Friday, January 31, 2020

BUNDA BERKISAH PART #5 : DANAU IMPIAN BELISI

January 31, 2020 0 Comments




DANAU IMPIAN BELISI BELALANG
Oleh: Saras Hijrah

Di siang hari yang cukup panas, dua belalang Beli dan Beni sedang bersantai. Beni sang sepupu baru saja mengunjungi danau yang indah, udaranya sejuk, di pinggiran danau banyak rumput dan semak mengelilinginya,
“Udaranya sangat sejuk, pasti Kau betah bermain di sana, Beli. Kau jangan takut kelaparan karena danau itu seperti surga bagi kita, banyak makanan di depan mata kita.” ujar Beni.”
 “Baru sekali itu Aku menemukan danau yang begitu indah. Kujamin Kau akan menyukainya,” garansi Beni sambil berlalu tanpa memberi kesempatan Beli menanggapinya.
Seumur hidup Beli hanya tinggal di semak sekitar lapangan rumput. Beli memang belum pernah pergi jauh dari rumahnya. Ia hidup bersama ibu dan adiknya Nimfi yang masih kecil. Sepulang sekolah, ia harus membantu menjaga adiknya yang masih berbentuk nimfa agar tidak dimangsa oleh para musuh seperti  katak, serangga yang berukuran lebih besar dari belalang, dan beberapa jenis burung. Sedangkan ayah Beli sudah lama mati dimangsa burung Murai.
Spontan keinginannya untuk mengunjungi danau yang diceritakan Beli pun pupus.Dia menyimpan erat impiannya. Beli pun tersadar banyak tugas yang harus ia selesaikan hari itu. Ia bergegas melompat ke tanaman perdu dan mencari makan untuk adiknya.
 **
“Tenang, damai, indah. Tenang, damai, indah. Ayolah Beli, pergilah ke danau itu,” suara Beni teringang-ngiang di telinga Beli.Bruk, dan Beli terjatuh.
 “Ternyata Akubermimpi” ujar Beli lirih.
 Dikucek matanya danBeli berpikir mungkin ia harus mencoba pergi kesana. Tapi ia belum tahu arah ke danau itu. Keraguan mulai menghampiri Beli. Tiba-tiba ibunya masuk ke dalam kamarnya. Beli tersipu. Ibunya paham, ada sesuatu dengan anaknya.
“Ada apa, Nak?” Ibunya dengan lembut membelai kepala Beli. Ia menggeleng mencoba menenangkan Ibunya.
“Katakan saja, apa yang Kau inginkan. Sepertinya ada yang mengganjal. “ desak ibunya
.“Ibu, bolehkah aku berpetualang ke danau hijau yang pernah diceritakan Beni saudara kita?” tanya Beni.
Ibunya tersenyum. Ternyata hal ini yang diresahkan anak sulungnya.
 “Beli, pergilah. Sudah waktunya Kau melihat dunia lain di luar kampung kita ini. Apalagi besok mulai liburan sekolahmu. Kau butuh pengalaman agar dirimu makin kuat menjadi belalang dewasa.” tandas Ibunya.
Beli memeluk ibunya dan berkata
 “Benarkah, Bu? Ibu mengizinkan aku pergi kesana?” Ibunya mengangguk tanda setuju.
 Beli segera pergi ke rumah Beni namun, sampai di rumah Beni, sepi tidak ada satupun belalang yang nampak disana. Ia pun memutuskan untuk menunggu sepupunya pulang.
Sejam, dua jam, Beli menunggu dan tiba-tiba terdengar ada suara berdehem di dekat Beli. Spontan ia menengok asal suara itu. Seekor belalang sembah tua ternyata telah mengawasinya beberapa menit lalu.
“Apa yang Kau lakukan disini belalang muda? Apa Kau mencari sesuatu?”
 “Ya Paman, Aku sedang menunggu sepupuku Beni,” jawab Beli gugup.
“Ladang ini hampir terbakar kemarin. Aku minta semua serangga pergi dari sini termasuk Beni. Ternyata hari ini Kau datang. Pergilah, tak ada yang bisa Kau dapatkan disini,“ ujar belalang sembah itu.
Beli lemas, dengan langkah gontai, ia segera meninggalkan tempat yang pernah ditinggali sepupunya. Sebelum ia benar-benar berlalu dari tempat itu, belalang sembah itu memanggilnya.
“Hei anak muda, sepertinya aku pernah melihatmu. Apakah Kau anak dari Beno?” Beli sontak menengok. “Ya, Paman. Aku benar anak Beno. Dimana Paman kenal mendiang ayahku?” Beli tercengang. Belalang Tua itu kembali tertawa.
“Kau belum kenal aku ya? Aku Sembo. Kawanku banyak, anak muda. Kami biasa berpetualang bersama. Menempuh perjalanan panjang bersama. Suka duka bersama. Aku pernah berpetualang jauh sampai sebuah danau yang sangat indah. Rumput dan semak mengelilinginya. Udaranya sejuk.” ujar Paman Sembo.
Mendengar cerita itu, hati Beli berdenyut kencang. Danau impian yang akan ditujunya, sama dengan cerita paman itu.
 “Paman, bisakah Kau tunjukkan jalan ke arah danau yang Paman ceritakan itu?” tanya Beli. Ia makin tak sabar.
 “Anak muda ketahuilah danau itu sangat jauh letaknya dari sini. Dan banyak sekali rintangan menuju kesana. Belum lagi musuh siap mengintaimu. Apakah Kau siap? “ tanya Paman Sembo meragukan Beli.
Beli mencoba meyakinkan Paman Sembo dengan bersedia belajar pada belalang tua itu. Akhirnya Paman Sembo mengabulkan keinginan belalang muda itu. Ia berjanji akan mengajari Beli esok hari.
