Monday, October 28, 2019

JUST DO THE BEST!

October 28, 2019 0 Comments




Pagi yang sama ...

Setelah membereskan tempat tidurnya, tanpa perintah, Shahia mengambil sapu.

Dia mulai menyapu sambil bersenandung, entah lagu apa.

Aku hanya sesekali memperhatikan, sambil menguntit untuk mengambil gambarnya, wkwkwkwkkw.

Tak lama, dia menyelesaikan pekerjaan menyapu lantai rumah, aku mendekati dan memeluknya.

"Anak Bunda hebat sekali. Calon orang sukses! Aaamiin. Nak, ingat ya, orang sukses itu bekerja dengan sungguh-sungguh dan ikhlas. Kita bisa mendapatkan hasil yang baik dengan usaha yang sedikit dan kita bisa mendapatkan hasil yang terbaik saat kita bekerja sungguh-sungguh dan ikhlas. Tapi, apapun yang kita lakukan tidak bisa menghasilkan sesuatu yang luar biasa, jika kita hanya melakukannya dengan asal-asalan. Tidak ada jalan pintas untuk kaya, tidak ada usaha yang berhasil dalam satu malam. Semua keberhasilan dirintis dari usaha dan kesabaran yang tidak sedikit. Jadi mulai sekarang, jangan lagi membuang waktu dengan menunda-nunda pekerjaan."

"Oke, Bun!" sahutnya cepat.

Aku memeluknya sekali lagi sambil mendaratkan kecupan di pipi kanan kirinya. Ah, nikmat manalagi yang bisa aku dustakan jika Allah luarbiasa dalam memahamkan anak-anakku?

Subhanallah wal hamdulillah ...

MENGAJARKAN ANAK TENTANG KEBIASAAN ORANG SUKSES

October 28, 2019 0 Comments





"Bun, Shahia kepengen jadi orang sukses!" celetuknya tiba-tiba.

Aku agak tersentak. Dia dapat kosakata "sukses" dari mana ya? batinku.

"Hmmm .... emang orang sukses itu apa sih?"

"Orang kaya itu lo, Bun"

"Terus kaya itu apa sih?"

"Banyak uangnya, rumahnya besar, bagus dan luas. Mainannya banyak dan bagus-bagus. Punya sepeda, punya mobil, punya buku banyak, punya Ipad, punya kasur tingkat dua, gamis dan kerudungnya bagus-bagus. Teruuuss orang kaya itu kalau sedekah banyak, Bun!"

Aku terkekeh pelan mendengar celotehannya. 

"Nak, mau gak Bunda ceritain kebiasaan orang sukses?"

"Mauuuu laaaah!" Dia pun beringsut mendekat padaku. Kakak dan adiknya ikut melirik dan tak lama ketiganya duduk mengelilingku.

"Nah, Bunda sekarang bacain tulisan tentang rahasia orang sukses ya ... Orang sukses itu punya kebiasaan. Aktivitas harian mereka itu berbeda dengan orang biasa. Orang sukses bukan hanya dinilai dari hartanya, Nak. Bukan berarti orang sukses itu kaya. Bukan berarti juga, orang-orang kaya itu adalah orang-orang yang sukses."

"Loh kok gitu, Bun?" Shahia mulai menyela.

"Dalam Islam, sukses juga memiliki arti khusus. Sukses dalam Islam bukan hanya terkait dengan hal duniawi saja, kekayaan harta misalnya, seperti yang sebagian besar orang pikirkan selama ini, termasuk Shahia tadi sebutkan.

Sukses dalam Islam berarti hal yang luas, mulai dari pekerjaan atau keuangan juga membantu orang lain, berhasil dalam hal mengendalikan hawa nafsu diri sendiri, misalnya mengendalikan marah. Dan yang paling penting adalah mampu menjalankan semua perintah Allah. Nah, sukses menurut Islam adalah kebahagiaan yang kekal atau abadi, yaitu kebahagiaan di dunia juga di akherat. Kita sebagai manusia tentu saja memiliki harapan untuk menjadi orang sukses, entah itu dalam urusan dunia atau akherat. Islam memiliki cara agar kita menjadi orang sukses. 

