Monday, September 16, 2019

TABUNGAN AKHERAT VS TABUNGAN DUNIA

September 16, 2019 0 Comments


Usia dini adalah masa di mana si kecil belajar banyak hal. Pada usia inilah pembelajaran yang meresap dan awal dari terbentuknya karakter dan kebiasaan yang akan dibawa hingga dewasa. 

Untuk itu, penting sekali untuk mengajarkan dengan tepat agar anak kita mempunyai bekal yang baik ketika bertumbuh. 


Selain mengajarkan mengenai pengetahuan, kecerdasan akademis, dan juga sopan santun, kita juga perlu mengenalkan mengenai konsep uang dan menabung pada anak sejak dini.


Ada banyak manfaat baik yang bisa didapatkan jika mulai mengenalkan anak menabung. Salah satunya adalah sikap mandiri, tidak tergantung pada orang lain, tanggung jawab dan belajar memenuhi kebutuhannya sendiri di kemudian hari.


Memberi pemahaman pada anak mengenai menabung juga membuat anak lebih mudah menyadari kerja keras yang dilakukan oleh orangtua untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dengan demikian, anak akan makin menghargai orangtuanya dan juga meningkatkan keterikatan antara orangtua dan buah hati.

Sejalan dengan tulisanku sebelumnya, pada tahapan menabung untuk dunia dan akherat ini aku mulai dengan tahap mengenalkan konsep uang pada anak-anakku.


#1 Mengenalkan Konsep Uang


Sebelum mengajarkan anak menabung, aku mengenalkan terlebih dahulu konsep uang pada anak. Aku mengajarkan dari hal yang sederhana terlebih dahulu. Aku menjelaskan kepada anak-anakku bahwa uang adalah alat transaksi jual beli. Uang digunakan ketika melakukan pembayaran. Kemudian, aku juga mengenalkan kepada mereka bahwa nilai setiap uang itu berbeda-beda setiap lembar atau koinnya sehingga anak dapat membedakan nilai dari uang. 


#2 Mengenalkan Tujuan Menabung


Agar anak-anakku bersemangat dan berdisiplin dalam menabung, maka aku merasa mekera harus memahami arti penting dan tujuan dari menabung. Aku pun berusaha memberikan pemahaman bahwa menabung merupakan cara untuk dapat mencapai tujuan yaitu membeli suatu barang tertentu.

Jika mereka menginginkan suatu barang, aku mengajak mereka menghitung berapa kira-kira mereka harus menabung agar bisa mendapatkan barang tersebut. Mungkin akan sulit bagi beberapa anak untuk menunggu sebelum membeli sesuatu yang mereka inginkan, tapi ini adalah pelajaran yang penting untuk dipelajari. Aku selalu mengajarkan pada anak-anakku bahwa setiap memperoleh uang saku, mereka harus bisa menyisihkan sebagian ke dalam celengan miliknya. Dengan begitu mereka pasti sering menabung.

Bila uang yang terkumpul sudah cukup, maka aku memberitahukan pada anak-anak bahwa mereka dapat menggunakan uang tersebut untuk membeli barang yang diidamkan. Dengan demikian, anak-anak akan merasa bahwa menabung memang bermanfaat.

#3 Hadiahkan Celengan


Untuk mengasah jika menabung anak-anak, aku juga sering menghadiahkannya sebuah celengan dengan bentuk, warna dan gambar yang menarik. Aku bahkan membiarkan anak-anak untuk memilih celengan yang mereka suka. Kemudian, jika aku memiliki sisa uang koin, aku biasanya memberikan kepada mereka dan memintanya untuk menaruh uang tersebut ke dalam celengan. Jika ada anggota keluarga atau kerabat yang memberikannya uang, aku pun segera minta mereka untuk menabungnya. Lama kelamaan, anak-anak menjadi terbiasa untuk menabung.


