Thursday, November 7, 2019

MENGEMBANGKAN JIWA ENTERPRENEURKID

November 07, 2019 0 Comments

Setiap anak adalah bintang!
Shahia yang nampaknya biasa-biasa saja dalam urusan akademik, tapi aku yakini bahwa dia punya bidang sendiri yang membuatnya akan bersinar nantinya. 

Dan, yap! Bidang itu sepertinya adalah dunia bisnis, wirausaha!

Dengan leadership-nya yang tinggi, Shahia nampaknya bukan sosok yang bisa dengan mudah diperintah orang lain. Sehingga jiwanya bukanlah jiwa karyawan. Kesenangannya dengan jualan apa saja, membulatkan kesimpulanku bahwa memang dunia enterpreneur adalah bidang yang akan menjadikannya bintang jika mulai sekarang aku fokuskan dia di bidang itu.

"Lagi ngapain sih, Nak?" tanyaku penasaran saat melihatnya begitu sibuk.

"Lagi motongin stiker," jawabnya singkat, tanpa mengalihkan pandangannya dari gunting dan stiker yang ada di hadapannya.

"Memang mau diapain stikernya? Kata Bunda kan gak usah banyak-banyak dipotong. Dipotong seperlunya aja. Buku Shahia ada berapa emangnya? Kok banyak banget motongin stikernya." Aku mulai penasaran dengan apa yang dia kerjakan dan rencanakan.

"Bunda, Shahia itu motongin stiker bukan buat Shahia doang!"

"Lha terus?" Aku makin kepo!

"Sini deh, Shahia kasih tahu Bunda!" Dia mencoba bertransaksi denganku, supaya aku memenuhi kemauannya.

Aku menurutinya, mengambil posisi duduk di lantai, persis di sebelahnya. Sejurus kemudian, dia berdiri, mengambil dompet merah yang dia simpan di almari bukunya.

"Nih lihat, Bun!" Dia menyodorkan dompet merahnya.

"Kenapa dengan dompetnya?" Aku masih belum paham.

"Bunda buka dulu aja deh!" pintanya, lebih tepat sepertinya "perintahnya".

Mataku sedikit membelalak. Aku kaget! Dari mana gadis kecilku  ini mendapatkan uang recehan sebanyak ini? batinku. 

"Shahia itu jualan stiker ini, Bun!" segera dia memberiku jawaban atas rasa penasaran sekaligus keterkejutanku.

"Jualan stiker?"

"Iya. Abisnya, semua nanyain di mana Shahia beli stiker buat buku-buku Shahia. Terus Shahia bilang, kalau Shahia masih punya banyak. Mau beli di Shahia gak. Terus Shahia bawain kemarin ke sekolah, eh, banyak yang beli loh Bun!" Dia dengan berbinar-binar menjelaskan detail.

"Terus, karena stiker yang dibawa kemarin udah habis, lalu sekarang Kakak gunting lagi gitu? Besok mau dijual lagi, gitu?"

"Betuuuuuuul sekali, Bunda!" sambil mengacungkan dua jempol tangannya ke arahku. 

Dia mulai komat kamit menghitung stiker nama yang sudah dia potong. Aku tersenyum melihat keceriaan serta semangat bisnisnya.

Hati kecilku berbisik mendoakan dia, "Semoga laris manis, Nak. Barakallah, Nak."

Kuelus lembut kepalanya dan mendaratkan kecupan mesra di pipi kanannya. 
"Jadi pengusaha sukses dunia akherat ya, Nak!" 

"Aamiin," jawabnya sambil tersenyum lebar, selebar peluang yang selalu dia jadikan sebagai lahan bisnis!

***


Melangsir dari situs yang aku kepoin beberapa waktu lalu terkait dengan membentuk jiwa wirausaha anak, www.anakku.net.



Entrepreneur berasal dari bahasa Prancis yang muncul pada awal abad ke-17 atau 18, yang memiliki makna 'dikelola'. Singkatnya, arti dari pengusaha yang dicetuskan oleh Jean Baptiste Katakan ini adalah 'orang yang mengelola suatu kegiatan'.