Kak Aksan, Shahia dan Lula sebenarnya bisa membangun kebiasaan sendiri yang akan menjadikan kalian orang sukses. Masa depan adalah kebiasaan-kebiasaan kita di masa lalu. Jadi, kalau mau sukses di masa depan, harus melakukan kebiasaan orang sukses di masa sekarang. Kuncinya mengikuti 4 hal. Mau tau gak nih?"

Kak Aksan dan Shahia menjawab nyaris serempak, "Maaauuuuu."

Sedangkan Lula hanya melongo, karena sudah pasti bocah 4 tahun itu belum paham apa yang aku sampaikan.

Aku pun melanjutkan, "Kebiasaan pertama orang sukses adalah membangun jiwa dengan rajin beribadah. Ibadah wajib dan juga ibadah sunnah. Ibadah wajib pasti sudah tau kan, sholat 5 waktu, puasa pada bulan Ramadhan. Nah, kalau ibadah sunnah apa aja hayo?"

"Sedekah Bun." Aksan menjawab dengan cepat.

"Sholat dhuha," Shahia ikut menjawab.

"Betul, sedekah, infaq, wakaf, sholat dhuha itu termasuk ibadah sunnah. Selain itu, adalagi, ibadah sunnah yang lain dan banyak sekali. Semua yang diajarkan Rosul adalah ibadah sunnah. Mencintai kebersihan dan kerapihan, makanya ada hadist tentang cinta kebersihan kan? Nah lalu yang kedua, kebiasaan orang sukses adalah mengatur pola makan dan olah raga. Makan tepat waktu, olahraga teratur, tidak harus lari pagi, tapi dengan melakukan aktivitas fisik di rumah pun juga sama halnya dengan berolah raga. Lalu yang ketiga, kebiasaan orang sukses adalah suka belajar dan membaca buku. Dan yang terakhir, kebiasaan orang sukses adalah selalu memikirkan mana yang dikerjakan dulu dan mana yang dikerjakan kemudian, ini yang sering Bunda sebut dengan skala prioritas."

"Wah, gitu ya Bu. Lalu kita mulai dari mana biar jadi orang sukses?" Shahia masih terus bertanya.

"Yuk, mulai dari membangun kebiasaan yang dilakukan orang sukses dulu, Nak. Karena kesuksesan itu terlahir dari kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan setiap hari. Belajar dan rajin membaca buku-buku yang bermanfaat sama halnya dengan berjalan menuju kesuksesan. Maka, mulai dari sekarang, harus lebih semangat saat melakukan ibadah, baik ibadah wajib maupun sunnah."

"Oke, Bun!" jawab Shahia. Kak Aksan hanya tersenyum lebar.

Keesokan harinya, tanpa dikomando, Shahia setelah bangun tidur, wudhu, sholat Subuh, lalu dia menuju ke kamar lagi, dan kuintip dia sedang membereskan tempat tidur.

Ah, senangnya ... kupetik satu hal dari pengamatanku terhadap Shahia, nampaknya dia sedang bersungguh-sungguh menjadi orang sukses. Dan aku kembali mengingatkan diriku sendiri, aku juga perlu membangun kebiasaan menuju kesuksesanku. Suksesku adalah saat kutemukan gunungmu, Nak!

CERITA TENTANG SHAHIA : MENUMBUHKAN ETOS KERJA PADA ANAK

October 28, 2019 0 Comments




Game level #7 ini sejujurnya membuatku mengerutkan dahi. Kenapa? 
Karena aku harus memilih untuk satu saja dari ketiga buah hatiku. Ya ... memilih satu dari mereka untuk dijadikan bahan tulisan T10. Observasiku tetap pada ketiganya, namun memang ada ketentuan untuk memilih pada anak yang mana untuk lebih difokuskan.


Pilihanku jatuh pada Shahia, 7 tahun. Kenapa? Itu pasti akan jadi pertanyaan berikutnya bukan?