#4 Menabung di Bank


Saat ini sudah banyak bank yang memberikan fasilitas untuk tabungan anak-anak, dengan bentuk buku bank yang menarik, kartu ATM yang menarik, bahkan terkadang diberikan hadiah alat tulis. Biasanya tabungan anak-anak memiliki jumlah minimum deposit dan tidak ada biaya bank jika rekening tersebut berada di bawah saldo tertentu. Kebanyakan anak-anak saat ini sangat paham mengenai bank, mereka dapat melihat saldo mereka sehingga dapat mendorong mereka untuk dapat menyimpan uang dan membuat pilihan belanja yang bijak.


Hal ini aku gunakan untuk mengajarkan kepada anak-anak bahwa bank adalah tempat yang aman untuk menyimpan uangnya, tentunya dengan meniadakan riba. Aku memilih bank berlabel syariah sehingga aku juga bisa menjelaskan konsep riba secara sederhana. Intinya niatnya hanya untuk menyimpan uang, bukan untuk mendapatkan keuntungan tambahan (riba).


#5 Bantu Buat Anggaran Mini


Jika anak-anakku benar-benar menginginkan mainan tertentu, aku pun tidak langsung membelikannya. Aku mengajari mereka untuk membuat anggaran mini untuk pembelian mainan yang hendak ia beli. Seperti berapa banyak yang telah ia simpan, berapa besar biaya yang harus dikeluarkan, berapa banyak uang yang dia harapkan untuk dapatkan setiap minggunya, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menabung. Di tahap ini lah sekaligus mengajarkan time frame untuk anak-anak. Dengan ini aku pun melatih mereka untuk bijak menggunakan uang.

Sebaiknya sih anggaran dibuat secara tertulis agar bisa membantu dan memotivasi anak-anak. Misalnya yang aku lakukan, aku menuliskan saldo setiap minggu di kalendernya, dan aku letakkan lingkaran warna-warni yang besar sekitar tanggal kapan mereka seharusnya memiliki cukup uang untuk membeli mainan tersebut.


#6 Saving, Spending, Sharing


Aku terinspirasi dari sebuah artikel, kemudian mempraktikannya. Aku memberikan anak-anakku 3 celengan atau botol kaleng yang dilabeli dengan tulisan Saving, Spending dan Sharing. Setiap kali mereka mendapatkan uang, aku meminta mereka membagi uangnya ke dalam 3 celengan tersebut dengan nilai yang sama.

Jika suatu saat mereka ingin membeli permen, stiker, atau hal kecil lainnya, ia dapat mengambil uang dari celengan “Spending”. Lalu jika ia ingin membantu temannya atau memberikan uang untuk rumah ibadah, aku menyuruhnya mengambil uang dari celengan “Sharing”. Sedangkan celengan “Saving” dapat ia gunakan untuk barang-barang yang lebih mahal dan membutuhkan banyak waktu untuk mengumpulkan uang untuk membelinya.

Cara ini cukup efektif Melalui cara ini pula, anak-anakku dapat belajar mengenai cara membagi uang dan menentukan prioritas.



#7 Jadilah Role Model


Agar anak belajar menabung dengan baik, kita juga harus dapat menjadi role model yang baik untuk dirinya. Salah satunya, kita bisa menunjukkan kegiatan menghemat, misalnya saat belanja, aku lebih memilih barang yang lebih murah. Aku menjelaskan kepadanya mengapa lebih memilih barang tersebut.


#8 Latih Anak “Bekerja”


Aku melatih anak untuk mengenal proses bekerja dan mendapatkan uang yang harus ia lakukan saat dewasa nanti. Misalnya untuk Lula yang berusia hampir 4 tahun, aku selalu meminta untuk menaruh piring makanan di dapur. Untuk kedua kakaknya yang sudah lebih besar, aku meminta mereka berbagi tugas dalam urusan rumah. Misalnya menyapu, mengepel, melipat cucian, dan sebagainya. 