Beli sangat bersemangat hari ini,  ia segara melompat ke Bukit Tusam kediaman Paman Sembo. Sang Paman tak kalah senang karena ada belalang muda yang mau belajar kepadanya. Karena banyak didapatinya belalang muda yang angkuh dan kurang sopan. Namun, Sembo melihat hal berbeda pada Beli. Ia santun, dan semangat belajarnya tinggi. Ia ikuti semua nasihat sang paman dan mulai melatih kakinya agar luwes dalam melompat. Beli melatihnya tiap hari.
Sampai hari yang ditunggu tiba. Beli hampir tak bisa tidur semalam karena hari ini adalah peristiwa besar dalam hidupnya. Dia akan menikmati liburan sekolahnya namun di sisi lain dia harus meninggalkan ibu dan adiknya. Ibunya melepas dengan senyum dan mendoakan Beli akan sampai ke danau itu dan pulang dalam keadaan selamat. Paman Sembo tak disangka juga datang pagi itu.
 “Beruntung kau Beli, aku ada urusan di ladang yang nanti kau lewati. Aku bisa menemanimu sampai ladang itu. Selanjutnya, Kau akan berjuang seorang diri.” kata Paman Sembo. Beli tak menyangka, bantuan sudah didapat di awal perjalanannya.
Berangkatlah dua belalang berbeda generasi itu ke arah danau Impian Beli. Satu, dua ilalang tinggi, mereka lompati. Semak belukar, sawah, Padang rumput yang mulai menguning karena panasnya kemarau juga mereka lalui dengan suka cita. Pak Sembo teringat masa mudanya, berkelana, baik sendiri maupun berkelompok, sungguh menyenangkan. Hari itu pun menyenangkan baginya karena di sampingnya ada belalang muda yang kelak menjadi penerusnya. Belalang yang bersemangat dan tangguh melewati rintangan.
Hap, sampailah mereka di ladang tujuan akhir perjalanan Paman Sembo. Perintah Paman Sembo untuk tetap berhati-hati terhadap pemangsa dicatat dengan baik di benak Beli. Segera Beli melompat lagi. Ia tak ingin kehabisan waktu. Ia ingin segera sampai ke danau impiannya.
Sampai dia sebuah bukit, Beli berhenti. Kakinya terasa kaku, ia berpikir untuk istirahat. Sambil mengamati sekeliling, Beli melemaskan kakinya. Beberapa ujung rumput menjadi santapannya siang itu. Tiba-tiba terdengar suara, “Ngung-ngung” . Beli pikir ada pemangsa yang siap menerkamnya. Dadanya berdegup kencang. Saat makin jelas wujud asal suara itu, Beli tersenyum lega. Ternyata seekor lebah sedang terbang rendah ke arah Beli. Lebah itu tak mengganggunya, ia hanya hinggap untuk menghisap nektar bunga.
Beli pun melanjutkan sisa perjalanannya, dan sampai di jalan raya yang biasa dilewati manusia, dia berhenti. Beli menunggu sepi. Roda kendaraan manusia dapat dengan mudah menggilas tubuhnya. Hap, hap. Lompatan demi lompatan Beli lakukan kali ini dengan sangat hati-hati. Satu bukit lagi dan aku akan sampai batin Beli.
Dan sampailah Beli bukit terakhir. Dari puncak bukit itu terlihat jelas danau impiannya terbentang luas. Matanya terbelalak kagum dengan ciptaan Tuhannya. Danau ini benar-benar indah. Samar-samar ia mendengar suara katak mengorek, kumbang menggerak-gerakkan kaki belakangnya sehingga terdengar irama yang teratur, angin berhembus lembut seolah menyambut kedatangan Beli.
Beli segera menuju tepian danau dan melompat-lompat kegirangan merayakan keberhasilannya mencapai danau itu. Beberapa semut melihatnya dengan tertawa, namun semut-semut itu segera kembali melanjutkan pekerjaannya mengumpulkan makanan. Dari tepian danau, Beli dapat melihat kawanan ikan berkejaran, kepiting yang merangkak pelan menjauhi lubang di tanah, dan laba-laba yang sedang merapikan sarang yang baru dibuatnya. Beli melihat banyak hal baru yang belum pernah ia jumpai di kampungnya.
Setelah puas mengitari tepi danau, Beli pindah ke tengah semak yang sangat rapat. Dia butuh makan. Tapi dia ingat pesan Paman Sembo, untuk memilih daun yang agak tinggi agar bisa mengawasi sekitarnya tapi juga bukan di ujung daun agar tidak menarik burung untuk memangsanya.
Tak terasa, senja pun tiba. Ia putuskan untuk bermalam di batang sebuah pohon. Dan langit menggelap, tiba kawanan kunang-kunang di danau itu. Beli seakan melihat ratusan lampu kecil melayang, bak mendapatkan pertunjukan gratis di danau itu. Dan seketika Beli terlelap.
Langit telah berubah menjadi terang dan saatnya Beli kembali pulang ke rumah. Dalam hati ia berterima kasih pada Tuhan atas kesempatan indah dapat mengunjungi danau impiannya. Dan, hap, hap, lompatan demi lompatan Beli lakukan dengan percaya diri. Ia senang telah berhasil melewati jarak yang jauh, rintangan musuh, dan perangkap manusia. Bayangan akan rumahnya, ibunya, adiknya, Beni, dan Paman Sembo  hadir di pelupuk matanya. Ia tak sabar ingin bercerita seperti Beni bercerita danau impiannya dulu. Dan Beli pun telah siap ke petualangannya yang lain.
***


