Wednesday, April 3, 2019

AKU BISA SENDIRI!

April 03, 2019 0 Comments

Riweh pagi-pagi itu udah biasa yess untuk genk emakers.  Mulai dari memfoward speaker masjid saat subuh (baca : oprak-oprak krucils bangun dan subuhan juga), siapin sarapan, bekal makan siang, sampai urusan kamar mandi.

Sebelumnya, Shahia yang sekarang udah kelas 1 SD, masih selalu butuh bantuan untuk sekadar make dasi, atau benerin ikat pinggang. Qodarullah untuk urusan mandi, pakai seragam, nyiapin buku pelajaran sampai urusan ikat rambut, pakai inner kerudung dan kemudian menutup kepalanya dengan kerudung, dia udah bisa mandiri. Alhamdulillah...

Keceriwisan darinya adalah saat pasang dasi atau ikat pinggang.

"Bunda, tolongin...."

"Nak, Shahia coba sendiri dulu deh, sini Bunda kasih tau caranya."

"Hmm.. gitu ya."

"Gimana? Mudah kan? Dulu Shahia juga belum bisa kancingin baju, tapi karena belajar lalu jadi bisa. Bener kan? Nah, kalau mau belajar, InsyaAllah pasti bisa. Tidak bisa itu tidak ada, Nak. Yang ada itu ga mau coba, ga mau belajar, sampai kapan pun juga ga akan bisa."

"Oke deh Shahia coba sendiri!"

"Eeeiittss jangan lupa, baca apa dulu?"

"Bismillaaaah...."

"Karena yang membuat bisa itu Allah, jadi harus minta pada-Nya dulu ya Nak, untuk dimudahkan Allah. Yang tadinya belum bisa menjadii......"

"Menjadi bisaaaaa Bunda!"

Aku tersenyum dan hanya sesekali memerhatikan dia sibuk memasang ikat pinggangnya. Dan yaaaap!! Berhasil...

"Bundaaaaa, Shahia bisaaaaa!! Alhamdulillah!"


Dan akupun legaaa...
Alhamdulillah...




#hari5
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional
#HessaKartika
#kelasmenulisonline
#kelompokF4
#saskia
#day9

Bunda Gak Adil!!

April 03, 2019 0 Comments

"Bun, kenapa sih kalau minta tolong ke Kakak dan Shahia, mesti banyakan Kakak!" Sulungku protes.

"Maksud Kak Aksan gimana?"

"Kalau libur sekolah gini kan pasti kita kerjasama, ngerjain tugas-tugas rumah. Kakak sama Shahia juga angkatin jemuran sama lipetin jemuran. Kenapa sih Shahia selalu Bunda minta lipetin yang kecil-kecil doang? Kalo kakak, lipetin baju yang besar-besar terus juga lebih banyak? Bunda gak adil!" Aksan dengan nada sewot, nampaknya dia mulai gelisah dengan pembagian tugas rumahan yang dia rasa tidak adil baginya.

"Oke, jadi kakak merasa bunda ga adil gitu?"

Dengan wajah masam, dia menganggukkan kepalanya. Aku berdehem, menarik napas panjang. Sebenarnya aku berpikir bagaimana caranya menjelaskan pada si kakak. Lalu, di tumpukan pakaian yang baru diangkat dari jemuran, aku melihat sepasang gamis pink. Yang satu milik Shahia, anak keduaku. Dan satu lagi milik Nayura, anak bungsuku. Aku ambil dua gamis anak itu, lalu kuhamparkan di lantai.

Aksan dan Shahia nampak bingung melihat apa yang aku lakukan. Lalu aku menunjuk kedua gamis itu sambil berkata pada keduanya, terutama si Kakak.

"Gamisnya sama ga Kak?"

"Sama apanya? Warnanya? Kalau warnanya ya sama, pink. Bunda kan sengaja beliin kembaran Shahia sama Nayura," jawabnya.

"That's right! Memang sama warnanya, Sayang. Modelnya juga sama persis. Ukurannya sama juga ga?" tanyaku.

"Beda lah Bun! Punya Shahia lebih besar, punya Nayura lebih kecil," Shahia ikut nyeletuk.

"Ah, itu kakak juga tau," Aksan masih sewot merespon adiknya.