Aku memberikan “gaji” kepada anak-anak per minggu atau kadang per bulan. Tidak banyak sih, yang penting mereka dapat belajar bahwa untuk mendapatkan uang, ia tentu harus bekerja, tidak bisa diam saja. Kemudian, aku meminta mereka untuk menyimpan uang yang telah dihasilkan.


***


Menabung dapat membantu anak-anak untuk “menyingkirkan” beberapa keinginan mereka. Banyak anak, misalnya jatuh cinta dengan mainan tertentu dan memutuskan harus mendapatkannya. Seiring dengan waktu, bagaimanapun, mereka mungkin memutuskan bahwa mainan sama sekali tidak penting.

Menunggu untuk melakukan pembelian adalah cara terbaik untuk menghindari pembelian impulsif dan merupakan alat yang efektif untuk membantu anak menentukan apa yang sebenarnya mereka inginkan dan apa yang mereka dapat lakukan.

Mengajarkan anak mengenai berbagai hal tentang menabung tentu bukan pekerjaan yang mudah untuk dilakukan. Kita perlu menemukan waktu yang tepat untuk memulai hal ini sejak dini, termasuk dengan menggunakan dan menunjukkan berbagai contoh nyata dan sederhana kepada anak. Yang terpenting adalah melakukan kegiatan ini dengan cara menyenangkan agar anak paham dan bisa dengan mudah mengerti apa saja yang ingin kita sampaikan kepada mereka.

***


Kenalkan Konsep Tabungan Akherat

Setelah anak-anak terbiasa dengan pola "menabung", maka konsep tabungan akherat mulai aku tanamkan juga. Aku mulai dengan hadist Rosul.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” 
(HR. Muslim no. 1631)


Aku membangun mindset anak-anakku tentang kebiasaan menabung. Apakah mereka termasuk orang yang terbiasa menabung? Seberapa besar tabungan kalian? Tahukah kalian, bahwa HARTA kalian bisa menjadi KEBAIKAN bagi kalian DI AKHIRAT?

Ya, Sedekah Jariyah akan menjadi sebuah hal yang BAIK bagi kalian!

Bagaimana tidak? Walaupun seseorang kelak sudah tiada, namun amal solehnya dalam sedekah jariyah akan terus mengalir. Misalnya jika anda membangun sebuah Masjid, maka selama Masjid tersebut berdiri dan digunakan oleh Kaum Muslimin untuk Ibadah, maka kalian akan PANEN PAHALA !

Begitulah kira-kira yang aku tanamkan pada ketiga anakku. Lalu aku pun membacakan sebuah kisah tentang keutamaan sedekah (tabungan akherat).


*****


Suatu ketika, Baginda Nabi Muhammad saw. menghampiri lemari Bilal bin Rabbah ra. yang di dalamnya disimpan harta sedekah. Saat dilihat, di lemari tersebut terdapat seonggok kurma. Beliau bertanya, “Kurma apa ini, Bilal?”

“Ya Rasulullah, itu adalah kurma yang saya simpan sebagai persediaan untuk engkau,” jawab Bilal.

“Apakah engkau merasa aman sampai pagi, sementara di lemari itu terdapat asap neraka Jahanam? Cepat, infakkan segera kurma itu! Janganlah engkau khawatir, Zat Pemilik ‘Arsy akan memenuhi kekurangan dan kebutuhan,” tegas Baginda Nabi saw. (HR Ibn Syihab).

Wajar saja jika kemudian, saat Bilal ditanya oleh Abdullah bin Luhay al-Huzni, berapa belanja Rasulullah saw., Bilal menjawab, “Beliau tidak memiliki apa pun. Akulah yang mengurusi beliau sejak diutus hingga beliau wafat. Jika beliau melihat seorang Muslim yang tidak memiliki pakaian yang layak, maka beliau menyuruh aku mencari pinjaman, lalu membelikan untuk dia pakaian, kemudian memakaikan pakaian itu kepada dia, sekaligus memberi dia makan.” (HR Ibn Hibban).