"Jadi, cita-cita Shahia apa?" tanyaku setelah merampungkan membaca cerita untuk anak-anak.

"Dokter bedah, Bun!" jawabnya lantang dan penuh keyakinan.

"Semoga Allah ijabah ya, Nak! Aaaamiiin ..."

"Aaamiiin ..," jawabnya.

"Jadi, supaya Shahia dapat meraih cita-cita, harus berusaha dan bersungguh-sungguhlah dalam mengejar cita-cita. Patuh dan hormati orang yang lebih tua dari kita. Dengarkan nasihat mereka yang sudah mempunyai pengalaman hidup lebih lama dari kita agar tiap kisah hidup dapat diambil pelajaran atau hikmahnya. Berusaha dan bersungguh-sungguhlah dalam mengejar cita-cita. Patuh dan hormati orang yang lebih tua dari kita. Dengarkan nasihat mereka yang sudah mempunyai pengalaman hidup lebih lama dari kita agar tiap kisah hidup dapat diambil pelajaran atau hikmahnya."

"Siap, Bunda!"


BUNDA BERKISAH PART #4 : KURI SI KURA-KURA

January 31, 2020 0 Comments


Bersyukurlah dengan apa yang ada pada diri kita. Allah pasti menciptakan yang terbaik untuk kita. Yang baik untuk orang lain belum tentu baik untuk kita, begitu juga sebaliknya.

"Bun, kita kok enggak punya mobil sih. Coba punya mobil, kalau hujan kan enggak kehujanan. Kalau panas, enggak kepanasan juga." Shahia suatu sore mengeluhkan hujan yang mengguyur tanah.

"Hmm, kita harus bersyukur, Nak. Apa saja yang Allah titipkan kepada kita, itu adalah amanah sekaligus rezeki. Jadi, kalau memang masih dititipin motor, ya bersyukur."

"Mau gak dengerin cerita tentang kura-kura yang bersyukur?" 

"Maaauuuu, Bun!"

"Oke!"