Jawabannya, terkait dengan tema "Semua anak adalah bintang" dan di game level #7 ini, diriku harus menaklukkan tantangan untuk menemukan "gunung" pada ketiga anakku, yang kemudian fokus pada meninggikan gunung tersebut, bukan meratakan lembah.

InsyaAllah, gunung Kak Aksan, si sulung, sudah lebih mengerucut. Mulai meninggi? Belum juga sebenarnya, namun setidaknya diriku sudah mulai perlahan memahami di mana letak gunung sulungku itu.

Sedangkan Lula, si bungsu? Apakah juga sudah ketemu gunungnya sehingga memilih Shahia, si tengah, untuk game level ini? Enggak juga! Justru karena Lula masih berusia 4 tahun, dan menurutku, saat ini dia masih berada pada masa mengeksplor semua bidang, jadi belum nampak sepertinya gundukan gunung miliknya.

Yap! Akhirnya pilihan jatuh pada Shahia. Dengan segenap jiwa (eeaaa eeaaa) aku pun mulai lebih fokus mengamati setiap aktivitasnya. 

Ketiga anakku sudah memiliki kebiasaan yang kami sebut "aktivitas harian". Aktivitas harian itu berisikan beberapa pekerjaan rumahan yang memang sudah mereka petakan waktunya dan bagi sesuai porsi. 

Sesungguhnya apa yang aku terapkan adalah dalam rangka membangun etos kerja sejak usia dini. Mungkin akan timbul pertanyaan berikutnya, "Apa mungkin kita mengajarkan budaya kerja keras pada anak?" 

Jika yang kita pahami di situ adalah memberi kuliah, pengajaran atau bimbingan, maka jawaban yang relatif benar adalah tidak mungkin. Tetapi, jika yang dimaksud di sini adalah mendidik, merangsang perkembangan, mengarahkan, atau mewariskan nilai, dengan cara-cara yang pas buat mereka, tentu ini sangat mungkin. Bahkan inilah tugas kita yang sebenarnya. Tinggal kitanya, apakah kita mau atau tidak. Itulah kenapa seluruh teori pendidikan di dunia ini berkesimpulan bahwa rumah adalah lembaga pendidikan yang pertama kali dijumpai oleh anak-anak.

Para ahli dari Harvard University menyarankan (www.sahabatnestle.co.id) agar orangtua mampu memfasilitasi berbagai pengalaman belajar untuk anak-anaknya. Misalnya yang aku lakukan, memberi tanggung jawab kepada anak untuk merapikan sendiri tempat tidurnya, memilih warna sarung bantal-guling serta sprei pada saat jadwal mengganti sarung bantal dan sprei, atau sekadar menyodorkan buku bacaan bergambar yang warnanya kontras untuk melatih pandangannya. Penting juga menurut pendapatku, untuk memfasilitasi anak dengan berbagai macam pengalaman bermain (gerakan fisik), misalnya ke mall, ke tempat rekreasi, ke pekarangan, ke lapangan, dan lain-lain. 

Aku mengusahakan jangan sampai anak-anak bermain dengan yang itu-itu saja, karena setiap pengalaman bermain akan membentuk jalur baru dalam otaknya. Yang perlu dijaga dari orangtua adalah jangan sedikit-sedikit mengeluarkan kata ”jangan”. Kenapa? Setiap satu kali kata itu terlontarkan, ia akan membentuk pembatas (mental barrier) dalam otaknya. Anak merasa ada pembatas untuk bereksplorasi dan belajar. Justru yang dibutuhkan adalah komentar dan dorongan positif.

Kenapa rangsangan pada otak sangat terkait dengan budaya kerja mereka, nantinya? Penelitian membuktikan, semakin banyak dan semakin variatif rangsangan belajar yang diterima anak, maka semakin banyak koneksi dalam otak yang terbentuk. Ini akan membuat mereka lebih responsif, kreatif dan lebih bagus daya tangkapnya.