Dalam riwayat lain, Uqbah ra. bertutur: Aku pernah shalat ashar di belakang Baginda Nabi saw. di Madinah. Setelah mengucapkan salam, tiba-tiba beliau segera berdiri, kemudian berjalan cepat melewati pundak orang-orang untuk memasuki salah satu bilik istri beliau. Orang-orang pun menyingkir karena begitu terburu-burunya beliau. Lalu beliau segera keluar dan kembali ke hadapan mereka yang sedang terheran-heran. Beliau lalu bersabda, “Aku tadi teringat akan emas, sementara aku tidak suka menyimpannya. Karena itu, aku memerintahkan agar emas itu segera dibagi-bagikan.” (HR al-Bukhari).

Ummu Salamah ra. juga pernah bertutur, “Baginda Nabi saw. pernah memasuki tempat tinggalku dengan rona wajah yang muram. Karena khawatir beliau sakit, aku bertanya, ‘Ya Rasulullah, mengapa wajahmu tampak muram?’ Beliau menjawab, ‘Gara-gara tujuh dinar (sekitar Rp 14 juta) yang kemarin kita terima, sementara hingga sore hari, uang itu belum juga diinfakkan.’” (HR Ahmad dan Abu Ya’la).

Saat menyertai Baginda Nabi saw. hijrah ke Madinah, Abu Bakar ra. membawa seluruh hartanya sebanyak lima atau enam ribu dirham (setara Rp 420 juta) untuk diinfakkan di jalan Allah SWT (HR Ibn Ishaq).

Utsman ra. pernah menginfakkan hartanya sebanyak 1000 dinar (setara Rp 2 miliar) saat Baginda Nabi saw. sedang mempersiapkan pasukan (HR al-Hakim; Al-Bidayah, II/179).

Abdurrahman bin Auf ra. pernah menginfakkan separuh hartanya; itu belum termasuk tambahan sebanyak 40 ribu dinar (setara Rp 80 milar), 500 ekor unta dan 500 ekor kuda (HR Ibn al-Mubarak; Al-Ishabah, II/416).

Hakim bin Hizam ra. pernah menjual tanahnya seharga 200 ribu dirham (setara Rp 14 miliar), yang semuanya diinfakkan di jalan Allah SWT (HR ath-Thabrani).

Demikianlah, mereka baru sejumlah kecil dari para Sahabat Nabi saw. yang mulia dalam menginfakkan harta-harta mereka. Sangat jarang diriwayatkan, bahwa mereka rajin menabung dan menumpuk-numpuk harta. Tentu, karena mereka adalah pengikut sejati Baginda Rasulullah saw. yang telah memberikan teladan bagaimana seharusnya memperlakukan harta.

*****

Selain menanamkan kebiasaan menabung untuk menumbuhkan sifat sederhana dan hemat (zuhud), aku juga tetap menanamkan prioritas bahwa ‘menabung’ untuk kepentingan akhirat, itulah sejatinya yang lebih layak kita lakukan. Aku pun mulai dengan memberi mereka contoh secara langsung dengan cara membiasakan diri dengan memperbanyak infak di jalan Allah SWT. Itulah sejatinya ‘tabungan’ kita yang hakiki dan abadi, yang pasti akan kita jumpai kembali di akhirat nanti.

BELAJAR PEMBAGIAN SEDERHANA

September 16, 2019 0 Comments




Postingan kali ini, tentang konsep pembagian sederhana. Shahia yang duduk di bangku kelas 2, ternyata sudah sampai pada level pembagian! Beberapa latihan soal yang harus dia kerjakan di rumah cukup membuatku memeras otak untuk memberikan penjelasan sederhana tentang konsep pembagian,


1. Pengenalan konsep membagi


Ini awal-awal banget menganalkan konsep pembagian. Untuk mengenalkan apa itu pembagian, aku memanfaatkan semua barang yang ada, seperti: buku, pensil, biskuit, permen, dan sebagainya.
Yang aku lakukan:
"Bunda punya 6 pensil, kalo misalnya mau dibagikan ke Kak Aksan, Shahia, Lula, jadi masing-masing dapat berapa?"