Bakat kewirausahaan biasanya sudah terlihat sejak kecil. Dengan bimbingan dan arahan orang tua serta mereka yang terlatih, kesadaran tentang nilai-nilai kerja keras dan kreativitas sudah bisa ditanamkan pada anak untuk mengasah jiwa kewirausahaannya.
Ciri-ciri anak dengan 'bakat' wirausaha
Anak-anak tentu tidak mengerti tentang perencanaan bisnis dan istilah-istilah bisnis lain, namun mereka sudah memiliki 'ciri-ciri' tertentu yang berkaitan dengan meningkatkan kewirausahaan mereka. Tanda terkuat yang mudah dilihat adalah keinginan mereka untuk menghasilkan uang tambahan dari hasil usaha mereka sendiri. Tentu saja yang membahas tentang usaha-usaha sederhana yang mampu mendatangkan uang dari usaha yang mereka lakukan. Contohnya saja, berjualan camilan ringan, kerajinan tangan buatannya atau menerima jasa perawatan hewan peliharaan.
Secara perlahan, muncullah kesadaran bahwa mereka dapat memperoleh keuntungan dari hal-hal sederhana seperti itu. Ciri-ciri umum lain yang ditemukan dari jiwa wirausaha seorang anak adalah kemandirian yang muncul sejak dini, kreativitasnya yang tak terbatas, ketekunan dan percaya diri. Dengan memberikan ciri-ciri tersebut dengan motivasi untuk mendapatkan uang tambahan, Anda telah memperoleh anak berjiwa kewirausahaan.
Arahan dibutuhkan tetap dibutuhkan
Di dunia di mana anak dapat dengan mudah mendapatkan apa yang mereka inginkan, penting untuk sedikit berjuang, mengembangkan motivasi dan melecutkan daya kreativitasnya. Sebagai kredit, sedikit ketat dengan uang saku yang diberikan mungkin memotivasi anak mencari uang tambahan. Komunikasikan pada anak tentang nilai uang sehingga mereka paham dari mana uang dibutuhkan dan bagaimana harus uang yang dimiliki.
Cara termudah untuk mengubah proses ini pada anak adalah dengan cara menerbitkan rekening tabungan di bank. Anak dapat melihat uang yang masuk versus uang yang dikeluarkan dengan cara yang sangat teratur. Anak juga dapat memperoleh manfaat dari cara mengakses cara kerja cek dan kartu debit serta (persetujuan) kartu kredit).
Ketika anak-anak beranjak dewasa, anak-anak juga dapat mengenalkan anak-anak mereka tentang cara menilai uang mereka dengan cara anak-anak. Ini memberikan pelajaran hidup dasar-dasar bisnis sederhana pada anak.
Ayo simak tipnya dan Anda dapat bermain sambil belajar berwirausaha dengan anak.
Tips mengasah jiwa wirausaha anak
  • Ajarkan anak menentukan dan dapatkan persetujuan. Buatlah daftar dan tulis tujuan apa saja yang ingin diraih. Menuliskan tujuan yang ingin dicapai 80% dari hanya memenuhi atau membicarannya saja.
  • Ajari anak melihat peluang dan menyusun rencana untuk memperoleh. Biasakan anak untuk menciptakan solusi yang positif terhadap kesulitan yang muncul, kebiasaan ini akan memunculkan ide-ide hebat!
  • Keterampilan menjual mengasah yang dapat berguna suatu hari nanti. Ajarkan anak untuk memulai usahanya dalam skala kecil terlebih dahulu, misalnya menjual mainan lama, hasil kerajinan tangan sendiri hingga camilan.
  • Pemahaman tentang keuangan penting dipahami sejak dini. Cara paling mudah adalah dengan membukakan rekening tabungan untuk anak.
  • Ajarkan anak pemasaran senior, karena pembeli adalah kunci dari keberhasilan suatu usaha. Ajak mereka menarik iklan-iklan di berbagai media dan tanyakan apa yang membuat iklan-iklan tersebut menarik. Lalu, minta mereka membuat sendiri bahan iklan dan cara menjual produk yang menarik.
  • Tanamkan pada anak yang membantah, bisa menjadi pelajaran positif. Hindari menghukum anak jika gagal, lawan ajak anak untuk membahas faktor-faktor apa saja yang menjadi penyebab kegagalan kali ini dan bagaimana mencegahnya terjadi kembali.
  • Komunikasi yang efektif meningkatkan penjualan. Usaha yang berhasil memerlukan kemampuan khusus. Ajarkan anak berbicara dengan efektif, sopan termasuk gestural yang baik seperti memandang mata lawan bicara, berbicara di telepon dengan cepat dan jelas juga sopan, menulis surat atau email dengan bahasa yang sopan.
  • Tanamkan keinginan membantu orang lain. Diskusikan dengan anak-anak mengenai kegiatan berwirausaha yang menunjang kegiatan sosial bagi sesama. Jelaskan tentang anak konsep bisnis-bisnis hebat itu mesti juga mampu meningkatkan taraf hidup banyak orang.
  • Kemandirian menciptakan rasa percaya diri pada anak. Saat anak meminta uang untuk membeli mainan, ajaklah ia berdiskusi tentang cara mendapatkan uang tersebut melalui usaha sendiri.
Tanamkan jiwa pemimpin sejak dini pada anak, sekaligus mampu berpikir 'di luar kotak' serta buat solusi unik dari setiap pertentangan.


***


Sepertinya penjelasan yang aku dapatkan dari situs tersebut semakin menguatkanku untuk menumbuh suburkan jiwa kewirausahaan yang ada dalam diri Shahia. Dari ciri-ciri di atas, alhamdulillah, Shahia punya. Peranku makin mantap untuk memberikan lingkungan yang kondusif supaya mental enterpreneurnya semakin terasah.

JUALAN BUKU DULU, BERENANG KEMUDIAN

November 07, 2019 0 Comments


"Bunda, ada paket!" teriak si tengahku, Shahia.

"Tolong diterima dulu ya, Nak!" balasku dari arah dapur.

"Oke, Bunda!"

***

"Udah diterima ya paketnya?" tanyaku pada Shahia yang menghampiriku ke dapur.

"Sudah, Bun! Buesaaaaar kardusnya!" balasnya.

"Ohya? Besar banget? Gak kaya biasanya gitu kardusnya?" Aku penasaran.

"Ya, enggak besar-besar amat sih. Tapi lebih besar dari biasanya."

"Nanti Bunda lihat deh, abis goreng nugget."


***

Memang benar, kardus paket itu enggak seperti biasanya. Lebih besar, dan memang nampak lebih berat. Shahia pun tanpa komando membawa gunting.

"Ini, Bun!" 

"Terimakasih, Cantik. Buka yuk, kita lihat apa isinya." Aku mencoba membangkitkan rasa penasarannya.

"Ya, palingan buku lah! Bunda kan tukang jualan buku sama sabun ramah lingkungan. Kalau sabun, yang nganter tuh bukan JNE, tapi temennya Bunda. Kalau yang ini sih jelas buku," celetuknya.

"Ya jelas pasti buku, Nak! Cuman kan buku yang judulnya apa, kita belum tahu." Aku menjawab sambil membuka kardus paket di hadapan kami.

"Waaaaaah, gambar sampulnya bagus, Bun! Pe-tu-a-lang-an Ma-lam. Yang ini, Pe-tu-a-lang-an Tak Ter-du-ga. Yang ini, Li-bu-ran Se-ko-lah. Bun, kok gambarnya bagus ya."

"He em, itu memang buku anak. Jadi gambarnya dibuat lucu dan bagus yang disukai anak-anak."

"Bun, Shahia mau jual di sekolah boleh?"

"Eh, beneran?? Shahia mau jualan buku di sekolah?"

"Iya, bener! Besok Shahia bawa ya, Bun. Eh kalau laku bukunya, nanti hari Sabtu renang ya Bun! Pake uang jualan buku!" pintanya sedikit merengek.

"Halah, kok pake upeti segala. Tekor Bunda dong, jualin buku bayar gajinya pake renang." Aku protes tidak sepakat dengan idenya.

"Ah, Bunda! Shahia kan masih anak-anak. Boleh ya Bun? Kalau bukunya laku, Shahia mau renang!"

"Hm.. ya udah deh, boleh! Mau jualan yang mana?"

"Shahia bawain satu-satu ya, Bun. Harganya berapa?"

"Harganya 95 ribu."

"Oke!" jawabnya singkat.

"Harganya 95 ribu lo, Nak!" 
Aku mengingatkan dia lagi, seolah tak percaya, anak gadisku itu mau jualan buku di sekolahnya dengan harga yang "lumayan".

Tapi okelah, aku mengikuti saja semangatnya. Aku berikan dia kepercayaan. Tiga buah buku dengan judul yang berbeda, aku sodorkan padanya.


***

Besok siangnya, sepulang sekolah, dia memberikan laporan singkat.

"Ini Bun bukunya." 