"Menurut kakak, bunda adil gak? Beliin baju Shahia dan Nayura, ukurannya beda? Kok ga sama sekalian ukurannya?" Aku masih fokus dengan Aksan.

"Ya adil lah. Masa kalau dibeliin ukurannya sama, kalau ukuran Shahia, Nayura kebesaran. Kalau ukuran Nayura, Shahia yang kekecilan. Ya memang harusnya belinya ukurannya beda." Aksan menjawab dengan lugas.

"Nah, adil itu demikian, Nak. Memberikan sesuatu sesuai dengan ukurannya. Kakak nglipet baju lebih besar dan lebih banyak, karena memang kakak juga lebih besar dari Shahia. Seperti halnya baju adek-adek kakak tadi. Warnanya sama, modelnya juga sama, tapi ukurannya beda, sesuai dengan usia dan ukuran badan mereka. Justru kalau bunda beliin yang sama semuanya, bunda ga adil, karena hanya salah satu yang bisa make bajunya, sedangkan yang lainnya ga bisa make karena ga sesuai dengan ukurannya. Jadi, kakak masih bilang Bunda enggak adil?"

"Ga Bun, kakak paham. Kakak minta maaf ya Bun."

Seketika langsung aku hujani dia dengan Peluk dan ciuman hangat. Kedua adiknya pun tersenyum, dan kurengkuh ketiganya dalam pelukanku.

Alhamdulillah ... hari ini anakku belajar "konsep adil". Semoga dia benar-benar memahami dan bisa menerapkannya dalam kesehariannya. Aamiin....



#hari4
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional
#HessaKartika
#kelasmenulisonline
#kelompokF4
#saskia
#day8

Sunday, March 31, 2019

Menyayangi Saudara

March 31, 2019 0 Comments



"Bunda, Lula mau naik mobil-mobilan."

"Hmm, itu mobilnya ga bisa jalan lo Dek. Ga ada remote-nya. Harus didorong. Bunda dorongin, tapi kalau Bunda capek, kita istirahat ya!"

"Oke Bunda!"

Dasar bocah, udah ada perjanjian lisan seperti itu, tetep aja saat emaknya angkat bendera putih, si bocah kekeh ga mau turun dari mobil-mobilan. Hadeeeh .... #tepukJidat

Tapi seperti ada cipratan ide dari Einstein saat si kakak mendekatiku. "Ahaaaaaaa!!!!"

"Kak, sama adek sayang kan?"

"He em! Sayang lah, Bun! Sama Bunda, sama Kakak juga sayang," jawab si kakak, si anak tengah (baca : kedua).

"Uhmm... kalau sayang sama adek, berarti boleh dong kalau adek dibikin seneng. Biar ga rewel gitu."

"Boleh aja, memangnya mau apa Bun?"

"Adek kan mau naik mobil-mobilan itu, Bunda capek dorongin. Boleh kan kakak sekarang yang gantian dorongin adek? Biar adek seneng gitu."

"Oh .. gitu doang? Okelah Bun!"

Alhamdulillllaaaaah ... leganya ...
Menanamkan konsep saling menyayangi ke anak-anak ternyata simpel. Cukup dengan bahasa dan contoh tindakan sederhana aja. Selain pelukan dan ciuman, anak-anak juga harus dipahamkan bahwa menyayangi itu, juga bisa dilakukan dengan tindakan "menyenangkan orang yang disayangi".

MasyaAllah ...

@institut.ibu.profesional
#kelasmenulisonline
#kelompokF4
#saskia
#day6

Mengendalikan Emosi

March 31, 2019 0 Comments


Beberapa hari kesibukan emaknya yang wira wiri, membuat si gadis kriwilku mulai manyun, karena sudah pasti dia sering ditinggal di rumah eyang utinya. Dan kalau sudah begitu, apa saja bisa jadi penyebab dia menjadi badmood, rewel bahkan tantrum!

Emak harus tarek napas, senam wajah beberapa saat, hingga akhirnya berhasil mengendalikan diri supaya enggak terlibat emosi si kriwil ini. Istighfar adalah senjata utama dan pertama sambil menarik napas panjang!

Saat fisik maupun mental kita sibuk, dan banyak menggunakan logika dalam berpikir, gelombang otak lebih sering akan berada di state betha. Menurunkan gelombang otak ke alpha adalah suatu keharusan, supaya jiwa tetap tenang dan "waras", alias tidak gampang tersulut emosi.