Selain perlu memfasilitasi pengalaman belajar sebanyak mungkin dan sevariatif mungkin, sesuai keadaan kita, yang perlu diperkenalkan juga adalah prinsip-prinsip management by performance (manajemen kinerja). 

Apa prinsipnya? Seperti kita tahu, prinsipnya adalah seseorang mendapatkan sesuatu karena melakukan sesuatu. Prinsipnya lagi, ada sebab pasti ada akibat. Tentu ini perlu kita sesuaikan dengan perkembangan dan daya tangkapnya. Yang perlu dicatat adalah, prinsip itu hendaknya kita terapkan dengan mengacu pada asas friendly dan fair. 

Saat Shahia melakukan semua aktivitas hariannya dengan ceria, aku merasa lega. Artinya dia sudah menikmati aktivitas itu, dan tidak menganggapnya sebagai beban. Dan tak lupa asas fair kemudian aku sajikan dalam bentuk gift khusus, dalam bentuk memenuhi apa yang ingin beli, misalnya bando, kerudung dan sebagainya. Atau hanya sekadar membawa anak-anak makan di luar, nonton bioskop atau pun bermain di area playground di kawasan mall.

Semoga bermanfaat.

Thursday, September 26, 2019

Tak Sekadar Aliran Rasa #GameLevel6

September 26, 2019 0 Comments

Berkaitan dengan menstimulasi logika Matematika memang cukup menguras otakku waktu pertama kali game level ini diluncurkan. Apalagi saat melihat beberapa teman di kelas Bunsay #5 Jateng sudah setor tantangan mereka.

Hmmmm ... jadwal kegiatan offline yang memadat pun menjadi tantangan luarbiasa yang harus mampu aku lompati! Motivasi dalam diriku senantiasa terbakar. Allah pasti sudah mengatur semuanya, DIA yakin kalau aku akan mampu menyelesaikan T10-ku di level ini (meski dengan susah payah, #rapelan).

Logika Matematika yang awalnya aki pikir hanya berkaitan dengan angka, ternyata salah besar. Mengelompokkan jenis bangun datar, mengelompokkan warna serta sekadar berbincang tentang uang pun sesungguhnya sudah menerapkan logika Matematika. 

Yap, sesimpel itu ternyata. Lula dengan gaya bocahnya yang mulai mengenal warna, mengelompokkan warna, bentuk bangun yang sama, serta mengenal angka dan menuliskannya. 


Shahia di level lebih tinggi, memang Matematika baginya sudah sebuah rumus. Shahia menikmati Matematika dengan berhitung. Pertambahan dengan angka yang semakin besar, kemudian mengenal konsep pembagian serta perkalian. Membagi jajan miliknya misalnya, secara sederhana Shahia belajar pembagian. Beda hal dengan Aksan. Konsep lebih matang, ternyata sulungku itu lebih menyukai menghitung nilai tukar mata uang asing terhadap rupiah. 

Semua yang aku alami ternyata memang bukan sebuah kebetulan. Proses belajar dengan anak-anak terkait menstimulasi logika Matematika mereka nyatanya Allah sangat berperan di sana.

Contohnya saat aku bingung di awal merumuskan apa yang akan aku tulis untuk memulai tulisanku tentang game ini, qodarullah Shahia mendapatkan PR dari sekolahnya (tumben bener anak ini ada PR, sekolahnya yang fullday memang tidak biasa memberikan PR untuk anak-anak, kecuali untuk mengisi liburan supaya tidak terlalu terbuai kegiatan yang tidak ada faedahnya). Saat aku lirik PR-nya, ternyata sudah masuk bab pembagian sederhana.
Jadilah emak mulai mencari cara, bagaimana dengan kalimat sederhana pula memahamkan gadui 7 tahun ini. Mulai dari memberikannya pemahaman sederhana dengan contoh berbagi jajanan, hingga benar-benar melibatkan angka serta runtutan cara pembagian dengan metode "porogapit".