Utuh tiga eksemplar! Aku terkekeh dalam hati. 

"Kata temen Shahia, bukunya bagus. Tapi mereka gak punya uang. Katanya mau bilang Mamahnya dulu."

"Oh gitu, oke gak pa pa!"

"Gak laku deh, ga jadi renang deh!" Dia menggerutu sendiri. Aku masih saja terkekeh dalam hati.

Sore harinya, tiba-tiba ada pesan masuk dari aplikasi WhatsApp ku. Salah satu wali murid, sekelas dengan Shahia bertanya tentang buku yang ditawarkan Shahia di sekolah. Anaknya bercerita, Shahia jualan buku bagus dan minta pada mamahnya untuk membelikan buku itu. 

Aku kirimkan tiga cover buku beserta penjelasan masing-masing. Dan berakhir closing! Dia membeli satu buku setelah memilih tiga judul yang aku kirimkan. Transaksi terjadi dan buku yang dia beli aku berikan pada Shahia agar besok disampaikan kepada temannya.

Aku memeluk Shahia dan berkata, "Kita jadi renang, Nak! Barakallah! Shahia udah pinter jualan buku!"


***

Mungkin sebagian besar orang tua yang merupakan seorang wirausahawan ingin meneruskan bisnis ke anaknya karena dengan begitu mereka masih dapat mengontrol jalannya bisnis tersebut. Namun, apabila seorang anak tidak dididik untuk menjadi wirausaha sejak dini, dikhawatirkan ia akan kaget dan kebingungan dengan hal yang asing baginya.
Menanamkan jiwa wirausaha pada anak sejak dini bukanlah perkara yang sulit ternyata. Terlebih lagi jika kita sebagai orang tua sudah berpengalaman di dunia bisnis.

Hanya sedikit orang yang lahir dengan bakat 'kewirausahaan. Namun, keinginan dan kemampuan seseorang untuk menjadi seorang wirausaha sukses suatu hari nanti perlu dipupuk dan dibuat sejak dini. 


SISTER PRENEURSHIP

November 07, 2019 0 Comments

Al Ghazali melalui Ihya Ulumuddin : 
Hati anak-anak masih suci bagaikan tambang asli yang bersih dari segala corak dan warna. Ia siap dibentuk dan dijadikan apa saja tergantung keinginan pembentuknya. Jika dibiasakan melakukan kebaikan, ia akan menjadi baik. Orangtua, guru dan pendidiknya pun akan menuai kebahagiaan dunia dan akhirat. Sebaliknya, jika dibiasakan dengan keburukan dan diabaikan pembinaannya layaknya binatang ternak, maka buruk dan rugilah ia. Orangtua, guru dan pendidik akan turut menanggung dosanya.
Tidak ada hubungan kakak dan adik yang berjalan mulus. Setiap anggota keluarga pasti pernah mengalami konflik. Aku berani menyimpulkan seperti ini, setelah aku bertanya (survei tipis-tipis) ke beberapa sahabat. Dari mereka yang memiliki krucils dengan usia sepantar dengan anak-anakku, atau bahkan dengan usia yang terpaut agak jauh. Hasilnya tetap sama, konflik kakak-adik tetap berlangsung bahkan hingga anak beranjak di usia dewasa sekali pun!!

Oh my God!!! Kabar baik? Karena merasa punya teman, tidak sendirian menghadapi anak-anak yang berkonflik antar saudara. Atau justru merasa ini sebagai kabar buruk? Karena harus mampu bertahan untuk mendamaikan konflik-konflik yang sepertinya akan senantiasa mewarnai.

Aku menjadi terkekeh sendiri. Namun, satu hal yang jadi benang merah adalah ternyata kita sebagai orang tua, jangan terlalu khawatir apabila anak-anak sering bertengkar, memperebutkan sesuatu dan saling adu pendapat. Yang perlu kita perhatikan adalah sikap mereka setelah berkonflik.


Apakah mereka mampu introspeksi diri?
Apakah mereka berani mengakui kesalahan?
Apakah mereka berani meminta maaf dan memaafkan?
Apakah mereka bisa memanfaatkan konflik untuk memperbaiki diri?
Apakah mereka mampu menggunakan konflik untuk belajar mengatasi masalah?

Aku sadar, justru di sinilah peran pentingku sebagai orangtua. Memanfaatkan konflik untuk membangun karakter anak-anak dan membina hubungan harmonis di antara mereka.
Yess, menemukan berlian di antara gundukan lumpur! Menemukan hikmah berharga setelah berbagai pertikaian yang terjadi di antara anak-anak!
Bagaimana pun, seperti kata pepatah, ‘darah lebih kental daripada air’. Kita memiliki hubungan yang dalam dan dekat dengan saudara kita. Sebagai orangtua, aku merasa harus memanfaatkan hal ini untuk melatih kemampuan anak dalam berinteraksi. Karena teman pertama bagi anak adalah saudaranya.
Hubungan pertama anak dengan manusia adalah bersama orangtuanya. Setelah itu, mereka akan mengenal saudara (kakak atau adik) sebelum keluar dari lingkungan rumah. Jadi, hubungan antara adik dan kakak adalah wadah tepat untuk melatih kemampuan berinteraksi.
***
"Bunda, kalau Shahia punya warung nanti, kalau Kakak atau Adek beli, bayar ga?" si gadis 7 tahunku bertanya.
"Menurut Shahia gimana?" Aku balik bertanya.
"Ya tetep bayarlah, Bun! Namanya juga beli. Kalau gak mau bayar, ya bilangnya minta aja." Shahia menjawab cepat.
"Nah, ituuu ... sudah tahu jawabannya sendiri," balasku sambil tersenyum tipis. 
"Nak, kalau Allah titipkan rezeki, harus dibagi ke saudaranya. Nah, kalau masalah usaha, kalau Shahia besok besar jadi pedagang, jualan apa gitu ... kalau kakak atau adiknya beli, ya memang harus membayar. Akad-nya kan jual-beli. Tapi, kalau Shahia memang mau ngasih kakak atau adik, ya akadnya diubah. Bukan jual beli, tapi Shahia niatkan memang mau memberi Kakak Aksan atau Lula hadiah aja. Gitu ... jadi semuanya diawali dengan niat." 
Gadis 7 tahunku itu manggut-manggut tanda memahami. 
"Nah, coba liat foto-foto ini." Aku menyodorkan gawaiku padanya.
Beberapa deret foto kebersamaan Shahia-Lula nampak di sana.
"Bunda dulu gendong-gendong Shahia, sekarang, Shahia gantian gendongin Adek ya! Dulu, kalau mainan mobil-mobilan kaya gitu, Shahia didorongin Kakak karena takut dan belum bisa nyetir sendiri. Sekarang, Shahia dorongin Lula. Iiiih, masyaAllah, anak Bunda luarbiasa! Kakak yang hebat, memang!" Aku meraih tubuhnya dan mendekapnya erat.
Bagiku, obrolan tipis-tipis seperti ini saja sudah merupakan momet AHA. Aku bisa dapatkan sesuatu yang bisa aku gali lebih dalam lagi dari Shahia. 
SisterPreneurship! 
Wkwkwkwk, Istilah yang aku buat sendiri dalam menggambarkan makna persaudaraan dan bisnis. 