***

KURI SI KURA-KURA
Oleh: Yuli Rakhmawati
           

Beberapa hari lagi libur sekolah tiba, Kuri si kura-kura bersiap-siap untuk berlibur. Kali ini ia akan pergi ke rumah nenek.  Rumah nenek Kuri berada di hutan sebelah, yang dibatasi oleh ladang para petani dan tidak terlalu jauh jaraknya.  Ayah dan ibu Kuri tidak bisa mengantar ke rumah nenek,  karena tidak libur.
Bunyi ayam jago yang bersahut-sahutan pagi ini, membuat Kuri bergegas bangun. Ia bangun dengan bersemangat, karena hari ini Kuri akan berlibur ke rumah nenek. 
“Kuri ayo sarapan dulu, biar tidak lapar di tengah jalan,” kata sang ibu.
“Iya bu,” jawab Kuri
“Wah,  kamu bersemangat sekali pagi ini Nak,” sahut ayah Kuri.
“Iya Yah, aku sudah tidak sabar bertemu nenek, Kuri sudah kangen,” jawab Kuri.
Setelah menyelesaikan sarapannya, Kuri pun berpamitan kepada ayah dan ibunya. Diciumnya tangan ayah ibunya.
“Kuri berangkat ya,” kata Kuri, sambil  melambaikan tangan pada ayah dan ibunya.
“Hati-hati di jalan ya Nak,” jawab ayah dan ibu Kuri seraya membalas lambaian tangan Kuri.
Dengan hati yang riang Kuri melangkahkan kaki menuju rumah nenek. Kadang terdengar sayup-sayup nyanyian dari bibirnya. Kuri sengaja bernyanyi agar tidak mudah lelah dan perjalanan yang lama tidak terasa. Jalannya yang lambat,  membuat Kuri membutuhkan waktu lebih lama untuk sampai ke rumah nenek.  
Ketika lelah melanda, Kuri beristirahat sejenak di bawah pohon. Dia duduk-duduk sambil mengibas kibaskan daun kering untuk menghilangkan peluh. Sambil bersandar ia melihat sekeliling.
Dilihatnya Titi merpati yang terbang kesana kemari bersama teman-temannya. Ah, seandainya aku punya sayap, pasti aku akan sampai di rumah nenek dengan cepat, batin Kuri. Mengapa tuhan menciptakan jalanku lambat ya? Tuhan tidak adil, gerutu Kuri dalam hati.
Tanpa Kuri sadari, Pupu si kupu, menghampirinya.
“Hai Kuri, mau kemana?” tanya Pupu yang hinggap di bunga, tidak jauh dari  tempat Kuri.
“Eh Pupu, bikin kaget saja. Aku mau berlibur ke rumah nenek.”
“O … nenekmu yang rumahnya di hutan sana ya. Lalu mengapa engkau melamun?” tanya Pupu lagi.
“Iya Pupu. Aku tidak melamun, aku lelah, maka,  aku rehat dulu di sini. Enak kamu ya punya sayap, kalau kemana-mana bisa cepat,” jawab Kuri sedikit menggerutu. 
“Jangan mengeluh Kuri, kamu harus bersyukur dengan apa yang ada pada dirimu. Maaf Kuri aku tidak bisa menemanimu berbincang, aku harus mencari nectar lagi,” Kata Pupu sambil bersiap-siap untuk terbang.
“Hati-hati Kuri,” kata Pupu.
“Terima kasih Pupu,” jawab Kuri.
Tidak lama kemudian Kuri meneruskan perjalanannya. Matahari yang menyengat membuat Kuri merasa haus. Ia berjalan menuju sungai kecil yang ada di pinggir hutan. Setelah sampai di air yang dangkal, ia menjulurkan kepalanya dan meminum air sungai yang terasa segar.
Sedang asik-asiknya minum, ia mendengan suara air berkecipak.
“Kuri ya?” tanya Kiki si ikan sambil berusaha mendekat.
“Eh Kiki, iya, ini aku,” jawab Kuri sambil mendongakkan kepalanya.
“Tampaknya kamu kehausan, dari mana?”
“Dari rumah mau ke rumah nenek. Sebenarnya jarak rumah nenek tidak jauh, tapi karena jalanku pelan jadi terasa jauh dan melelahkan. Enak kamu ya Ki bisa berenang dengan cepat, kadang bisa melompat juga,” jawab Kuri mengeluh.
“Ah sudah, jangan mengeluh terus. Segera lanjutkan perjalananmu, agar tidak terlalu sore sampai di rumah nenek. Semangat Kuri!”  jawab Kiki si ikan sambil berenang ke tengah sungai.
“Terima kasih Kiki,” jawab Kuri setengah berteriak, karena Kiki si ikan sudah tidak terlihat.
Setelah hausnya hilang, Kuri meneruskan perjalanan ke rumah nenek. Selang beberapa saat kemudian, sawah para petani sudah terlihat. Itu menandakan, bahwa rumah nenek sudah dekat.
Pelan-pelan Kuri menyusuri pematang sawah. Sisa hujan semalam, meninggalkan jejak genangan air hampir di sepanjang pematang yang Kuri lalui. Padi yang ditanam pak tani tampak hijau, menghampar bak permadani. Kuri sangat senang memandangi hamparan padi yang menghijau. Di tepi sawah juga tumbuh pohon kelapa yang tinggi menjulang. Beberapa di antaranya berbuah sangat lebat.
“Kuri, Kuriii, kaukah itu, tunggu aku!”
Kuri menoleh kearah suara yang sangat dikenal. Ia berhenti sejenak untuk menunggu temannya.
“Haii … Dodo! Apa kabar?” jawab Kuri ketika teman yang memanggilnya sudah agak dekat.
“Baik Kuri. Apakah kamu mau ke rumah nenek? Nenek sudah menunggumu dari tadi,” jawab Dodo si kodok, yang tidak lain adalah teman bermain Kuri,  ketika di rumah nenek.
“Senang rasanya bertemu denganmu. Ya Do, aku mau ke rumah nenek. Sebenarnya aku sudah berangkat sejak tadi pagi, tapi, karena jalanku lambat, aku baru sampai sekarang,” kata Kuri sambil menunduk lesu.
“Ah, sudahlah yang penting kamu sudah sampai dengan selamat,” Kata Dodo si kodok berusaha menenangkan sahabatnya.
“Rasanya Tuhan tidak adil kepadaku. Aku iri dengan kamu dan teman-teman yang lain. Titi merpati bisa menjelajahi angkasa dengan mudah. Pupu si kupu bisa hinggap di setiap bunga dengan cepat. Kiki si ikan bebas berenang dan bermain air sesuka hatinya, dan kamu Do, bisa meloncat tinggi dengan ringan.  Kalian bisa kemana-mana dengan cepat.  Sedangkan aku, berlaripun tidak bisa.”
“Jangan berkecil hati Kuri, Tuhan menciptakan  makhluknya dengan segala kelebihan dan kekurangannya,” jawab Dodo si kodok.
Tidak terasa sampailah mereka di tepi sawah yang di tumbuhi pohon kelapa. Tiba-tiba, sebuah kelapa jatuh.
“Awas Kuri, cepat minggir!” seru Dodo yang melihat buah kelapa jatuh.
apia pa mau di kata, karena geraknya yang lamban, Kuri tidak sempat menghindar. Buah kelapa itu jatuh tepat di atas badannya. Dodo yang melihat sahabatnya tertimpa buah kelapa, menjerit-jerit khawatir. Dihampirinya Kuri yang tidak bergerak.
“Kuri …, kuriii, kamu baik-baik saja?” Tanya Dodo sambil menggoyang-goyangkan tubuh Kuri.
Agak lama Dodo menggoyang goyang tubuh Kuri, sambil memeriksa tubuh sahabatnya yang tertimpa kelapa. Tidak dijumpainya luka di tubuh Kuri, tapi Kuri tetap diam tidak bergerak. Melihat hal itu Dodo berinisiatif untuk memanggil kawan-kawannya yang lain.
“Dodo, apa yang kamu lakukan?” tanya kuri bingung melihat Dodo yang mondar mandir.
“Kuri, kamu tidak apa-apa?” tanya Dodo dengan raut muka yang bingung.
“Sedikit pusing, sepertinya ada benda berat yang menimpa tubuhku.”
“Tapi kamu tidak terluka kan?”
“Tidak, karena tempurungku sangat keras dan kuat, sehingga bisa melindungi tubuhku yang lain dari buah kelapa yang menimpaku.”
“Syukurlah kalau begitu. Eh, tunggu sebentar. Aku tahu sekarang, berarti Tuhan adil kepadamu Kuri.”
“Maksudmu Do?”
“Ah, masak kamu gak tau sih!”
Kuri menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil mengernyitkan dahi, karena dia tidak mengerti maksud Dodo.
“Kamu memang lambat berjalan, tapi Tuhan menciptakan perisai yang kuat di tubuhmu. Coba bayangkan kalau buah kelapa itu jatuh di tubuhku, atau teman-teman yang lain. Bisa-bisa kami terluka parah bahkan bisa mati!” jelas Dodo panjang lebar.
Setelah mendengar penjelasan Dodo. Kuri baru menyadari kelebihan yang dimilikinya. Yang selama ini tidak disadarinya.
“Kamu benar Do, aku yang kurang bersyukur,” kata Kuri dengan nada menyesal.
Sampai di rumah nenek, Kuri merasa senang dan menceritakan semua yang di alaminya kepada nenek. Esoknya Kuri mengundang teman-temannya untuk bermain bersama dan mencicipi makanan nenek yang lezat.
Sungguh liburan yang penuh arti bagi Kuri. Sejak saat itu Kuri berjanji akan tetap mensyukuri apapun yang ada pada dirinya. Belajar lebih giat, tidak mengeluh ketika membantu ayah ibu, serta tidak akan pernah iri dan membandingkan dengan teman-teman yang lain.
Banyak sekali yang ingin Kuri ceritakan, baik kepada ayah dan ibu, maupun teman-temannya di sekolah.