Aku pun membagi satu per satu pensil untuk setiap orang. Aku mengulangi untuk benda-benda yang lain juga. Setelah Shahia tahu apa maksudnya pembagian itu, artinya dia siap untuk naik step ke berikutnya.


2. Pembagian sederhana


Ini konsep yang ada di buku-buku zaman sekarang.

Soal (1)
Berapa hasil dari 12 : 3? 

Jawab: 12-3-3-3-3
Aku mencoba menerangkan bahwa bilangan dikurangi pembagi sampai hasilnya 0 (nol). Setelah itu hitung berapa bilangan pembagi itu. Untuk soal di atas, bilangan pembagi (3) berjumlah 4, sehingga 12 : 3 = 4.
Versiku begini:

12
3
___ -
9
3
___ -
6
3
___ -
3
3
___ -
0

Hitung jumlah angka 3 dalam pengurangan tersebut. Dari penjabaran di atas dapat diketahui bahwa: 12 : 3 = 4.


Soal (2)
Berapa hasil dari 15 : 5?
Jawab:
15
5
___ -
10
5
___ -
5
5
___ -
0

Hitung angka 5 di atas. Jadi, 15 : 5 = 3.


3. Pembagian ala porogapit

Pertama, aku mengusahakan ada tabel perkalian. Yang penting diingat adalah: sebelum anak memahami cara membagi, enggak usah langsung tanya-tanya soal perkalian hasil hafalan mereka. Biarkan mereka fokus dulu ke "bagaimana cara membagi".

Ini pembagian yang aku ajarkan ke Shahia dan step-stepnya:

Soal:



Pertama, aku bilang ke Shahia bahwa untuk soal di atas, perkalian yang harus dilihat atau diingat adalah perkalian 3 (lingkari angka 3 di atas).

Step berikutnya: 
Aku menanyakan, apakah di perkalian 3 ada angka 7? (kami pun melihat tabel perkalian 3 bareng-bareng). 
Shahia menjawab tidak ada, aku kemudian menanyakan: Manakah yang paling dekat? 
Dia menjawab 6, aku kembali bertanya: Jadi perkalian 3 yang paling dekat dengan angka 7 adalah 3 kali berapa? 
Shahia pun menjawab 2, lalu aku tulis begini:



Alhamdulillah dengan metode tersebut, Shahia lebih mudah menghitung soal-soal pembagian.


TRIK PENJUMLAHAN KURANG DARI 1 MENIT!

September 16, 2019 0 Comments





Penjumlahan adalah landasan akademis dasar yang perlu dimiliki setiap anak. Bahkan, sebagian besar negara memiliki standardisasi akademis yang mengharuskan setiap anak kelas 1 SD memahami konsep penjumlahan (dan pengurangan) hingga menyentuh angka 20. 

Lantas bagaimana cara mudah untuk mengajarkan konsep penjumlahan kepada anak? Sebelum memberikan soal-soal penjumlahan maupun pengurangan, kita memang perlu terlebih dahulu memastikan bahwa mereka telah memahami konsep "menjumlahkan serta mengurangkan" dalam kehidupan sehari-hari.




Shahia yang sudah duduk di kelas 2 SD memang sudah tidak ada masalah dengan penjumlahan sederhana. Akan tetapi, untuk penjumlahan yang panjang, Shahia masih saja mengalami kebingungan. Maka, aku pun mencari beberapa referensi untuk memberikan pemahaman sekaligus cara cepat metode penjumlahan.



Cara mengajari anak penjumlahan dengan cepat


Beberapa trik cepat matematika penjumlahan kurang dari 1 menit, aku rangkum di bawah ini:


Trik 1:


Cara penjumlahan cepat dengan terlebih dahulu menjumlahkan pasangan berjumlah 10
misal: 6 + 2 + 5 + 4 = .....

