa menemanimu sampai ladang itu. Selanjutnya, Kau akan berjuang seorang diri.” kata Paman Sembo. Beli tak menyangka, bantuan sudah didapat di awal perjalanannya.
Berangkatlah dua belalang berbeda generasi itu ke arah danau Impian Beli. Satu, dua ilalang tinggi, mereka lompati. Semak belukar, sawah, Padang rumput yang mulai menguning karena panasnya kemarau juga mereka lalui dengan suka cita. Pak Sembo teringat masa mudanya, berkelana, baik sendiri maupun berkelompok, sungguh menyenangkan. Hari itu pun menyenangkan baginya karena di sampingnya ada belalang muda yang kelak menjadi penerusnya. Belalang yang bersemangat dan tangguh melewati rintangan.
Hap, sampailah mereka di ladang tujuan akhir perjalanan Paman Sembo. Perintah Paman Sembo untuk tetap berhati-hati terhadap pemangsa dicatat dengan baik di benak Beli. Segera Beli melompat lagi. Ia tak ingin kehabisan waktu. Ia ingin segera sampai ke danau impiannya.
Sampai dia sebuah bukit, Beli berhenti. Kakinya terasa kaku, ia berpikir untuk istirahat. Sambil mengamati sekeliling, Beli melemaskan kakinya. Beberapa ujung rumput menjadi santapannya siang itu. Tiba-tiba terdengar suara, “Ngung-ngung” . Beli pikir ada pemangsa yang siap menerkamnya. Dadanya berdegup kencang. Saat makin jelas wujud asal suara itu, Beli tersenyum lega. Ternyata seekor lebah sedang terbang rendah ke arah Beli. Lebah itu tak mengganggunya, ia hanya hinggap untuk menghisap nektar bunga.
Beli pun melanjutkan sisa perjalanannya, dan sampai di jalan raya yang biasa dilewati manusia, dia berhenti. Beli menunggu sepi. Roda kendaraan manusia dapat dengan mudah menggilas tubuhnya. Hap, hap. Lompatan demi lompatan Beli lakukan kali ini dengan sangat hati-hati. Satu bukit lagi dan aku akan sampai batin Beli.
Dan sampailah Beli bukit terakhir. Dari puncak bukit itu terlihat jelas danau impiannya terbentang luas. Matanya terbelalak kagum dengan ciptaan Tuhannya. Danau ini benar-benar indah. Samar-samar ia mendengar suara katak mengorek, kumbang menggerak-gerakkan kaki belakangnya sehingga terdengar irama yang teratur, angin berhembus lembut seolah menyambut kedatangan Beli.
Beli segera menuju tepian danau dan melompat-lompat kegirangan merayakan keberhasilannya mencapai danau itu. Beberapa semut melihatnya dengan tertawa, namun semut-semut itu segera kembali melanjutkan pekerjaannya mengumpulkan makanan. Dari tepian danau, Beli dapat melihat kawanan ikan berkejaran, kepiting yang merangkak pelan menjauhi lubang di tanah, dan laba-laba yang sedang merapikan sarang yang baru dibuatnya. Beli melihat banyak hal baru yang belum pernah ia jumpai di kampungnya.
Setelah puas mengitari tepi danau, Beli pindah ke tengah semak yang sangat rapat. Dia butuh makan. Tapi dia ingat pesan Paman Sembo, untuk memilih daun yang agak tinggi agar bisa mengawasi sekitarnya tapi juga bukan di ujung daun agar tidak menarik burung untuk memangsanya.
Tak terasa, senja pun tiba. Ia putuskan untuk bermalam di batang sebuah pohon. Dan langit menggelap, tiba kawanan kunang-kunang di danau itu. Beli seakan melihat ratusan lampu kecil melayang, bak mendapatkan pertunjukan gratis di danau itu. Dan seketika Beli terlelap.
Langit telah berubah menjadi terang dan saatnya Beli kembali pulang ke rumah. Dalam hati ia berterima kasih pada Tuhan atas kesempatan indah dapat mengunjungi danau impiannya. Dan, hap, hap, lompatan demi lompatan Beli lakukan dengan percaya diri. Ia senang telah berhasil melewati jarak yang jauh, rintangan musuh, dan perangkap manusia. Bayangan akan rumahnya, ibunya, adiknya, Beni, dan Paman Sembo  hadir di pelupuk matanya. Ia tak sabar ingin bercerita seperti Beni bercerita danau impiannya dulu. Dan Beli pun telah siap ke petualangannya yang lain.
***