BUNDA BERKISAH PART #3 : CAMPING ALA KELUARGA KAMBING

January 31, 2020 0 Comments



CAMPING ALAKELUARGAKAMBING
Oleh: Desi Pramudiwati

Suatu sore yang cerah, keluargakambingyaituBapak, Ibu, Kakak, danAdikmerumput di lapangan. Sambil mengunyah, Kakakmemulai obrolan.
”Bapak, Ibu, teman-teman Kakak pada mau liburan. Ada yang mau ke Malang, ada yang mau ke Bandung, ada juga yang mau ke Semarang.”
Ibu memandang anak sulungnya. Ia tahu, Kakakingin sekali liburan seperti teman-temannya. Sejak liburan semester yang lalu, Kakaksudah mengutarakan keinginannya. Tetapi, tabungan Bapak dan Ibu masih belum cukup untuk membiayai liburan.
Ibu melirik kepada Bapak. Bapak pun menoleh ke Ibu. Lalu, ia menjawab,
”Ya nggak papa mereka liburan. Mungkin mereka keluarga kambing yang kaya.”
Jawaban Bapakterdengar santai. Tetapi, maksudnya tajam dan jelas. Seketika raut muka Kakakberubah sedih. Sudah sejak lama ia memimpikan liburan keluarga seperti yang teman-temannya lakukan di kala libur sekolah.
Ibumerasa sangat iba melihat kekecewaan anaknya. Ia berusaha untuk menenangkan anaknya itu dengan memberi sebuah ide.
”Hmmm... bagaimana kalau kita camping saja. Tidak usah jauh-jauh. Di pinggiran sungai Progo sana,” kata Ibu sembari menunjuk ke arah barat, arah di mana sungai Progo terletak.
”Wah … asyiiiiik. Pasti seru!” teriak Adik girang.
Kakak pun berubah mimik mukanya. Kali ini, ia tampak bergembira. Namun, ia segera mengalihkan pandangan ke Bapak. Ia tahu, segala rencana dari Ibu tak akan pernah terjadi tanpa persetujuan Bapak.
”Bagaimana Bapak?” tanya Ibu penuh harap.
Setelah menelan rumput-rumput yang dikunyahnya, Bapak menjawab,
”Ya…boleh. Asal jangan pas hujan saja. Air sungai bisa naik.”
”Asyiiiiiiiiik,” seru Adikdan Kakakhampir berbarengan. Mereka lega bapaknyamengizinkan.
***
Pada hari yang sudah ditentukan, Kakak dan Adik bangun pagi-pagi sekali. Mereka tidak ingin rencana camping ke pinggir sungai Progo berantakan hanya karena mereka bangun kesiangan. Mereka pun segera mandi lalu menyantap rumput yang sudah disiapkan Ibuuntuk sarapan.
Tepat pukul delapan pagi, Bapak, Ibu, Kakak, dan Adiksudah siap. Kakak dan Adikmendapat tugas membawa bekal rumput untuk makan siang, sebab mereka belum tahu apakah mereka bisa menemukan rumput dan dedaunan dengan mudah di sana. Sedangkan Bapak dan Ibumenggotong beberapa potong kayu untuk membuat kandang.
Dengan beriring-iringan, mereka melangkahkan kaki ke arah barat. Mereka berjalan menuju tepian sungai Progo yang berjarak dua kilometer dari rumah mereka. Meskipun harus berjalan kaki cukup jauh, Kakak dan Adiksangat bersemangat. Bagi mereka, ini adalah pengalaman pertama yang sangat mengasyikkan.
Sepanjang perjalanan, mereka menikmati pemandangan yang sangat indah. Langit biru cerah, hamparan sawah berwarna hijau yang sangat luas, dan deretan pengunungan Menoreh yang berdiri gagah. Sesekali mereka juga bersiul-siul memanggil burung-burung yang beterbangan.
Tanpa terasa, gemericik air sungai Progo sudah mereka dengar. Kakak dan Adiksenang sekali. Akhirnya mereka sampai di tempat yang dituju. Mereka melempar kantong rumput bekal makan siang mereka sambil berlari-lari mendekat ke sungai.
”Wah..airnya jernih sekali ya!” seru Kakak senang.
”Iya..Adik pengen berenang!” seru Adik tak kalah riang.
”Heeeiiii...kita harus bikin kandang dulu,” kata Ibuberusaha menyetop keinginan dua anaknya untuk langsung terjun ke sungai.
Kedua anak kambing itu pun menurut. Mereka segera membantu Bapak dan Ibuyang sudah mulai menegakkan beberapa potong kayu untuk membuat kandang. Mereka membuat kandang di bawah pohon jati yang besar. Kata Bapak, supaya mereka tidak kehujanan.
”Kakak, Adik, biar Bapak sama Ibu saja yang bikin kandang. Kalian kumpulkan daun-daun yang agak lebar untuk atap,” perintah Bapak.
”Baik Pak,” jawab Kakak. Ia pun mulai memunguti daun-daun jati kering yang berukuran lebar. Adik mengikuti apa yang dilakukan oleh kakaknya.
Dalam waktu yang tidak lama, daun-daun sudah terkumpul. Mereka menyerahkan daun-daun itu kepada Bapak, tepat di saat tiang-tiang kandang sudah berhasil ditegakkan.
”Tinggal kita pasang atapnya saja ini,” ujar Bapak lega.
Mereka pun bekerja sama meletakkan daun-daun di bagian atas kandang yang telah mereka buat. Pada pukul sebelas siang, mereka sudah selesai membuat kandang untuk tempat tinggal selama camping.
”Alhamdulillah sudah selesai, ayo kita makan siang,” ucap Ibusambil mengambil tempat duduk di dalam kandang.
”Tapi Adik belum lapar. Adik mau berenang saja,” kata Adik yang sedari tadi sudah menahan keinginannya untuk bermain air.
”Kakak juga. Sudah pengen sekali berenang,” ujar Kakak menimpali.
”Ya sudah. Ayo Bapak temani kalian ke sungai. Ibu istirahat saja di sini,” kata Bapak.
Bapak, Kakak, dan Adikpun menuju ke sungai. Raut wajah Kakak menampakkan ekspresi gembira yang tak terkira. Ia berenang-renang di bagian tengah sungai sembari menyiba-nyibak air sungai yang jernih dan segar.
Sementara itu, Adik yang belum terlalu mahir berenang memilih untuk berada di pinggir saja. Ia berenang-renang sebisanya. Sesekali ia berusaha menghindari semprotan air dari kakaknya. Lalu, mereka semua tertawa terbahak-bahak. Sungguh bahagia suasana hati mereka.
Tak terasa sudah lebih dari dua jam berlalu. Ibuberanjak dari kandang dan mendekat ke sungai.
”Ayo sudah berenangnya. Sudah lama kalian bermain air,” teriaknya.
Bapak pun mengajak kedua anaknya untuk menyudahi renangnya. Meskipun sebenarnya enggan, kedua anak kambing itu mengikuti perintah Bapaknya. Mereka naik ke tepian sungai dan mengeringkan badan mereka sambil menyantap makan siang rumput.
Setelah cukup kenyang, Bapak, Ibu, Kakak dan Adikmemutuskan untuk beristirahat. Mereka tidur siang dengan sangat nyenyak. Mereka sangat lelah setelah berjalan, membuat kandang, dan berenang.