Sejurus dengan tantangan game level #6 ini, di hari lain, Aksan yang tidak sengaja menemukan uang asing di dompetku mulai kepo. Aksan terus saja bertanya tentang perbandingan mata uang Brunei dan Vietnam yang dia temukan tersebut. Kami pun terlibat obrolan ringan dan sesekali membuka aplikasi kalkulator di smartphone untuk menghitung nilai tukar mata uang asing terhadap rupiah.

Perhitungan ringan tentang rupiah dan beberapa mata uang asing nampak begitu asik bagi Aksan. Dia mulai menghitung sendiri untuk mata uang laiinya, Euro, Dollar Singapore, Dollar Amerika, Yen Jepang, dan sebagainya. 

Nayura a.k.a Lula si bungsu, qodarullah beberapa hari selalu buku aktivitas yang berkaitan dengan angka yang dia pegang. Mulai dari aktivitas menebalkan tulisan angka tersebut, mewarnai angka hingga mencocokkan angka dengan jumlah benda yang ada dalam gambar kotak di buku tersebut. 

Allah begitu luarbiasa mengatur skenario-Nya untukku. DIA tidak membiarkanku buntu ide! MasyaAllah ... 

DIA tunjukkan segala bentuk aktivitas anak-anakku yang berhubungan dengan logika Matematika lebih dari 2 pekan ini. 
Nikmat manalagi yang bisa aku dustakan??

Alhamdulillah ....

Tuesday, September 17, 2019

ITUNG KURS YUK!

September 17, 2019 0 Comments


"Bun, ini uang apa sih?" Kak Aksan menemukan beberapa lembar dollar sisa perjalananku ke luar negeri beberapa waktu lalu.

"Oh, itu Dong, Nak. Mata uang Vietnam." Aku menjawab sesaat setelah melirik apa yang dipegangnya.

"Kalau yang ini?" tanyanya lagi lebih antusias.

"Hmm... itu dollar Brunei."

"Loh, memangnya Bunda pernah ke Brunei?"

"Belum sih, tapi mata uang Brunei itu bisa dipakai di Singapura. Jadi saat Bunda ke Singapura dulu, selain bawa dollar Singapura, Bunda juga bawa dollar Brunei itu, Nak."

"Oh gitu ya .... Bun, 1 dollar Singapura berapa rupiah?"

"Kita googling yuk, itung kurs."

"Kurs itu apa sih?"

"Kurs itu nilai tukar mata uang, maksudnya sebuah perjanjian yang dikenal sebagai nilai tukar mata uang terhadap pembayaran saat kini atau di kemudian hari, antara dua mata uang masing-masing negara atau wilayah." 

"1 Rupiah itu = 1,652 Dong, Nak. Rupiah masih lebih tinggi nilainya dibandingkan Dong."

"Kalau 1 dollar Singapura berapa rupiah Bun?"

"Sekarang ini, 1 dollar Singapura setara dengan 10,167 rupiah. Rupiah lebih rendah nilainya dibanding dollar Singapura, Nak."

"Kalau dollar Brunei nilainya hampir sama ya dengan dollar Singapura? Makanya bisa dipakai ya Bun di Singapura?"

"Betuuulll banget, Nak! Pinter anak Bunda!"

"Nah, coba kakak itung deh. Anggap saja 1 dollar Singapura itu 10,000 rupiah. Kalau itu Bunda punya 5 dollar Singapura, berarti sama dengan berapa rupiah hayo?"

Sejenak dahinya berkerut, lalu dia mengambil kertas. Mencorat-coret dengan seksama, lalu berbinar matanya menjawab, "50,000 dong Bun!"

"Iiiih udah hebat ya. Coba kalau Dong Vietnam. Anggap aja 1 rupiah itu 1,500 Dong, biar itungnya lebih mudah. Kalau Bunda mau nuker 10,000 rupiah, akan dapet berapa Dong hayo?"

Dia nampak kembali mencorat-coret kertas, dengan serius dia menghitung. Tak lama dia menjawab dengan nada agak ragu, "Kayanya sih 15,000,000 Dong ya Bun? Bener ga?"

"Bener Sayang. Hebat, Kakak udah bisa ngitung kurs!"