TIME FOR MOMONG ADEK

November 07, 2019 0 Comments



Tidaklah termasuk golonganku orang yang tidak menghormati 
yang lebih tua dan tidak menyayangi yang muda 
(HR. Imam Ahmad dan ath-Thabrani)

Pesan Baginda Rosulullah itu selalu mengingatkanku tentang peran orang tua dalam mendidik anak, yang kaitannya dengan membangun hubungan kakak-adik, mengembangkan kepedulian antar saudara, bahkan secara lebih meluas tentunya, kepedulian terhadap sesama umat-Nya.

PR besar orang tua memang melukis akhlak anak serta membersamai mereka meraih apa yang dicita-citakan. Sikap peduli terhadap sesama serta lingkungan sekitar, merupakan salah satu hal yang tidak boleh dianggap sepele. Karena sikap ini yang akan menumbuhsuburkan rasa empati serta simpati anak dalam kondisi apapun, bahkan dalam meraih cita-cita mereka tidak bole mengabaikan kepentingan orang lain, atau bahkan menginjak-injak orang lain. 

Dengan membangun kepedulian, anak bisa memiliki kemampuan untuk berempati kepada orang lain dan menjalani hidup berdasarkan rasa kasih sayang, cinta kasih, dan belas kasih kepada orang-orang di sekitar mereka. Selalu akan ada godaan untuk menjalani hidup yang hanya peduli pada kepentingan diri sendiri dan terfokus hanya pada apa yang menjadi tujuan dan keinginan sendiri, tetapi hari-hari anak akan menjadi jauh lebih berharga jika mereka memikirkan tentang apa yang orang-orang dalam kehidupan mereka pikirkan dan rasakan. Membangun kepedulian berarti bersedia mendengarkan, mengerti jika seseorang membutuhkan bantuan, dan memberikan dukungan bagi komunitas tanpa mengharapkan penghargaan. 

Dalam hadits Nabi yang aku sisipkan di atas, dijelaskan peran kakak terhadap adik adalah mencurahkan kasih sayang dan melakukan penjagaan. Inilah salah satu manfaat pentingnya menjaga hubungan adik dan kakak, yakni melatih sikap tanggung jawab dan belajar menyayangi orang lain.

Poin penting yang bisa kita ambil dari nasehat Nabi SAW di atas adalah:
  1. Hak seorang kakak adalah mendapatkan penghormatan adiknya dan kewajiban kakak terhadap adiknya adalah mencurahkan kasih sayang.
  2. Saling membantu dalam kesusahan dan saling mengingatkan tentang kebaikan.
  3. Memberikan support karena berasal dari ayah dan ibu yang sama.
Dari situlah, aku mulai membiasakan Shahia untuk bisa ikut berperan dalam kegiatan "momong adiknya".

"Bunda kerja dulu, ngajar. Kak Shahia kalau mau ikut boleh, tapi nanti di sana, tugas Kak Shahia momong Lula ya!" Aku membuat kesepakatan sebelum mengajak keduanya ke sebuah workshop di mana aku diberi amanah untuk menjadi salah satu pembicara.

"Tapi nanti Shahia boleh pinjem HP? Kalau bosan mainan boneka yang dibawa, Shahia sama Lula boleh main HP?" tanyanya mengharap.

"Boleh, ini kan hari Sabtu. Tapi, Bunda juga minta tolong, kalau adek minta nenen botol, Kak Shahia yang bikinin ya!" Sekali lagi aku membuat pasal-pasal kesepakatan dengannya.

"Oke, siap Bunda!" Shahia tersenyum lebar dan memelukku. "Sayaaaaaaaang, Bunda" Rayuan mautnya pun menggelora. wkwkwkkwwk ....

Yess, begitulah kami membuat kesepakatan, hingga saat aku "manggung" di ruang workshop, segala hal tentang Lula sudah menjadi bagian yang tidak perlu aku pikirkan. Kakaknya sudah sigap mengurus adiknya.

Sesekali aku keluar kelas, melirik mereka di ruang sebelah. Alhamdulillah, panitia menyediakan bantal panjang dengan karpet bulu yang nyaman. Keduanya tiduran, nampak akur berbagi bantal serta nonton video "Nusa dan Rara" dari layar pipihku. Di mulut si adik sudah tersumpal "nenen botol". Shahia sudah mengurus adiknya dengan luarbiasa. Hatiku tersenyum puas dan bahagia.

Kutinggalkan mereka lagi, kembali menuju kelas, menuntaskan tugas.


Tuesday, October 29, 2019

ALIRAN RASA ALA HESSA KARTIKA

October 29, 2019 0 Comments


#NEWCHAPTER2020

Begitulah hesteg yang lagi marak beberapa pekan ini. Ada perubahan sistem organisasi dari Ibu Profesional pusat. Semarang pun bergerak cepat mengikuti ritme perubahan.

Menoleh sejenak satu tahun silam. 2018. 
Ya ... seperti baru kemarin aku bergabung dalam leburan komunitas nan bergengsi ini.

Kubilang bergengsi bukan lantaran semua member berkendaraan mersi. Justru karena ribuan orang yang masuk ke dalam komunitas ini adalah wanita-wanita pilihan, pilihan Allah SWT.

Kok bisa???
Yess ... bagaimana tidak? Kalau untuk mulai masuk ke kelas matrikulasi saja, berjubelan, dan yang berhasil duduk di dalam kelas, sudah pasti berhasil mendepak beberapa wanita lain di luar sana yang juga ikut antri sebelumnya.
Masih sebut komunitas ini tidak bergengsi? Pikir ulang sendiri ...