***
Hari sudah sangat sore ketika Ibu terbangun, diikuti oleh Bapak, Kakakdan terakhir Adik. Langit sudah menunjukkan semburat jingga.
”Wah sebentar lagi sudah gelap,” ujar Bapak.
”Iya. Kita harus segera mencari dedaunan untuk makan malam,” kata Ibu.
”Kita cari dedaunan dekat sini saja. Tidak usah jauh-jauh,” lanjut Bapak lagi.
Mereka pun bergerak, mengumpulkan dedaunan di sekitar kandang yang sekiranya bisa dimakan. Ada daun jati muda, daun pohon munggur, daun bunga sepatu dan sedikit rumput ilalang berhasil mereka kumpulkan.
Setelah itu, Bapak mengajak Kakak dan Adik untuk membuat api unggun.
”Ayo siapa yang mau bantu Bapak bikin api unggun?” tanya Bapak sambil mengumpulkan ranting-ranting pohon jati.
”Wah, api unggun itu apa Pak?” tanya Adik.
”Api unggun itu kayu-kayu yang disusun berbentuk segitiga lalu dibakar,” ujar Kakak antusias sembari ikut mengumpulkan ranting-ranting.
Setelah ranting-ranting terkumpul, Bapak dan Kakak menyusun ranting-ranting itu menjadi berbentuk seperti piramid. Lalu, Bapakmenyalakan korek dan membakar ranting-ranting itu. Jadilah api unggun yang sangat indah. Bapak, Ibu, Kakak, dan Adikduduk mengelilingi api unggun itu. Tubuh mereka terasa hangat, begitu juga dengan hati mereka.
”Ayo kita menyanyi,” ajak Kakak.
”Wah..ide bagus. Menyanyi apa ya baiknya?” sambut Ibu dengan antusias.
”Libur telah tiba!” sahut Kakak.
Bapak, Ibu, Kakak, dan Adik pun menyanyikan lagu libur telah tiba  dengan hati yang gembira. Malam itu mereka habiskan dengan bercerita, bercanda dan bernyanyi bersama sembari menikmati hangatnya api unggun. Tak lupa, pada kesempatan itu Kakakmengucapkan terima kasih kepada Bapak dan Ibu yang telah mewujudkan keinginannya untuk liburan bersama. Meskipun sederhana, meskipun tidak ke luar kota, liburan kali sungguh bermakna baginya.

Liburtelahtiba
liburtelahtiba
Hore,Hore,Hore
Simpanlah tas dan bukumu
Lupakan keluh kesahmu
Libur telah tiba,
libur telah tiba
Hatiku gembira!

***

Anak-anak masih sangat menyukai cerita dongeng fabel, yaitu cerita yang tokohnya adalah binatang namun memiliki kebiasaan seperti yang dilakukan manusia, seperti berbicara dan sebagainya. 

Setiap selesai bercerita, selalu aku ajak mereka untuk memahami pesan moral apa yang bisa dipetik dari cerita tersebut. Seperti cerita kali ini, tentang camping keluarga kambing, anak-anak menjadi paham bahwa liburan tidak harus mahal. Kegiatan sederhana yang dilakukan bersama-sama dengan keluarga bisa menjadi alternatif untuk mengisi liburan.




BUNDA BERIKISAH PART #2 : MELUKIS INDAHNYA PAGI

January 31, 2020 0 Comments

Masih melanjutkan kebiasaan mendongengkan cerita kepada anak-anak, terutama Lula, gadis empat tahunku.

Masih bersumber pada buku hasil karya teman-teman Pejuang Literasi, aku mulai beraksi. Memasang mimik, mengatur napas dan intonasi suara. Kalau sudah begini, anak-anak, terumata Shahia dan Lula akan menjadi lebih fokus mendengarkan apa yang aku baca.

Simak serunya yuk!