Jawab: 
perhatikan angka 6 dan 4. kedua angka tersebut jika dijumlahkan hasilnya 10. Lalu jumlahkan angka 2 dan 5 yaitu hasilnya 7. jadi, jika dijumlahkan keduanya hasilnya 17.
Mudah kan?


Trik 2:


Cara penjumlahan cepat dengan menggenapkan menjadi 10, 20, 30, dst ..
Misal kita punya 9, maka kita perlu 1 agar jumlahnya 10. (Ingat, lakukan proses ini dalam pikiran saja).

Contoh:

29 + 26 = ...

Jawab:
Cermati angka 29, tambahkan 1 dengan mengambilnya dari angka 26.
Hasilnya 29 + 1 = 30. Karena 26 telah dikurangi 1 untuk dijumlahkan dengan 29 di atas, maka sisanya tinggal 25. Tambahkan 25 dengan 30.
Hasilnya 25 + 30 = 55.
Jadi, 29 + 26 = 55. 

Tidak sulit kan???


Trik 3:


Trik penjumlahan cepat dengan berurut dari kiri ke kanan. Untuk menjumlahkan bilangan berderet, kita dapat kerjakan dengan cara melakukan penjumlahan secara berurut dari kiri ke kanan. "Ingat! Lakukan langkah-langkah ini dalam pikiran saja." Dengan banyak berlatih maka anak-anak kita akan menjadi terbiasa dan dapat melakukannya dengan cepat.

Misal:
15 + 31 + 22 + 8 =...

Jawab:
Awali dengan memikirkan angka 15.
Selanjutnya tambahkan 31
(10 + 10 + 10 + 1) dengan menghitung 25, 35, 45,46.
Lanjutkan dengan menambahkan 22 (10 + 10 + 2) dengan menghitung 56, 66, 68.
Langkah terakhir tinggal menambahkan 8, diperoleh 68 + 8 = 76.
Jadi, 15 + 31 + 22 + 8 = 76. 
Mudah bukan?


Trik 4:


Cara penjumlahan cepat dengan menjumlahkan satuannya terlebih dahulu. Selain cara di atas, kita juga dapat melakukan penjumlahan berjajar dengan menjumlahkan satuannya terlebih dahulu, baru kemudian melakukan penjumlahan dengan puluhannya. Coba perhatikan contoh di bawah ini.

Contoh

25 + 36 + 22 + 11 =...

Jawab:

Pertama-tama kita lakukan penjumlahan angka satuannya dari kiri ke kanan. Yaitu dengan menjumlahkan 5 + 6 + 2 + 1.
Caranya, mulailah dengan memikirkan angka 5, 11, 13, 14. Selanjutnya lanjutkan dengan melakukan penambahan dengan penambahan puluhannya, yaitu 14 + 20 + 30 + 20 + 10.
Caranya dengan memikirkan angka 14, 34, 64, 84, 94.
Jadi, 25 + 36 + 22 + 11 = 94.





Cara Cepat Si Kecil Menghafal Angka

September 16, 2019 0 Comments

Mengajarkan beberapa hal pada anak kecil memang butuh kesabaran ekstra. Banyak hal yang belum mereka kenal. Termasuk jika anak balita mulai belajar untuk mengenal angka.

Mengenalkan angka kepada balita tidak harus selalu dilakukan dengan cara membosankan. Anak akan antusias belajar angka dan jumlah, jika bundanya mengenalkan melalui permainan dan dengan cara menyenangkan. 


Susan A. Miller Ed.D., pakar pendidikan anak usia dini dan profesor di University of Pennsylvania, AS, menuturkan bahwa mengajarkan konsep pra-matematika dapat menstimulasi anak untuk berpikir logis dan sistematis sejak dini, melalui pengamatan terhadap benda atau gambar di sekitarnya.