Masuk dan menjadi bagian Ibu Profesional (IP) regional Semarang sejak lulus Matrikulasi adalah sebuah awal yang baru buatku. Menyelesaikan 9 NHW dalam waktu 9 pekan, kemudian berkumpul di sebuah ruang virtual bersama ratusan wanita lain yang mengikuti matrikulasi batch sebelumnya, kusebut mereka adalah senior, karena masuk dan saling mengenal lebih dulu. Bukan hanya saling mengenal secara personil, namun juga saling mengenal dalam konteks komunitas IP itu sendiri. 

Tak berselang lama, Mbak Endah, leader IP Semarang sempat mengajakku ngobrol, menawarkan satu kursi di perahu yang berlayar untuk tujuan mulia. Menjadi salah satu pengurus IP Semarang. 

Beberapa kursi kosong beliau tawarkan. Berkali-kali benakku bertanya, kenapa ditawarkan ke aku ya? Dan berkali-kali itu pula Mbak Endah meyakinkanku, bahwa diriku punya potensi untuk itu.

Hmmm.... jadi leader nampaknya juga kudu punya kemampuan cenawang, karena mampu membaca isi hatiku ples menerawang kemampuanku, wkwkwkwkwk. Guyon yo Mbak Endah ... 

Alhasil rayuan maut sang leader kala itu memincut kalbuku. Bukan sekadar hati, tapi menulang sungsum dalam kalbu (eeeaaa eeeaaaa). Penjelasan tentang jobdesk Manajer Online pun panjang lebar dijabarkan.

Oklik, diriku akan memulai peran baru. Biiznillah ...

Nuansa berbeda pastinya akan menyeruak ruang virtual IP Semarang. Akankah teman-teman siap dengan perubahan? Aku memang sempat khawatir akan hal itu. Style-ku yang rame, tentunya berbeda dengan style Mbak Adis, Manajer Online sebelumnya yang lembut dan kalem. Namun, aku begitu salud dengan beliau, Mbak Adis memberiku support untuk mengambil tongkat estafet tersebut. Sedikit banyak Mbak Adis menyampaikan proker-nya kala itu. Apa saja yang sudah berjalan dan apa saja yang belum sempat terealisasi karena beliau mengundurkan diri. Pengunduran diri yang memang harus beliau lalukan, karena kehamilan serta izin suami tidak lagi didapat untuk menjabat ManOn. 

Okeeee, saatnya semua bermula. Diriku dengan style yang rame dan memang sangat berbeda dengan style Mbak Adis mulai mewarnai kancah WAG IP Semarang. Pro dan Kontra mulai bersuara. Itu biasa saja sebenarnya, setiap perubahan, pasti akan menimbulkan reaksi dan respon. 

Hmmm ... helaan napas panjang dan tetap berusaha menstabilkan gelombang otak supaya tetap berada di state alpha adalah upayaku kala itu. Sebuah kejadian memang harus terjadi, dan bagaimana pun harus tetap disikapi dengan positif. Itu adalah kehendak Allah. Dan aku yakini, akan tetap ada hikmah baik untuk IP Semarang.

Jujurly, prokerku simpel saja saat menerima pinangan menjadi ManOn. Aku hanya ingin WAG IP Semarang tidak kriik kriiiik. Berisik Namun Berisi. Member yang hanya SR bisa diminimalisir, kembali pada tujuan bergabung di IP. Mau apa sih? Tujuannya ke mana sih? Dan kuajak untuk kembali melirik CoC komunitas yang kala itu memang sedang menjadi pokok bahasan bersama. Membumikan CoC IP.

Qodarullah, beberapa pendapat berbeda, dan sungguh, komunikasi online itu tidak semudah bertatap muka. Tulisan dan kalimat apa saja yang tertulis di ruang virtual itu tanpa ekspresi pengirimnya. Kita lah yang membacanya dengan ekspresi masing-masing, berdasarkan interpretasi masing-masing pula terhadap kalimat yang dibaca tersebut.

Persoalan personal yang ternyata dibawa ke ranah komunitas pun menjadi bumbu sedap. Beberapa member mengundurkan diri secara tertulis, beberapa yang lain memutasikan dirinya ke regional lain, lari dari regional Semarang.

Entahlah ... kala itu suasana memang sedikit memanas. Hingga aku pun sedikit merasa "gagal" memanage ruang virtual yang menjadi ranah kerjaku di IP Semarang.

Tapi, dukungan hampir semua pengurus serta puluhan teman member membuatku tetap kokoh berdiri. Satu stetmen yang sampai sekarang masih jelas dalam ingatan adalah dari Mbak Anis. 
"IP Semarang itu butuh orang sepertimu Mbak Hess. Pedes, teges, tapi juga luwes."

Aaaah ...., aku hampir melarikan diri dari pikulan tanggung jawab menjadi ManOn kala itu. Namun, dukungan teman-teman member serta tim pengurus selalu membuatku kembali bangkit. Di mana kalian bisa menemukan persahabatan seindah ini? Fix!! Ini adalah komunitas bergengsi!!

Periode kepengurusan berganti, namaku masih dipertimbangkan untuk tetap stay memangku jabatan ManOn. Namun, di kepengurusan periode berikutnya ini aku gak mau lagi sendirian. Aku meminta tim kepada leader. Dan ... terbentuk lah kami bertiga tim online hore hore. 

Mbak Marita Ningtyas dan Mbak Dian Eka, dua seniorku ini memang luarbiasa. Duuuuh, rasanya aku kurang ajar terhadap keduanya. Maka fix, kami menyebut diri dan melebur menjadi sebuah tim! Tidak ada atasan-bawahan dalam tim kami, masing-masing pegang peranan dan kerjasama. 

Diskusi renyah mulai dari program kerja hingga drama Korea. Jangan heran kalau kami selalu saja nyambung berbincang apapun. Selain sama-sama pecinta drama Korea, kami bertiga juga memang memiliki bidang minat yang sama, yaitu literasi. Obrolan apapun kontan selalu nyambung dan klik.

Frekuensi yang sama di antara kami bertiga membuat kami ngeblend lebih kentel, cepet dan kuat. Dan dari sini lah wacana untuk membuat WAG IP Semarang hidup bukan hanya sekadar wacana belaka, melainkan benar-benar menjadi realita.

Membangun sistem yang kami sebut GRUJA (Grup Kerja) adalah tantangan baru dalam periode kepengurusan ini. Gruja dibentuk dengan tujuan, semua member bisa ikut andil dalam menghidupkan WAG. Tidak melulu tim online yang sapa sipi atau pun membuat ide kulwap dan sebagainya untuk mengisi kancah per-online-nan, melainkan kami juga ingin semua member ikut berperan aktif. Bukan hanya sebagai "penerima materi", namun juga "pemberi materi".