***





MELUKIS INDAHNYA PAGI
Oleh : Isya

“Aku akan melukis indahnya pagi!” ujar Dipo dengan suara lantang.
Bu guru dan teman-teman sekelas tertegun setelah mendengar ide liburan Dipo. Kagum dengan ide Dipo yang luar biasa, semua hanya hening. Dipo pun membusungkan dada karena bangga, melihat reaksi Bu guru dan teman-temannya yang kagum dengan dirinya. Kagum? Tentu saja. Kelelawar adalah makhluk yang aktif di malam hari dan akan tidur di pagi hari. Jadi sudah tentu kelelawar tidak bisa memandang indahnya pagi.
“Tapi, Dipo sayang, kita makhluk nokturnal. Makhluk yang aktif di malam hari,” kata Bu guru setelah tertegun sesaat.
“Pasti mudah, Bu Guru. Aku pasti bisa!” jawab Dipo sedikit sombong.
Malam ini adalah pertemuan terakhir di sekolah Kelelawar Cerdas, semua siswasangat gembira karenaliburan telah tiba. Ide liburan Dipo yang mengagumkan, menjadi perbincangan hangat teman-temannya.
Semua kagum, hi hi. Lihat nanti, aku akan melukis pagi dengan indahnya, dan aku berikan kepada Ibu guru. Pasti aku akan sangat disayang dan disanjung. Ujar Dipo dalam hati.
Sesampainya di rumah, dengan bangganya Dipo menceritakan ide liburannya kepada Ayah dan Ibunya. Untuk sesaat keduanya tentu saja tertegun.
“Dipo, Ayah tahu kamu pasti ingin membuat cerita yang hebat untuk teman sekelas mu. Tapi apakah kamu tahu,kita bangsa kelelawar sudah diciptakan untuk aktif di malam hari dan tidur di pagi hari. Kita diciptakan istimewa dengan keistimewaan itu,” nasihat Ayah.
“Ayah, Pon-Pon teman ku, si Monyet Ekor Panjang saja bisa aktif di pagi hari. Aku pasti bisa!” jawab Dipo.
“Itu berbeda, Nak. Mereka diciptakan untuk aktif di pagi hari,” ujar Ayah.
“Ayah, kok gitu. Anaknya membuat ide cemerlang, Ayah tidak mendukung,” jawab Dipo sambil cemberut.
Ibu yang melihat perdebatan Ayah dan Dipo segera menengahi, Ibu menggenggam tangan Ayah, menenangkan Ayah. Ibu lalu mendekati Dipo.
“Dipo, berat loh melawan kebiasaan alami kita untuk terjaga di pagi hari,” kata Ibu sambil mengusap kepala Dipo.
“Dipo mau main dengan Pon-Pon, Bu. Mau melihat indahnya pagi. Pasti keren, ketika nanti Dipo menceritakan hal itu di depan teman-teman,” kata Dipo penuh harap.
“Baiklah, Ibu akan menyiapkan semua hal yang Dipo perlukan. Tetapi berjanjilah, untuk tidak terlalu memaksakan diri,” kata Ibu dengan bijak.
“Terima kasih, Ibu,” jawab Dipo sambil memeluk erat Ibu.
Dipo segera berlari memeluk Ayah dan berlari kembali menuju kamar, menuliskan rencana liburannya. Ayah menatap Ibu dengan heran.
“Tak apa Ayah, pengalaman hidup akan mengajarkan Dipo nanti,” ucap Ibu.
***
Hari pertama, rencana Dipo untuk tidak tidur di pagi hari dimulai. Dipo akan mulai dengan membaca buku kesukaannya, yaitu cerita tentang perjalanan berkelana ke pulau lain. Dengan semangat membara Dipo menyiapkan cemilan dan teh, dan bersiap membaca buku di atas meja belajarnya. Ayam sudah berkokok, memberi tahu bahwa pagi akan segera datang.
Sedikit lagi, aku akan berhasil tidak tidur di pagi hari. Kata Dipo dalam hati dengan sangat gembira.
Namun apa yang terjadi, ketika Dipo menginjak ke halaman ke sepuluh seri ketiga buku kesukaannya. Dipo tertidur di atas meja belajarnya.
Ketika hari beranjak senja, Dipo terbangun. Sadar bahwa usaha di hari pertamanya gagal, Dipo amat menyesal. Ah, masih hari pertama. Aku masih punya 13 hari liburan, pasti bisa. Pikir Dipo dalam hati. Mulailah Dipo mencatat kegagalan rencananya dan membuat rencana baru.
***
Hari kedua dimulai dengan bermain congklak dan catur bersama Ayah sepanjang dini hari sampai pagi. Setelah Dipo berhasil membujuk Ayah, akhirnya mereka berdua berencana bermain congklak dan catur sampai empat belas ronde. Tentu saja Ayah sudah mengalahkan Dipo dalam 4 ronde permainan catur. Tapi Dipo boleh berbangga, karena sudah empat ronde Ayah kalah main congklak dengan Dipo.
Ayam sudah mulai berkokok, tanda matahari akan mulai muncul. Ayah sudah menguap berkali-kali, mata Ayah pun sudah memerah menahan kantuk. Dipo masih terus bersemangat bermain congklak, sudah ronde ke sembilan. Ketika giliran Dipo yang membagikan biji congklak, rupanya Ayah tertidur di sofa. Dipo yang melihat Ayah tertidur, berinisiatif mengambilkan selimut untuk Ayah. Dipo sangat senang Ayahnya sudah berusaha menemani Dipo mewujudkan liburan impiannya.
Sambil meneruskan permainan congklaknya, Dipo berkali-kali mengusap matanya yang mengantuk. Berat rasanya menahan kantuk sambil memikirkan strategi bermain. Ketika Dipo sudah berat menahan kantuk, diletakkan kepalanya ke sofa. Sebenarnya niat Dipo hanya untuk tidur sesaat, namun apa daya ternyata Dipo tertidur sampai senja. Rencana Dipo gagal lagi.