***



Diskusi ringan sore itu tak kusadari bahwa kami sedang bermain logika matematika. Aksan bahkan sudah mulai mengenal kurs setelah tanpa sengaja menemukan uang asing yang masih kusimpan. 

Memang belajar itu bisa dari mana saja, kapan saja, dengan metode dan alat apa saja, bahkan dengan siapa saja.

Terus semangat belajar ya, Nak!

Monday, September 16, 2019

SAATNYA BERAKSI

September 16, 2019 0 Comments



Kemampuan berhitung merupakan salah satu kemampuan dasar anak yang wajib di miliki sebagai bekal mendapatkan pendidikan selanjutnya dalam bangku persekolahan. Mengingat pentingnya kemampuan berhitung dimiliki bagi seorang anak, maka aku sebagai orang tua harus mampu mengajarkan dengan cara terbaik kebiasaan berhitung bagi anak-anakku. Sehingga beberapa hal harus aku lakukan untuk membuat anakku bersemangat dalam belajar berhitung. Beberapa hal ini aku lakukan untuk memotivasi anakku, khususnya Shahia, agar bersemangat dalam belajar untuk berhitung.


Hal yang paling penting bagi seorang anak ialah motivasi dalam belajar. Adapun motivasi bagi seorang anak bisa diciptakan dengan berbagai hal yang bisa dijadikan stimulus. Salah satu hal yang bisa memunculkan motivasi belajar berhitung anak ialah dengan berbagai teknik mengajar, media mengajar, dan strategi mengajar yang diberikan. Hal tersebut aku siasati dengan penggunaan media pembelajaran berhitung yang menyenangkan, misalkan angka berwarna, alat peraga yang dia sukai seperti mainan dan boneka kecil, dengan menerapkan benda-benda tersebut aku dapat mengajarkan berhitung dengan cara yang lebih menyenangkan lagi. 


Adapun mengenai teknik dan strategi mengajar, sebagai orang tua sangat mungkin bagiku untuk menerapkan beberapa jenis permainan untuk melatih kemampuan berhitung Shahia. Permainan yang dimaksud misalkan congkak, monopoli, dan lain sebagainya. Penerapan permainan dalam belajar berhitung akan membangkitkan motivasi belajar Shahia dalam berhitung.


Selain memperhatikan hal-hal yang disebutkan di atas, sikap yang ditampilkan orang tua dalam mengajarkan hitungan kepada anak tersebut sangat perlu diperhatikan ternyata. Tentunya dalam belajar, seorang anak akan melakukan beberapa kesalahan wajar, saat anak melakukan beberapa kesalahan sebaiknya kita menjadi orang tua yang pemaaf, jangan sampai terlalu menekan anak dan terlalu menuntut anak untuk selalu bersikap benar saat belajar. Hal tersebut justru akan menimbulkan efek kapok dan stres pada diri anak saat belajar berhitung. 


Pada setiap hasil kerja Shahia, aku mulai untuk menghargai dan juga memberikan hukuman terhadap pelanggaran yang berlaku. Adapun hukuman yang dimaksud bersifat edukatif, tidakn berupa kekerasan yang menekannya. Dengan membiasakan hal tersebut, harapanku, Shahia tumbuh jadi pribadi yang hati-hati dan selalu semangat.


Selalu mengingatkan dirinya untuk rajin beribadah juga merupakan konsep menanamkan motivasi belajar berhitung. 


Hal-hal di bawah ini juga bisa dijadikan pedoman untuk memotivasi anak belajar berhitung sehingga dia menjadi sosok yang "SIAP BERAKSI" di sekolah maupun lingkungan yang lebih kompleks terkait dengan matematika. 


1. Bersemangat ketika mengajar matematika


Salah satu cara untuk meningkatkan minat anak adalah dengan bersemangat ketika mengajar. Anak bisa merasakan jika orangtua tidak semangat mengajar, hal ini menyebabkan dia pun tidak menaruh minat pada pelajaran matematika tersebut. Namun jika orangtua bersemangat dan menjadikan suasana belajar menarik, maka anak akan lebih termotivasi untuk mengikuti aktivitas belajar tersebut.