Menghidupkan dan menumbuh suburkan ghiroh "berbagi dan melayani" dalam IP Semarang dengan kegiatan online di WAG. 
Grup Kerja bertugas selama sepekan, berisikan 15 orang. Dengan hari online di IP Semarang yang disepakati adalah senin-rabu-jumat, maka setiap hari online ada 5 orang yang bertugas. Baik sebagai pemateri, moderator, maupun notulen. Setelah Gruja #1 selesai di pekan pertama, maka pekan berikutnya berarti estafet ke Gruja #2, begitu seterusnya.

Alhamdulillah IP Semarang sudah bisa mengatasi para Silent Reader dengan sistem Gruja tersebut. Sosmed IP Semarang juga sudah tidak kebingungan lagi mau upload info apa saja. Karena saat WAG menjadi Berisik yang Berisi, notulensi dari kegiatan online tersebut menjadi dasar kami mengisi akun-akun sosmed IP Semarang. IG, FB bahkan blog IP Semarang pun menjadi lebih berwarna.

Semua ini tentu saja bukan hanya kerja keras tim online, melainkan seluruh member IP Semarang. Dan aku secara pribadi benar-benar terharu. Apresiasi tertinggi aku haturkan untuk seluruh member IP Semarang yang telah sukses menumbuh suburkan ghiroh "berbagi dan melayani". Gak ada kalian, gak rameeeee ....

Air mata bahkan menderas saat sistem Gruja IP Semarang ini menjadi percontohan untuk regional lainnya. MasyaAllah ... barakallah tim online IP Semarang ... Mbak Marita,Mbak Dian Eka ... 
Jazzakumullah khoiron katsiro Prosotan Ladiiiieeesss!!!!! Kalian luarbiasaaaa ....

Menjadi ManOn atau pun member biasa, bagiaku sama saja. Toh saat ini, ketika sistem Gruja sudah berjalan dengan apik, bahkan kami bertiga sudah hanya duduk anteng di belakang layar saja. Aku tetap harus bisa mengontrol waktuku sendiri untuk tetap ter-manage dengan baik, mengikuti ritme diskusi di WAG IP Semarang dan untuk keperluan online lainnya.

Menjadi pengurus atau pun tidak, sesungguhnya di IP Semarang sama saja. Apalagi di kancah per-online-an, bagiku semua member IP Semarang adalah pengurus! Mereka semua itu adalah bagian dari tim online!

Sungguh, komunitas ini adalah komunitas bergengsi yang tidak semua orang menjadi bagian di dalamnya. Siapa yang menentukan masuk atau tidaknya dalam komunitasku ini??? Allah!!!
DIA lah yang menentukan, siapa saja yang bisa masuk dan siapa saja yang belum DIA izinkan masuk. Jadi ... nikmat manalagi yang bisa aku dustakan jika kini aku telah menjadi bagian dari komunitas bergengsi ini??? 

Subhanallah wal hamdulillah ....


#iniSyukurkuManaSyukurmu
#AliranRasaAlaHessaKartika

OBROLAN SEMANIS ES KRIM

October 29, 2019 0 Comments



"Bun, boleh beli es krim hari ini?" Mata yang penuh harap itu menatapku.

"Hmmm ... katanya sisa jatah jajan minggu ini mau ditabung, kok malah mau beli es krim lagi sih. Emang gak bosen apa? Kemaren es krim, hari ini es krim lagi. Nanti mabok es krim loh. Setiap hari kok es krim melulu!" Aku sedikit keberatan.

"Bunda, Shahia itu pengen beli es krim yang rasa lain dari kemaren. Kemaren itu rasa durian, hari ini Shahia kepengen coba yang rasa semangka."

"Emangnya, kenapa harus cobain semua rasa?"

"Bunda, Shahia itu kan kepengen punya toko. Nanti tokonya Shahia juga jualan es krim. Biar Shahia tau, rasa es krim apa aja yang rasanya enak. Nanti Shahia jual di tokonya Shahia es krim yang rasanya enak, jadinya ya Shahia harus cobain semua rasa es krim dulu kan. Biar tau rasa apa aja yang enak." Dia mulai memaparkan alasannya.

Gadis kecil ini makin lama kuamati, otak bisnis melulu, batinku. 

Aku sebenarnya terkekeh sekaligus kagum dengan pemikirannya. Bermimpi menjadi pengusaha adalah hal baik. Selain bisa membuat orang menjadi kaya, bisnis juga bisa membuka lapangan pekerjaan. Akan tetapi menjadi pengusaha memang tidak mudah. Namun, aku tetap merasa agak tercerahkan. 

Sepertinya Bunda sudah menemukan gunungmu, Nak. Semoga kesimpulan Bunda benar, hatiku berkata dengan girangnya.


***


Bersumber dari artikel yang aku baca tentang ciri-ciri seseorang berjiwa bisnis (www.liputan6.com), aku mulai mengamati Shahia lebih detail.


1. Berani ambil risiko

Ciri-ciri pertama calon pengusaha sukses adalah sifat berani ambil risiko. Risiko memang selalu ada dalam kehidupan, terlebih di dunia bisnis.

Namun, mengambil risiko yang dimaksud bukanlah melakukan sesuatu tanpa berpikir panjang dan perhitungan matang. Risiko dilihat sebagai peluang keberhasilan bagi pengusaha sukses.


Shahia adalah tipe anak yang berani mengambil risiko, misalnya saja dia punya keinginan untuk bermain sebelum tugas hariannya selesai. Dia paham betul bahwa risikonya adalah dia akan tidur lebih malam, karena setelah pulang dari bermain, dia harus tetap melipat baju-baju yang sudah aku cuci. Dan itu tetap dia kerjakan tanpa keluhan.


2. Tidak tertutup

Sifat terbuka adalah sifat yang harus dimiliki oleh seorang pengusaha. Mengapa demikian? Karena sifat yang mau menerima saran dan kritik dari orang lain akan memberikan kemajuan diri untuk membangun usaha.

Untuk itu, orang-orang yang berjiwa pebisnis tidak pernah berpikir kritik dan saran orang lain tidak penting. Sebab, saran dan kritik orang lain bisa menjadi masukan berharga bagi pengembangan bisnis.

Shahia saat diberi nasehat, dia cenderung bisa menerima. Dibanding kakaknya, Aksan. Shahia tipe anak yang lebih terbuka dan saat diberi saran, misalnya saat dia sedang menggambar, lalu aku tiba-tiba menyarankan ditambah gambar lain, Shahia berpikir sejenak, dan ketika dia merasa saranku akan membuat gambarnya lebih bagus, maka dia akan turuti. 