"Jadi, cita-cita Shahia apa?" tanyaku setelah merampungkan membaca cerita untuk anak-anak.

"Dokter bedah, Bun!" jawabnya lantang dan penuh keyakinan.

"Semoga Allah ijabah ya, Nak! Aaaamiiin ..."

"Aaamiiin ..," jawabnya.

"Jadi, supaya Shahia dapat meraih cita-cita, harus berusaha dan bersungguh-sungguhlah dalam mengejar cita-cita. Patuh dan hormati orang yang lebih tua dari kita. Dengarkan nasihat mereka yang sudah mempunyai pengalaman hidup lebih lama dari kita agar tiap kisah hidup dapat diambil pelajaran atau hikmahnya. Berusaha dan bersungguh-sungguhlah dalam mengejar cita-cita. Patuh dan hormati orang yang lebih tua dari kita. Dengarkan nasihat mereka yang sudah mempunyai pengalaman hidup lebih lama dari kita agar tiap kisah hidup dapat diambil pelajaran atau hikmahnya."

"Siap, Bunda!"


BUNDA BERKISAH PART #4 : KURI SI KURA-KURA

January 31, 2020 0 Comments


Bersyukurlah dengan apa yang ada pada diri kita. Allah pasti menciptakan yang terbaik untuk kita. Yang baik untuk orang lain belum tentu baik untuk kita, begitu juga sebaliknya.

"Bun, kita kok enggak punya mobil sih. Coba punya mobil, kalau hujan kan enggak kehujanan. Kalau panas, enggak kepanasan juga." Shahia suatu sore mengeluhkan hujan yang mengguyur tanah.

"Hmm, kita harus bersyukur, Nak. Apa saja yang Allah titipkan kepada kita, itu adalah amanah sekaligus rezeki. Jadi, kalau memang masih dititipin motor, ya bersyukur."

"Mau gak dengerin cerita tentang kura-kura yang bersyukur?" 

"Maaauuuu, Bun!"

"Oke!"