2. Perhatikan celah materi yang tidak dipahami anak



Orangtua sebaiknya mengetahui materi apa yang tidak dipahami anaknya untuk meningkatkan keinginan mereka belajar lebih banyak. Misalnya, orangtua menjelaskan contoh latihan yang biasa diberikan di guru di sekolah anak sampai jelas, diikuti dengan contoh latihan yang sedikit berbeda namun masih terkait dengan materi yang sama. Hal ini akan memberi anak motivasi untuk belajar lebih giat.


3. Temukan pola atau cara khusus




Orangtua dapat membantu anaknya menemukan cara mudah memahami suatu materi agar mereka lebih cepat mengingat suatu topik. Misalnya perkalian angka 1-10 dengan angka 9 menggunakan jari, 7x9 artinya jari ke 7 dari kiri menjadi pemisah antara sisa jumlah jari di kanan (6) dan jari di kiri (3). Lalu, kedua angka tersebut digabungkan maka hasilnya adalah 63. Pola atau cara khusus ini akan lebih memotivasi anak untuk belajar karena memudahkan mereka memahami konsep.


4. Memberi tantangan pada anak


Memberi tantangan sangat penting untuk menciptakan antusiasme siswa anak dalam belajar. Namun, orangtua harus memilih tantangan yang sesuai dengan kemampuan anaknya. Karena tujuan diberikan tantangan ini adalah untuk menyemangati bukan menurunkan minat anak.



5. Memberi contoh pengaplikasian matematika dalam dunia nyata


Contoh pengaplikasian materi di kehidupan nyata dapat orangtua berikan pada awal pembelajaran. Hal ini agar anak menjadi termotivasi terhadap materi yang akan dijelaskan orangtua. Orangtua juga bisa membantu anaknya menghubungkan matematika dengan jenjang karir yang mereka inginkan di masa depan. Misalnya orangtua menjelaskan manfaat teori peluang yang bisa diaplikasikan ketika anak menempuh pendidikan di jurusan aktuaria. Ke depannya, anak akan bisa menghitung peluang terjadinya peristiwa tertentu, seperti resiko keuangan di masa depan dan dampak dari kondisi finansial.



6. Ceritakan sejarah terkait


Untuk menumbuhkan ketertarikan anak, orangtua bisa menambahkan sejarah terkait materi tertentu yang sedang diajarkan tersebut. Cara ini bisa memotivasi anak dan mengasah rasa keingintahuan anak, misalnya simbol akar (√ ) yang ditemukan oleh seorang matematikawan bernama Christoff Rudolff.



7. Menggabungkan teknologi dalam kegiatan belajar


Kedekatan anak-anak dengan teknologi dapat orangtua manfaatkan untuk menambah semangat belajar mereka. Apalagi saat ini, banyak aplikasi yang bisa membantu anak belajar dan memahami matematika. Di antaranya Math Tricks, Photomath-Camera Calculator, dan ruangbelajar di aplikasi ruangguru. Tidak hanya pelajaran matematika, ruangbelajar juga menyediakan video animasi untuk semua mata pelajaran sekolah yang menarik untuk ditonton. 




***




Dari beberapa motivasi belajar berhitung serta latihan-latihan yang Shahia kerjakan di rumah, konsep pembagian yang dengan contoh sederhana misalnya saat dia punya jajanan, lalu dibagikan ke kakak dan adiknya dan sebagainya.

Shahia menjadi lebih Siap Beraksi di ujian tengah semester meskipun bundanya tidak mendampingi saat dia UTS. Alhamdulillah ...