Berbeda memang dengan kakaknya, di usia yang sama, dulu Aksan jarang bisa menerima saranku saat sedang mengerjakan sesuatu. Bikin PR aja misalnya dikasih masukan cara yang simpel, dia kekeh menggunakan caranya sendiri. Bukan bermaksud membandingkan, akan tetapi memang benar, bahwa semua anak itu unik. Mereka punya keistimewaan masing-masing.


3. Pintar menganalisis

Seorang pengusaha sukses biasanya merupakan seseorang yang dapat membaca situasi dan mengambil keuntungan dari situasi itu. Pengusaha sukses bisa melihat peluang bisnis besar bahkan dalam belitan masalah sekalipun.

Saat menghadapi masalah, pengusaha sukses mampu menganalisa akar masalah dan menghadirkan solusi untuk mengatasi masalah tersebut.

Aku melihat Shahia dalam hal menganalisa ini juga memiliki potensi. Contohnya obrolan es krim tadi. Membuatku terkekeh, akan tetapi sepertinya dia memang sedang melakukan analisa rasa es krim mana yang enak -menurutnya- sehingga dia akan jual nantinya di tokonya, yang entah kapan akan mulai ia buka, wkwkwkkwkwk.


4. Mudah beradaptasi

Ketika terjadi suatu masalah yang tidak diinginkan, entah itu terkait iklim bisnis atau yang lainnya. Seseorang yang berjiwa bisnis akan selalu bisa beradaptasi dengan keadaan yang ada dan merubahnya menjadi keuntungan.

Kemampuan adaptasi tersebut harus dimiliki, karena dunia bisnis yang terkenal dinamis dan serba cepat.

Jangan tanya tentang adaptasi kepada Shahia. Si tengahku ini, paling mudah bergaul dengan siapa saja. Di lingkungan baru pun, misalnya dia ikut saat aku menghadiri taklim atau acara-acara seminar, dengan mudahnya dia akan beradaptasi dengan lingkungan tersebut. Dia tidak rewel. 

Bahkan pernah waktu kami sedang di Jakarta, Shahia ikut denganku silaturahmi dengan beberapa teman di ibukota. Kami pulang pergi dari Tangerang - Bekasi dengan menggunakan transportasi umum, KRL. Karena diriku belum hafal betul jurusan dan berhenti di stasiun mana saja, aku ternyata salah naik. Kejadian itu kontan aja lucu sekaligus melelahkan. Namun nyatanya, Shahia tetap ceria sedangkan Kak Aksan sudah pasang tampang cemberut.


5. Berpikir beda

Apabila ingin meraih sukses sebagai pengusaha maka seseorang perlu berpikir di luar kebiasaan. Pengusaha sukses biasanya mempunyai cara berpikir yang berbeda daripada orang kebanyakan.

Meskipun, perbedaan cara berpikir tersebut nantinya mendapat cibiran dari berbagai kalangan bahkan keluarga sekalipun.

Pemikiran yang berbeda ini mungkin belum begitu nampak pada Shahia. Namun keberaniannya untuk tampil beda memang sudah muncul. Shahia tipe anak yang semaunya dalam berpenampilan, dia gak malu walaupun warna gamis dan kerudungnya itu gak match. Atau kadang memakai rok, kaos lalu masih pula berjaket dan kerudung dengan corak dan warna yang campur aduk. Kadang ngeliatnya aja udah males, apalagi jalan bareng dengan Shahia yang berdandan gak karuan, tapi benar-benar dia cuek dan selalu merasa nyaman-nyaman saja dengan style-nya yang menurutku, acak-acakan.


6. Hitungan jitu

Sebagai seorang pengusaha, maka melakukan analisa dan memiliki perhitungan yang matang adalah keharusan. Jadi, butuh pembiasaan diri untuk memperhitungkan segala kemungkinan yang terjadi dengan matang, mempersiapkan rencana yang jelas dari analisa dan perhitungan yang dilakukan tersebut dan mencoba melakukan.

Untuk saat ini, Shahia belum sampai pada level ini. Semoga nanti seiring bergulirnya waktu, dia tumbuh menjadi lebih matang dalam perhitungan yang erat kaitannya dengan analisa.


7. Tidak takut gagal

Tidak pernah ada seorang pengusaha sukses di dunia ini yang langsung menuai kesuksesan pada langkah pertama. Semuanya pasti pernah mengalami kegagalan terlebih dahulu bahkan kerugian berkali lipat sekalipun. 

Akan tetapi, semua kegagalan tersebut tidak dilihat sebagai hambatan yang menghentikan mereka untuk meraih tujuan. Justru kegagalan tersebut menjadi pemicu untuk lebih bekerja keras dan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang ada. 

Sikap pantang menyerah dan tidak takut untuk gagal ini pulalah yang sedang aku tumbuh suburkan pada ketiga anakku, bukan hanya Shahia saja, melainkan juga Kak Aksan dan Lula.

Kenapa?

Karena menurutku, karakter pantang menyerah dan tidak takut gagal, terus mencoba, ini adalah bagian penting yang paling mendasar dari semua bidang.







Monday, October 28, 2019

DO IT WITH PASSION, OR NOT AT ALL

October 28, 2019 0 Comments

"Bun, setelah selesai melipat cucian, Shahia boleh minta uang jajan?"

Aku dengan ringan mengganggukkan kepala. Aku menyadari betul bahwa di usianya yang masih 7 tahun, Shahia masih belum benar-benar paham konsep bekerja ikhlas, alias tanpa pamrih. Namanya juga anak-anak, ketika mereka melakukan banyak hal, tentunya juga ingin menuntut banyak hal kepada kita, orang tuanya. 

***

Kebiasaan memberi uang jajan setelah anak-anak melakukan tugas hariannya memang tidak setiap saat aku lakukan. Anak-anak tidak kubiasakan "jajan" setiap hari. Anak-anakku belajar bagaimana mengelola sabar tentang kapan keinginan mereka dipenuhi, serta belajar memberi tanpa harus mengharapkan balasan. 

Sebagai orangtua, aku nggak ingin melewatkan masa-masa tumbuh kembang anak setiap hari. Semakin anak bertambah besar, maka semakin tinggi pula minat mereka untuk menyerap pengetahuan, serta segala sesuatu yang mereka lihat, dengar dan juga rasakan. Nah, tugasku sebagai orangtua tentunya harus mengajarkam mereka hal-hal positif, termasuk soal keuangan.