***

KURI SI KURA-KURA
Oleh: Yuli Rakhmawati
           

Beberapa hari lagi libur sekolah tiba, Kuri si kura-kura bersiap-siap untuk berlibur. Kali ini ia akan pergi ke rumah nenek.  Rumah nenek Kuri berada di hutan sebelah, yang dibatasi oleh ladang para petani dan tidak terlalu jauh jaraknya.  Ayah dan ibu Kuri tidak bisa mengantar ke rumah nenek,  karena tidak libur.
Bunyi ayam jago yang bersahut-sahutan pagi ini, membuat Kuri bergegas bangun. Ia bangun dengan bersemangat, karena hari ini Kuri akan berlibur ke rumah nenek. 
“Kuri ayo sarapan dulu, biar tidak lapar di tengah jalan,” kata sang ibu.
“Iya bu,” jawab Kuri
“Wah,  kamu bersemangat sekali pagi ini Nak,” sahut ayah Kuri.
“Iya Yah, aku sudah tidak sabar bertemu nenek, Kuri sudah kangen,” jawab Kuri.
Setelah menyelesaikan sarapannya, Kuri pun berpamitan kepada ayah dan ibunya. Diciumnya tangan ayah ibunya.
“Kuri berangkat ya,” kata Kuri, sambil  melambaikan tangan pada ayah dan ibunya.
“Hati-hati di jalan ya Nak,” jawab ayah dan ibu Kuri seraya membalas lambaian tangan Kuri.
Dengan hati yang riang Kuri melangkahkan kaki menuju rumah nenek. Kadang terdengar sayup-sayup nyanyian dari bibirnya. Kuri sengaja bernyanyi agar tidak mudah lelah dan perjalanan yang lama tidak terasa. Jalannya yang lambat,  membuat Kuri membutuhkan waktu lebih lama untuk sampai ke rumah nenek.  
Ketika lelah melanda, Kuri beristirahat sejenak di bawah pohon. Dia duduk-duduk sambil mengibas kibaskan daun kering untuk menghilangkan peluh. Sambil bersandar ia melihat sekeliling.
Dilihatnya Titi merpati yang terbang kesana kemari bersama teman-temannya. Ah, seandainya aku punya sayap, pasti aku akan sampai di rumah nenek dengan cepat, batin Kuri. Mengapa tuhan menciptakan jalanku lambat ya? Tuhan tidak adil, gerutu Kuri dalam hati.
Tanpa Kuri sadari, Pupu si kupu, menghampirinya.
“Hai Kuri, mau kemana?” tanya Pupu yang hinggap di bunga, tidak jauh dari  tempat Kuri.
“Eh Pupu, bikin kaget saja. Aku mau berlibur ke rumah nenek.”
“O … nenekmu yang rumahnya di hutan sana ya. Lalu mengapa engkau melamun?” tanya Pupu lagi.
“Iya Pupu. Aku tidak melamun, aku lelah, maka,  aku rehat dulu di sini. Enak kamu ya punya sayap, kalau kemana-mana bisa cepat,” jawab Kuri sedikit menggerutu. 
“Jangan mengeluh Kuri, kamu harus bersyukur dengan apa yang ada pada dirimu. Maaf Kuri aku tidak bisa menemanimu berbincang, aku harus mencari nectar lagi,” Kata Pupu sambil bersiap-siap untuk terbang.
“Hati-hati Kuri,” kata Pupu.
“Terima kasih Pupu,” jawab Kuri.
Tidak lama kemudian Kuri meneruskan perjalanannya. Matahari yang menyengat membuat Kuri merasa haus. Ia berjalan menuju sungai kecil yang ada di pinggir hutan. Setelah sampai di air yang dangkal, ia menjulurkan kepalanya dan meminum air sungai yang terasa segar.
Sedang asik-asiknya minum, ia mendengan suara air berkecipak.
“Kuri ya?” tanya Kiki si ikan sambil berusaha mendekat.
“Eh Kiki, iya, ini aku,” jawab Kuri sambil mendongakkan kepalanya.
“Tampaknya kamu kehausan, dari mana?”
“Dari rumah mau ke rumah nenek. Sebenarnya jarak rumah nenek tidak jauh, tapi karena jalanku pelan jadi terasa jauh dan melelahkan. Enak kamu ya Ki bisa berenang dengan cepat, kadang bisa melompat juga,” jawab Kuri mengeluh.
“Ah sudah, jangan mengeluh terus. Segera lanjutkan perjalananmu, agar tidak terlalu sore sampai di rumah nenek. Semangat Kuri!”  jawab Kiki si ikan sambil berenang ke tengah sungai.
“Terima kasih Kiki,” jawab Kuri setengah berteriak, karena Kiki si ikan sudah tidak terlihat.
Setelah hausnya hilang, Kuri meneruskan perjalanan ke rumah nenek. Selang beberapa saat kemudian, sawah para petani sudah terlihat. Itu menandakan, bahwa rumah nenek sudah dekat.