Alhmdulillah ... si kriwil cantikku pun lebih bisa terkendali, karena mamak berhasil mengendalikan diri sendiri. Memang benar, sebelum merubah orang lain,diri sendiri dulu harus berbenah. Sebelum mengendalikan tantrum si kecil, emak pun harus mengendalikan emosi dulu.



#hari2
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional
#HessaKartika

#kelasmenulisonline
#kelompokF4
#saskia
#day7

Membantu Bunda dengan Bahagia

March 31, 2019 0 Comments


"Bunda, ini bukunya mau diapain lagi?" tanya gadis kecilku polos.

"Mau dibungkusin kaya kemarin, Sayang. Lula mau bantu?"

"Lula bantu apain?"

"Lula boleh bantu ambilin plastiknya, atau ambilin bukunya."

"Lula mau ambilin bukunya aja ah," dengan riang dia mulai mengambil satu buku dari tumpukan buku-buku yang lain.

"Anak hebat! Terimakasih, soliha-nya bunda." Aku memeluk dan memberinya ciuman di pipi kanan kiri. Senyumnya makin lebar, merekah...

"Lula mau bantu lagi ah, boleh?" tanyanya, masih dengan senyum yang merekah.

"Boleeeeeh doooonk," jawabku singkat sambil mengerling padanya.

"Bunda, siniin tangannya," celetuknya tiba-tiba.

"Apanya? Jari Bunda yang ini?" balasku dengan tanya dan sedikit bingung, karena dia menyuruhku mendekatkan jari kelingkingku kepadanya.

"Gini loooo, Bunda. Janji-janji, Lula nanti dibeliin jajan. Lula kan hebat kata Bunda."

Aku tergelak seketika... masyaAllah bocah ini, membahagiakanku bahkan dia membantuku dengan bahagia. Wajarlah kalau memang ada hak "jajan" yang harus kukeluarkan untuknya.




#hari1
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional

#kelasmenulisonline
#kelompokF4
#saskia
#day5

Belajar Meminta Maaf

March 31, 2019 0 Comments


"Bundaaaa ... Lula minta maapp. Lula ga nangis lagi. Lula mau nurut sama Bunda aja. Bunda gak boleh marah." 

Aaahhh ... kalimatnya itu selalu terngiang setiap kali dia merasa bersalah dan aku berakting sedih atau pun kecewa karenanya.

Bocah 3,5 tahun yang menjadi amanah ketiga untukku ini belajar meminta maaf setelah "alot" tidak mau meminta maaf setiap kali sengaja maupun tidak sengaja melakukan kesalahan.
Namun, sejak aksi diamku, saat beberapa kali dia sengaja melakukan sesuatu yang memang kurang pas, dan "ngeyel" saat ditegur, hingga akhirnya aku memilih diam (seolah menunjukkan padanya bahwa aku tidak peduli lagi, karena kecewa atau berekspresi marah), Lula akan mulai merengek meminta maaf.

"Bunda, Lula minta maap." Dia mulai terisak di sebelahku.

"Lula tadi janji apa di rumah?" tanyaku dengan nada lebih lembut.

"Kalo ikut Bunda ngaji, Lula gak rewel, gak minta pulang," jawabnya masih dengan isakan.

"Lha terus, kok Lula rewel, minta cepet pulang, mau ngapain di rumah?" tanyaku lagi.

"Lula mau nenen botol. Lula ngantuk, mau bobok."

Astaghfrullah, siang itu bukan hanya Lula yang belajar untuk meminta maaf, tapi aku pun belajar untuk meminta maaf padanya karena kurang memahami keinginannya. Segera kurengkuh dia dalam dekapanku. Dan kubisikkan kata maaf.

"Bunda ga tau kalo Lula ngantuk, besok lagi Lula bilang ya, kalau mau nenen botol dan mau bobok. Ga boleeeeh ...." Aku sengaja memberinya ruang untuk menjawab.

"Ga boleh rewel sama ga boleh ngamuk di tempat ngaji," jawabnya polos, isakannya sudah terhenti.

"Anak pintar. Oke yuk kita pulang!"