Mau nggak mau, suka atau nggak suka, seiring perkembangannya, anak akan pintar dan mengenal soal nilai uang. Jadi, aku merasa, sudah menjadi kewajiban untuk mengajari mereka apa itu uang dan gimana cara mengelolanya.

Seorang penulis terlaris yaitu Rachel Cruze membagikan tips simpel untuk membantu para orangtua sepertiku.

Cruze yang bekerja dengan ayahnya, Dave Ramsey, ini mengatakan bahwa sebagai orang tua, kita perlu mengajarkan anak-anak prinsip-prinsip cara mengelola uang yang cerdas sejak dini.

"Mempelajari bahasa asing sejak usia 4 tahun lebih mudah dibanding mempelajari bahasa asing ketika usia 40 tahun. Hal yang sama berlaku dengan mengelola uang," katanya.

Jadi, aku pun merangkum beberapa prinsip yang bisa aku lakukan untuk anak agar bisa belajar lebih banyak soal keuangan!

1. Mengajar anak-anak untuk bekerja dulu baru bisa mendapatkan uang.

Menurut Cruze, sangat penting bagi anak untuk memahami bahwa untuk mendapatkan uang, maka kita harus bekerja. Uang bukan berasal dari dompet ayah atau ibu melainkan dari doa dan hasil kerja keras.

Nah, aku benar-benar menerapkan hal ini di rumah. Ada banyak hal kok yang bisa mereka lakukan. Misalnya, jika mereka ingin mendapatkan uang membeli es krim, maka aku bisa menyuruhnya untuk menaruh bajunya yang kotor ke tempatnya, atau mungkin tidy up alias membersihkan mainannya baru bisa dapat uang atau beli jajan es krim.


2. Nggak masalah kok ternyata, jika kita mengizinkan mereka membuat kesalahan soal uang mereka.

Ada banyak orangtua yang suka marah jika anaknya melakukan kesalahan mengenai pengelolaan uang mereka. Padahal itu hal yang kecil loh!

Pada akhirnya, setelah mereka besar, mereka pun melakukan kesalahan karena dari kecil mereka tidak diajar bagaimana rasanya salah dalam mengelola uang.

Terkadang, aku memberikan Shahia uang jajan mingguan. Dan selama seminggu, dia nggak aku perbolehkan untuk meminta uang jajan lagi, tetapi juga tetap ku pantau apa saja yang dia beli.

Nah, suatu ketika, Shahia salah mengatur keuangannya. Uangnya habis padahal belum seminggu, lalu dia merengek meminta kepadaku. Tapi aku tetap tegas, tidak memberikan uang tambahan, sehingga akhirnya Shahia tidak jajan untuk dua hari.

Karena kejadian tersebut, dia pun merasa belum mampu mengatur keuangannya sendiri. Dia memintaku untuk memberinya uang jajan, saat dia minta saja. Dan aku meng-iya-kan keinginannya dengan beberapa kesepakatan. Seperti misalnya, dalam seminggu jatah jajannya tetap di nominal yang sama, meski pun tidak diminta setiap hari. Dan jika ada sisa, ditabung di celengannya. 

Aku mendidik anak-anakku untuk mengatur keuangan dan bertanggung jawab terhadap uangnya sendiri.


3. Mengajari anak untuk terbiasa menabung sejak dini

Menyimpan uang adalah sikap yang disipilin, begitu kata Cruze. Jadi aku pun mengajari anak-anak untuk menabung uangnya, persis ketika aku memberinya uang untuk hasil kerja kerasnya.

Aku membelikan mereka celengan. Mereka menabung di celengan, setelah beberapa lama, sesuai keinginan mereka sendiri biasanya, celengan akan dibuka dan uang tabungan dialihkan ke rekening bank supaya lebih aman. 

Aku berharap, kebiasaan menabung itu bisa mereka rasakan manfaatnya kelak. Mereka akan tahu bagaimana menabung dan menyisihkan uang bahkan ketika merantau.

***

"Sudah selesai, Bunda!" Shahia dengan riang menghampiriku.

"Oke, cantik. Ini uangnya. Mau beli apa sih?" 

"Shahia cuma kepengen beli es krim kok, Bun. 3000 aja," katanya.

Aku berikan sejumlah nominal yang dia minta. "Nih, minggu ini jatahnya sisa 5.000 aja loh ya."

"Oke, Bun. Yang 5.000 ditabung aja. Shahia besok gak minta jajan lagi."

"Nak, meskipun gak setiap selesai mengerjakan sesuatu Bunda kasih uang jajan, Shahia harus tetap mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh ya. Masih inget kan obrolan kita kemarin? Barangsiapa Bersungguh-Sungguh, Dianggap Mengerjakan Amalan Secara Sempurna. Jadi kerjakan dengan sungguh-sungguh atau tidak sama sekali."

"Inget kok, Bun. "

"Alhamdulillah ... "

"Shahia kepengen jadi apa sih kalau sudah dewasa?"

"Hmmmm ... pengen jadi Guru yang juga jualan."

"Jualan apa?"

"Jualan keripik, jualan buku, jualan baju, kerudung, mukena, tas, pensil, pokoknya kaya toko gitu, Bun."

"Wah, masyaAllah ... semoga diijabah Allah ya, Nak. Berarti mulai dari sekarang, Shahia harus selalu bersungguh-sungguh dalam segala hal. Mengerjakan apa saja gak boleh asal-asalan. Seperti nasehat Rosullullah, Bersungguh-sungguhlah dalam hal-hal yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah, juga janganlah pernah-kali-kau-izinkan lemah. Jika kamu tertimpa sesuatu, maka janganlah kamu mengatakan, 'seandainya aku melakukannya, pastilah tidak akan begini atau begitu'. Namun katakanlah, 'ini telah ditakdirkan oleh Allah dan Allah melakukan sesuai dengan apa yang dikehendaki'. Karena sesungguhnya perkataan seandainya akan dibuka (pintu) bertindak setan. "

Obrolan kami beberapa menit membuat Shahia menunda keinginan untuk beranjak ke warung dekat rumah. Tapi, karena aku ingin memberinya apresiasi, maka kupersilakan dia bermain dan jajan es krim seperti keinginannya.

***

Aku berusaha untuk terus mengingatkan mereka bahwa segala sesuatu berasal dari Allah, jadi haruslah mereka menghormati dan menghargai serta mengatur pemberian Allah dengan baik! Entah itu berupa rezeki yang sifatnya materiil (uang), maupun rezeki kesehatan, kesempatan sehingga mereka selalu bersungguh-sungguh dalam mengerjakan kebaikan.