Pelan-pelan Kuri menyusuri pematang sawah. Sisa hujan semalam, meninggalkan jejak genangan air hampir di sepanjang pematang yang Kuri lalui. Padi yang ditanam pak tani tampak hijau, menghampar bak permadani. Kuri sangat senang memandangi hamparan padi yang menghijau. Di tepi sawah juga tumbuh pohon kelapa yang tinggi menjulang. Beberapa di antaranya berbuah sangat lebat.
“Kuri, Kuriii, kaukah itu, tunggu aku!”
Kuri menoleh kearah suara yang sangat dikenal. Ia berhenti sejenak untuk menunggu temannya.
“Haii … Dodo! Apa kabar?” jawab Kuri ketika teman yang memanggilnya sudah agak dekat.
“Baik Kuri. Apakah kamu mau ke rumah nenek? Nenek sudah menunggumu dari tadi,” jawab Dodo si kodok, yang tidak lain adalah teman bermain Kuri,  ketika di rumah nenek.
“Senang rasanya bertemu denganmu. Ya Do, aku mau ke rumah nenek. Sebenarnya aku sudah berangkat sejak tadi pagi, tapi, karena jalanku lambat, aku baru sampai sekarang,” kata Kuri sambil menunduk lesu.
“Ah, sudahlah yang penting kamu sudah sampai dengan selamat,” Kata Dodo si kodok berusaha menenangkan sahabatnya.
“Rasanya Tuhan tidak adil kepadaku. Aku iri dengan kamu dan teman-teman yang lain. Titi merpati bisa menjelajahi angkasa dengan mudah. Pupu si kupu bisa hinggap di setiap bunga dengan cepat. Kiki si ikan bebas berenang dan bermain air sesuka hatinya, dan kamu Do, bisa meloncat tinggi dengan ringan.  Kalian bisa kemana-mana dengan cepat.  Sedangkan aku, berlaripun tidak bisa.”
“Jangan berkecil hati Kuri, Tuhan menciptakan  makhluknya dengan segala kelebihan dan kekurangannya,” jawab Dodo si kodok.
Tidak terasa sampailah mereka di tepi sawah yang di tumbuhi pohon kelapa. Tiba-tiba, sebuah kelapa jatuh.
“Awas Kuri, cepat minggir!” seru Dodo yang melihat buah kelapa jatuh.
apia pa mau di kata, karena geraknya yang lamban, Kuri tidak sempat menghindar. Buah kelapa itu jatuh tepat di atas badannya. Dodo yang melihat sahabatnya tertimpa buah kelapa, menjerit-jerit khawatir. Dihampirinya Kuri yang tidak bergerak.
“Kuri …, kuriii, kamu baik-baik saja?” Tanya Dodo sambil menggoyang-goyangkan tubuh Kuri.
Agak lama Dodo menggoyang goyang tubuh Kuri, sambil memeriksa tubuh sahabatnya yang tertimpa kelapa. Tidak dijumpainya luka di tubuh Kuri, tapi Kuri tetap diam tidak bergerak. Melihat hal itu Dodo berinisiatif untuk memanggil kawan-kawannya yang lain.
“Dodo, apa yang kamu lakukan?” tanya kuri bingung melihat Dodo yang mondar mandir.
“Kuri, kamu tidak apa-apa?” tanya Dodo dengan raut muka yang bingung.
“Sedikit pusing, sepertinya ada benda berat yang menimpa tubuhku.”
“Tapi kamu tidak terluka kan?”
“Tidak, karena tempurungku sangat keras dan kuat, sehingga bisa melindungi tubuhku yang lain dari buah kelapa yang menimpaku.”
“Syukurlah kalau begitu. Eh, tunggu sebentar. Aku tahu sekarang, berarti Tuhan adil kepadamu Kuri.”
“Maksudmu Do?”
“Ah, masak kamu gak tau sih!”
Kuri menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil mengernyitkan dahi, karena dia tidak mengerti maksud Dodo.
“Kamu memang lambat berjalan, tapi Tuhan menciptakan perisai yang kuat di tubuhmu. Coba bayangkan kalau buah kelapa itu jatuh di tubuhku, atau teman-teman yang lain. Bisa-bisa kami terluka parah bahkan bisa mati!” jelas Dodo panjang lebar.
Setelah mendengar penjelasan Dodo. Kuri baru menyadari kelebihan yang dimilikinya. Yang selama ini tidak disadarinya.
“Kamu benar Do, aku yang kurang bersyukur,” kata Kuri dengan nada menyesal.
Sampai di rumah nenek, Kuri merasa senang dan menceritakan semua yang di alaminya kepada nenek. Esoknya Kuri mengundang teman-temannya untuk bermain bersama dan mencicipi makanan nenek yang lezat.
Sungguh liburan yang penuh arti bagi Kuri. Sejak saat itu Kuri berjanji akan tetap mensyukuri apapun yang ada pada dirinya. Belajar lebih giat, tidak mengeluh ketika membantu ayah ibu, serta tidak akan pernah iri dan membandingkan dengan teman-teman yang lain.
Banyak sekali yang ingin Kuri ceritakan, baik kepada ayah dan ibu, maupun teman-temannya di sekolah.