MENGENAL ANGKA DAN MENULISNYA

September 16, 2019 0 Comments

Membaca, menulis, dan berhitung merupakan salah satu kemampuan yang dibutuhkan oleh anak ketika ia ingin masuk sekolah. Saatnya aku sebagai orangtua mengenal tahapan normal perkembangan membaca, menulis, dan berhitung anak seperti yang aku kutip di website milik Ikatan Dokter Anak Indonesia, www.idai.or.id:

Membaca dan Menulis Usia 2-4 tahun

Pada usia ini, membacakan suatu cerita pada anak sesering mungkin bisa menumbuhkan minat baca dan memperluas kosakata. Anak juga bisa mulai mempelajari keterampilan motorik halus dasar yang diperlukan untuk belajar menulis nantinya. Keterampilan tersebut bisa Anda ajarkan berupa menarik garis, menggambar lingkaran, dan menghubungkan titik-titik. Mewarnai juga bisa menunjang keterampilan ini lho, Bunda. Gunakan alat tulis yang sesuai ukuran tangan anak agar nyaman dan mudah dipakai.

Berhitung Usia 2-3 tahun

Pada usia prasekolah, balita Anda mulai mengenal angka satu digit mulai dari 1 hingga 9. Bahkan beberapa anak mulai bisa menulis angka. Menghitung benda juga bisa mulai diajarkan, terutama jika jumlah benda tidak lebih dari lima. Selain itu, si kecil juga bisa mulai belajar mengelompokkan benda menjadi dua bagian menurut warna, bentuk, ukuran, atau yang lainnya. Seperti mengelompokkan mainan menjadi dua kelompok merah dan biru.

Berhitung usia 4-5 tahun

Di usia Taman Kanak-Kanak (TK), si kecil sudah bisa mengenali angka 1 hingga 20. Bahan beberapa anak sudah mulai bisa menghitung loncat. Untuk mengelompokkan benda, anak usia ini bisa membuat tiga kelompok atau lebih berdasarkan warna, bentuk, ukuran, atau yang lainnya.

***

Anak-anak memang sangat bersemangat untuk belajar hal baru dan menulis adalah salah satunya. Dan bagaimana cara mengajar anak menulis adalah pertanyaan yang paling banyak diajukan. Biasanya, usaha pertama anak-anak untuk menulis akan dilakukan pada usia prasekolah mereka. Inilah saat ketika mereka memperluas kosa kata mereka dan mulai mengerti bahwa huruf, angka dan simbol semuanya memiliki makna. Huruf, angka, atau simbol apa yang seharusnya dimiliki anak-anak benar-benar belajar terbentuk begitu mereka menguasai pegangan yang benar. 


Penelitian menunjukkan bahwa ketika anak-anak didorong untuk mencoret-coret, dan mewarnai dengan bebas dengan cara yang menyenangkan dan tanpa stres, mereka ingin menulis lebih banyak. Dan sungguh, itulah yang kita inginkan: anak-anak yang memiliki keinginan untuk menulis! Sebagai orang tua, kita harus melakukan apa yang kita bisa untuk menjaga suasana tenang dan ringan saat bekerja dengan anak-anak kita, dengan menggunakan pujian yang spesifik dan terarah bila memungkinkan.

Kemampuan anak untuk menulis yang baik tidak mungkin datang dalam semalam, sehingga peran orang tua sangatlah penting dalam mengajar anak menulis. Oleh sebab itu, sebagai orang tua aku pun tidak ragu mengenalkan anak dengan membaca, menulis, dan berhitung di usia balita.

Menurut psikolog anak dan keluarga, Anna Surti Ariani, S.Psi, M.Si, Psi, calistung dapat diajarkan kepada anak usia 7-8 tahun. Namun, jika anak terlihat mampu dan sudah lulus pra-calistung, orang tua boleh mengajarkannya sejak usia 5-6 tahun.



Aku melatih Lula dengan menebalkan garis putus-putus Setelah dia berhasil mengajarinya menulis sesuai garis kertas, selanjutnya adalah latihan menebalkan garis putus-putus. Aku menyediakan gambar dengan garis putus-putus dan mengajak dia untuk menghubungkan tiap garis-garis pada kertanya.

Karena aku ingin dia menghafal angka, maka garis putus-putus yang aku jadikan bahan lahitan adalah angka-angka. Dan cara ini efektif, selain menstimulasi motoriknya, dengan sering menulis angka, Lula menjadi lebih cepat menghafal angka dari 0 sampai 9.