Akhirnya aku "mlipir" dari majelis taklim, lampu merah sudah menyala dari anakku, saatnya menghentikan aktivitas sosial dan kembali fokus pada amanah yang Allah titipkan padaku.


#praT10hari
#gamelevel1
#bunsayJateng
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional

#kelasmenulisonline
#kelompokF4
#saskia
#day4

Monday, May 7, 2018

Hancurkan Keterbatasan

May 07, 2018 2 Comments


“Dalam hidup kita, cuma satu yang kita punya, yaitu keberanian. Kalau tidak punya itu, lantas apa harga hidup kita ini?” 
― Pramoedya Ananta Toer

"Jangan, Dek! Nanti jatuh ...," suara serak berteriak di belakangku. Terlihat seorang ibu muda nan cantik dan terlihat segar menampilkan wajah wajah cemas saat putri kecilnya menaiki sebuah tangga ketika hendak bermain prosotan.

Lalu duduk di sebelahku. "Kamu kok santai aja? Ga takut Nay jatuh?"

Aku tersenyum tipis seraya menggelengkan kepala. Dia semakin bingung dengan sikap datarku, yang menurutnya aku terlalu cuek terhadap anakku sendiri.

Heeeiii... mana ada emak yang cuek sama anaknya???
Duuuh, aku harus benah-benah diri nih kaya'nya...

Tapi aku berusaha untuk tetap tenang, sambil memusatkan pandangan kepada bocah lucu yang sedang naik di atas prosotan dan memanggilku histeris penuh kegembiraan, "Bundaaaaa..."

Nay, sudah berada di atas prosotan. Sebentar lagi dia akan duduk, kemudian berseluncur hingga dasar prosotan. Senyum bahagianya menghapus segala kecemasanku. Tawanya yang lepaslah yang membuat kekawatiranku sirna. Terlebih sejumlah keyakinan yang sudah aku bungkus, bahwa kecemasan serta kekawatiran yang ada sesungguhnya berasal dari diri sendiri. Dan sesungguhnya, Allah itu sesuai dengan prasangka hambaNYA. Jadi, bukanlah lebih baik aku berprasangka yang baik-baik saja??

Dari tingkah bocah kecilku yang nekad dan melihatnya merayapi tangga dengan semangat, membuatku tersadar akan satu hal. Bahwa memang keterbatasan itu harus dihancurkan oleh diri sendiri. Allah menciptakan manusia sebaik-baiknya makhluk. Kecemasan, kekawatiran dan prasangka negatif lain yang belum jelas perwujudannya di masa depan itu sebenarnya adalah Batasan Pandangan kepada Diri Sendiri dan Sekitarnya.

Kembali bertingkah seperti bocah kecil yang tak pernah takut, cemas ataupun kawatir untuk kembali menjadi sosok yang bahagia, nampaknya adalah bukan hal mudah untuk para orang dewasa. Timbunan masalah kehidupan yang terpikul seiring bertambahnya usia membuat kita, para orang dewasa, lebih sering merasa takut dan kawatir akan hal-hal yang bahkan belum pasti terjadi di masa depan.

Terlalu mencemaskan masa depan. Terlalu mengkawatirkan kegagalan yang bahkan satu langkah pun belum kita mulai untuk sekadar "mencoba". Atau, kita terlalu terkecoh dengan kisah hidup oranglain yang menurut pandangan kita masuk dalam kategori "dramatis". Sehingga kekalutan menjadi warna dalam nuansa meraih impian.

Genks, nampaknya memang kita harus kembali kepada fitrah. Bahwa kebahagiaan itu tidak perlu dicari, namun dia ada di dasar hati kita sendiri.




Hancurkan Keterbatasan, nampaknya adalah salah satu kunci membuka kebahagiaan untuk diri sendiri. Dan untuk itu, keberanian adalah harga yang harus kita beli.

Berani berubah!
Berani pecahkan keterbatasan!
Berani memberi harga untuk hidup kita sendiri!



Diikutkan dalam May's Challenge: "Gratitude Journal Rumbel Literasi Media Ibu Profesional Semarang."

#HessaKartika
#MaysChallenge
#LiterasiMediaIPSemarang
#rumbelliterasimedia
#ibuprofesionalsemarang
#ibumenulis
#berkaryadanberdaya