BUNDA BERKISAH PART #3 : CAMPING ALA KELUARGA KAMBING

January 31, 2020 0 Comments



CAMPING ALAKELUARGAKAMBING
Oleh: Desi Pramudiwati

Suatu sore yang cerah, keluargakambingyaituBapak, Ibu, Kakak, danAdikmerumput di lapangan. Sambil mengunyah, Kakakmemulai obrolan.
”Bapak, Ibu, teman-teman Kakak pada mau liburan. Ada yang mau ke Malang, ada yang mau ke Bandung, ada juga yang mau ke Semarang.”
Ibu memandang anak sulungnya. Ia tahu, Kakakingin sekali liburan seperti teman-temannya. Sejak liburan semester yang lalu, Kakaksudah mengutarakan keinginannya. Tetapi, tabungan Bapak dan Ibu masih belum cukup untuk membiayai liburan.
Ibu melirik kepada Bapak. Bapak pun menoleh ke Ibu. Lalu, ia menjawab,
”Ya nggak papa mereka liburan. Mungkin mereka keluarga kambing yang kaya.”
Jawaban Bapakterdengar santai. Tetapi, maksudnya tajam dan jelas. Seketika raut muka Kakakberubah sedih. Sudah sejak lama ia memimpikan liburan keluarga seperti yang teman-temannya lakukan di kala libur sekolah.
Ibumerasa sangat iba melihat kekecewaan anaknya. Ia berusaha untuk menenangkan anaknya itu dengan memberi sebuah ide.
”Hmmm... bagaimana kalau kita camping saja. Tidak usah jauh-jauh. Di pinggiran sungai Progo sana,” kata Ibu sembari menunjuk ke arah barat, arah di mana sungai Progo terletak.
”Wah … asyiiiiik. Pasti seru!” teriak Adik girang.
Kakak pun berubah mimik mukanya. Kali ini, ia tampak bergembira. Namun, ia segera mengalihkan pandangan ke Bapak. Ia tahu, segala rencana dari Ibu tak akan pernah terjadi tanpa persetujuan Bapak.
”Bagaimana Bapak?” tanya Ibu penuh harap.
Setelah menelan rumput-rumput yang dikunyahnya, Bapak menjawab,
”Ya…boleh. Asal jangan pas hujan saja. Air sungai bisa naik.”
”Asyiiiiiiiiik,” seru Adikdan Kakakhampir berbarengan. Mereka lega bapaknyamengizinkan.
***
Pada hari yang sudah ditentukan, Kakak dan Adik bangun pagi-pagi sekali. Mereka tidak ingin rencana camping ke pinggir sungai Progo berantakan hanya karena mereka bangun kesiangan. Mereka pun segera mandi lalu menyantap rumput yang sudah disiapkan Ibuuntuk sarapan.
Tepat pukul delapan pagi, Bapak, Ibu, Kakak, dan Adiksudah siap. Kakak dan Adikmendapat tugas membawa bekal rumput untuk makan siang, sebab mereka belum tahu apakah mereka bisa menemukan rumput dan dedaunan dengan mudah di sana. Sedangkan Bapak dan Ibumenggotong beberapa potong kayu untuk membuat kandang.
Dengan beriring-iringan, mereka melangkahkan kaki ke arah barat. Mereka berjalan menuju tepian sungai Progo yang berjarak dua kilometer dari rumah mereka. Meskipun harus berjalan kaki cukup jauh, Kakak dan Adiksangat bersemangat. Bagi mereka, ini adalah pengalaman pertama yang sangat mengasyikkan.
Sepanjang perjalanan, mereka menikmati pemandangan yang sangat indah. Langit biru cerah, hamparan sawah berwarna hijau yang sangat luas, dan deretan pengunungan Menoreh yang berdiri gagah. Sesekali mereka juga bersiul-siul memanggil burung-burung yang beterbangan.