***
Hari ketiga Dipo berencana akan menonton film kesayangannya sampai matahari terbit sambil memakan biji kopi. Dipo dengar kopi bisa membuat mata terjaga, sehingga alih-alih menyeduhnya, Dipo memilih mengunyahnya. Karena menurut pemikiran Dipo, jika sambil dikunyah maka mulut akan bekerja dan otak akan sibuk, sehingga kantuk pun akan hilang. Dimulailah rencana ketiga Dipo, Ayah sudah menyiapkan berbagai film dokumenter kesayangan Dipo. Kali ini Ayah tidak bisa menemani Dipo, karena Ayah ada rapat dan pulang agak sedikit terlambat.
Dipo sudah memulai mengunyah biji kopi, rasa pahit meledak di mulut Dipo. Tapi demi memuluskan rencananya, Dipo tetap menelan dengan susah payah. Pintu depan tiba-tiba terdengar membuka. Pasti Ayah baru pulang, wah sudah pukul empat pagi. Ayah pasti lelah. Pikir Dipo. Tak disangka Ayah menengok Dipo yang sudah mulai menonton film dokumenter kesukaannya.
“Dipo perlu Ayah temani, Nak?” tanya Ayah.
“Tidak perlu, Ayah. Ayah istirahat saja, Ayah pasti lelah,” jawab Dipo sambil tersenyum.
Ayah pun akhirnya memutuskan untuk segera tidur, karena esok malam pekerjaan masih menunggu Ayah.
Dipo melirik jam, sudah pukul lima pagi. Sedikit lagi, yes. Satu jam lagi.Ujar Dipo dalam hati.
Ayam sudah mulai berkokok menandakan matahari semakin meninggi. Layar televisi di kamar Dipo sedang menayangkan dokumenter penemuan bohlam lampu, namun sayang Dipo sudah tertidur lelap. Rencana ketiga gagal lagi.
***
Senja ini adalah senja kesepuluh, Dipo sudah melalui berbagai cara untuk bisa tetap terjaga sepanjang pagi. Dimulai dengan tetap berolahraga, bersepeda berkeliling desa kelelawar, mendengarkan musik klasik, sampai mengobrol dengan Pan-Pan sepanjang pagi, semua gagal. Impian Dipo untuk dipuji Bu guru di depan semua teman-teman sekelasnya, hancur berantakan.
Dipo dengan gontai terbang ke pohon buah markisa, rumah Pan-Pan si Monyet Ekor Panjang, sahabat baiknya.
“Kenapa muka mu kusut, Dipo?” tanya Pan-Pan.
“Aku gagal, Pan-Pan. Teman-teman pasti akan menertawakan ku nanti,” ujar Dipo sambil menangis.
Pan-Pan pun ikut sedih mendengar kegagalan Dipo, “Tapi kamu hebat. Kamu sudah mencoba berbagai hal, untuk bisa tetap terjaga di pagi hari. Bukankah itu hebat!” puji Pan-Pan.
Dipo hanya menunduk terdiam.
“Ini hadiah untuk mu, oleh-oleh liburan ku,” kata Pan-Pan. 
Dibukanya album foto itu satu per satu. Ada matahari terbit di ufuk timur dan Pak Jago yang sedang berkokok. Pan-Pan dan teman-temannya sedang berayun, bahkan Kuki si Kupu-Kupu yang sedang hinggap di salah satu bunga di ladang bunga pun ada. Dan satu lagi foto Dipo dan teman-temannya yang berangkat ke sekolah saat senja.
“Tapi bukankah Dipo itu memang sudah hebat ya. Dipo dan teman-teman bisa terbang di malam hari tanpa tersesat. Aku saja akan sangat sulit melihat dalam gelap,” ujar Pan-Pan.
Dipo berpikir sejenak setelah mendengar ucapan sahabatnya. Dipo memeluk sahabatnya dan mengucapkan terima kasih. Dia membawa hadiah berharga pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, Dipo memeluk Ayah dan Ibunya. Mengucap maaf dan terima kasih. Dipo pun membawa album foto tersebut ke dalam kamar dan mulai menuliskan liburannya.
***
Senja pertama kembali ke Sekolah, Dipo sudah gugup dengan cerita liburannya.
“Ayo, siapa yang akan pertama kali maju berbagi cerita tentang liburannya?” kata Bu Guru.
Dipo mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Setelah dipersilahkan Bu Guru, akhirnya Dipo maju ke depan kelas.
Dipo pun mulai menceritakan rencana terjaga di pagi hari selama liburan, kegagalan pertamanya ketika membaca buku, kegagalan keduanya ketika bermain congklak dan catur bersama Ayah, dan kegagalan-kegagalan selanjutnya. Ada kalanya teman-temannya tertawa mendengar ide lucu Dipo untuk melawan kantuk. Dan ada kalanya teman-temannya terkagum-kagum dengan ide Dipo.
“Liburan ku melukis indahnya pagi, gagal teman-teman. Tapi sahabat ku telah melukiskan indahnya pagi melalui hadiahnya,’ ujar Dipo, “Mungkin aku hanya akan bisa melihat indahnya malam, tapi tetap akan selalu seindah pagi. Karena itulah kebesaran Ilahi yang harus kita syukuri. Di saat makhluk lain buta akan gelapnya malam, justru kita bangsa kelelawar bisa terbang dengan tenangnya tanpa menabrak apa pun. Tanpa bisa tersesat,” tambah Dipo.
Setelah Dipo bercerita semua teman-teman bertepuk tangan, memberi Dipo penghargaan atas ceritanya yang hebat. Mulai senja ini Dipo tidak akan iri dengan makhluk lain, karena kini Dipo sadar bahwa dirinya juga istimewa.


***

"Nah, bagaimana ceritanya? Seru kan." Aku menutup cerita dengan mencoba berdiskusi dengan mereka.

"Iya, Bun! Besok lagi ya," celetuk Lula.

"Boleh! Tapi inget ya ... cerita barusan mengajarkan apa aja hayo?"

Shahia nampak berpikir keras, Lula hanya tersenyum dan menggelengkan kepala.

"Jadi, kita tidak boleh memiliki sifat iri dengan orang lain. Dan ... harus selalu mencintai diri sendiri, karena Allah menciptakan makhluk-Nya dengan keistimewaan masing-masing."

Kedua putriku meanggukkan kepala tanda paham. Aku menutup buku, mengecup kening mereka dan meminta mereka membaca doa sebelum tidur.