Tanpa terasa, gemericik air sungai Progo sudah mereka dengar. Kakak dan Adiksenang sekali. Akhirnya mereka sampai di tempat yang dituju. Mereka melempar kantong rumput bekal makan siang mereka sambil berlari-lari mendekat ke sungai.
”Wah..airnya jernih sekali ya!” seru Kakak senang.
”Iya..Adik pengen berenang!” seru Adik tak kalah riang.
”Heeeiiii...kita harus bikin kandang dulu,” kata Ibuberusaha menyetop keinginan dua anaknya untuk langsung terjun ke sungai.
Kedua anak kambing itu pun menurut. Mereka segera membantu Bapak dan Ibuyang sudah mulai menegakkan beberapa potong kayu untuk membuat kandang. Mereka membuat kandang di bawah pohon jati yang besar. Kata Bapak, supaya mereka tidak kehujanan.
”Kakak, Adik, biar Bapak sama Ibu saja yang bikin kandang. Kalian kumpulkan daun-daun yang agak lebar untuk atap,” perintah Bapak.
”Baik Pak,” jawab Kakak. Ia pun mulai memunguti daun-daun jati kering yang berukuran lebar. Adik mengikuti apa yang dilakukan oleh kakaknya.
Dalam waktu yang tidak lama, daun-daun sudah terkumpul. Mereka menyerahkan daun-daun itu kepada Bapak, tepat di saat tiang-tiang kandang sudah berhasil ditegakkan.
”Tinggal kita pasang atapnya saja ini,” ujar Bapak lega.
Mereka pun bekerja sama meletakkan daun-daun di bagian atas kandang yang telah mereka buat. Pada pukul sebelas siang, mereka sudah selesai membuat kandang untuk tempat tinggal selama camping.
”Alhamdulillah sudah selesai, ayo kita makan siang,” ucap Ibusambil mengambil tempat duduk di dalam kandang.
”Tapi Adik belum lapar. Adik mau berenang saja,” kata Adik yang sedari tadi sudah menahan keinginannya untuk bermain air.
”Kakak juga. Sudah pengen sekali berenang,” ujar Kakak menimpali.
”Ya sudah. Ayo Bapak temani kalian ke sungai. Ibu istirahat saja di sini,” kata Bapak.
Bapak, Kakak, dan Adikpun menuju ke sungai. Raut wajah Kakak menampakkan ekspresi gembira yang tak terkira. Ia berenang-renang di bagian tengah sungai sembari menyiba-nyibak air sungai yang jernih dan segar.
Sementara itu, Adik yang belum terlalu mahir berenang memilih untuk berada di pinggir saja. Ia berenang-renang sebisanya. Sesekali ia berusaha menghindari semprotan air dari kakaknya. Lalu, mereka semua tertawa terbahak-bahak. Sungguh bahagia suasana hati mereka.
Tak terasa sudah lebih dari dua jam berlalu. Ibuberanjak dari kandang dan mendekat ke sungai.
”Ayo sudah berenangnya. Sudah lama kalian bermain air,” teriaknya.
Bapak pun mengajak kedua anaknya untuk menyudahi renangnya. Meskipun sebenarnya enggan, kedua anak kambing itu mengikuti perintah Bapaknya. Mereka naik ke tepian sungai dan mengeringkan badan mereka sambil menyantap makan siang rumput.
Setelah cukup kenyang, Bapak, Ibu, Kakak dan Adikmemutuskan untuk beristirahat. Mereka tidur siang dengan sangat nyenyak. Mereka sangat lelah setelah berjalan, membuat kandang, dan berenang.

***
Hari sudah sangat sore ketika Ibu terbangun, diikuti oleh Bapak, Kakakdan terakhir Adik. Langit sudah menunjukkan semburat jingga.
”Wah sebentar lagi sudah gelap,” ujar Bapak.
”Iya. Kita harus segera mencari dedaunan untuk makan malam,” kata Ibu.
”Kita cari dedaunan dekat sini saja. Tidak usah jauh-jauh,” lanjut Bapak lagi.
Mereka pun bergerak, mengumpulkan dedaunan di sekitar kandang yang sekiranya bisa dimakan. Ada daun jati muda, daun pohon munggur, daun bunga sepatu dan sedikit rumput ilalang berhasil mereka kumpulkan.
Setelah itu, Bapak mengajak Kakak dan Adik untuk membuat api unggun.
”Ayo siapa yang mau bantu Bapak bikin api unggun?” tanya Bapak sambil mengumpulkan ranting-ranting pohon jati.
”Wah, api unggun itu apa Pak?” tanya Adik.
”Api unggun itu kayu-kayu yang disusun berbentuk segitiga lalu dibakar,” ujar Kakak antusias sembari ikut mengumpulkan ranting-ranting.
Setelah ranting-ranting terkumpul, Bapak dan Kakak menyusun ranting-ranting itu menjadi berbentuk seperti piramid. Lalu, Bapakmenyalakan korek dan membakar ranting-ranting itu. Jadilah api unggun yang sangat indah. Bapak, Ibu, Kakak, dan Adikduduk mengelilingi api unggun itu. Tubuh mereka terasa hangat, begitu juga dengan hati mereka.
”Ayo kita menyanyi,” ajak Kakak.
”Wah..ide bagus. Menyanyi apa ya baiknya?” sambut Ibu dengan antusias.
”Libur telah tiba!” sahut Kakak.
Bapak, Ibu, Kakak, dan Adik pun menyanyikan lagu libur telah tiba  dengan hati yang gembira. Malam itu mereka habiskan dengan bercerita, bercanda dan bernyanyi bersama sembari menikmati hangatnya api unggun. Tak lupa, pada kesempatan itu Kakakmengucapkan terima kasih kepada Bapak dan Ibu yang telah mewujudkan keinginannya untuk liburan bersama. Meskipun sederhana, meskipun tidak ke luar kota, liburan kali sungguh bermakna baginya.

Liburtelahtiba
liburtelahtiba
Hore,Hore,Hore
Simpanlah tas dan bukumu
Lupakan keluh kesahmu
Libur telah tiba,
libur telah tiba
Hatiku gembira!

***

Anak-anak masih sangat menyukai cerita dongeng fabel, yaitu cerita yang tokohnya adalah binatang namun memiliki kebiasaan seperti yang dilakukan manusia, seperti berbicara dan sebagainya. 

Setiap selesai bercerita, selalu aku ajak mereka untuk memahami pesan moral apa yang bisa dipetik dari cerita tersebut. Seperti cerita kali ini, tentang camping keluarga kambing, anak-anak menjadi paham bahwa liburan tidak harus mahal. Kegiatan sederhana yang dilakukan bersama-sama dengan keluarga bisa menjadi alternatif untuk mengisi liburan.