Beberapa tips berikut aku rangkum dari beberapa sumber referensi, cekidot yuk!



Dengan membuat gambar angka


Ini adalah hal yang paling umum yang dapat dilakukan untuk mengenalkan angka pada si kecil. Di rumah, aku membuat gambar sesuai dengan angka yang aku tulis. Misalnya, jika aku menulis angka 3, aku menyertakan pula gambar burung dengan jumlah 3. Lula lebih bisa memahami dan menghafal angka 3 dengan mudah.



Mencocokkan angka
Ini adalah cara yang lebih sederhana loh! Aku hanya menggambar dengan bentuk angka yang hampir sesuai. Misalnya kursi untuk angka 4 dan tongkat untuk angka 1, lalu aku biarkan Lula menebak dengan benar.

Angka lompat
Cara ini biasanya aku gunakan saat anak beranjak usia 5 tahun ke atas, aku menggunakan monopoli atau ular tangga. Aku membiarkan anakku menghitung jumlah angka pada dadu dan kubiarkan uga ia menghitung sendiri di angka mana ia akan berhenti. Ini adalah cara yang cukup menyenangkan loh.

Menghitung angka
Cara ini adalah cara supaya anak mudah mengingat angka. Biasanya aku mengambil beberapa lembar kertas dan menuliskan angka 1- 10 di atasnya. Lalu aku sembunyikan kertas tersebut di sekitar rumah dan aku biarkan si kecil mencari kertas sesuai angka yang aku sebutkan.

Angka jiving
Aku mencoba cara ini juga. Aku ajarkan gerakan tertentu pada Lula dan menyesuaikan dengan angka. Misalkan aku mengatakan 'sembilan' maka aku biarkan Lula memperagakan gerakan tertentu selama 9 kali. Sebutkan 'satu', dan biarkan ia mengulangi gerakan sekali saja. Menyenangkan bukan?

Tebak angka
Yang satu ini juga permainan yang menarik. Aku membuat teka-teki, anak-anak akan menebak berdasarkan petunjuk yang aku berikan. Contohnya aku menggambar rumah dan menamai rumah sebagai nomor 5. Atau aku menggambar pohon dan menamainya sebagai nomor empat. Permainan ini sangat menyenangkan, selain itu dapat meningkatkan kecerdasan anak Anda pula.


MENGAJARKAN BALITA MENGENAL ANGKA DAN BERHITUNG

September 16, 2019 0 Comments
Berhitung dan angka merupakan 2 hal yang sangat dibutuhkan pada kehidupan sehari-hari. Semua aspek yang kita jalan pasti memerlukan kemampuan ini. Oleh karena itu kemampuan ini menjadi kebutuhan yang harus dimiliki setiap orang agar dalam menjalani keseharian menjadi lebih mudah. 
Untuk itu, setiap anak harus diajarkan mengenal angka dan berhitung sejak dini agar mereka mudah di kemudian hari. Dari beberapa referensi, aku pun mempraktikkan beberapa langkah mengenalkan angka dan berhitung yang aku terapkan untuk Lula.

1. Mengingat angka

Aku mengajarkan Lula untuk mulai mengingat dari angka 1 sampai dengan 10. Kebanyakan anak akan mudah mengingat angka dengan cara diajarkan dengan sambil bernyanyi atau setidaknya menyebutkannya dengan nada-nada nyanyian. Maka, aku pun melalukan hal ini setiap ada kesempatan untuk mengajarkannya. Misalnya pada saat Lula sedang menghitung jumlah mainannya.


2. Mengenalkan angka

Yang dimaksud mengenalkan angka di sini adalah pada langkah ini aku memperlihatkan bentuk angka pada Lula. Biasanya dengan memperlihatkan tulisan di buku-buku atau dengan menggunakan flashcard. Aku menunjukkan angka sambil mengucapkan angka berapa yang aku tunjuk dan Lula aku ajak untuk mengikutinya.


3. Interaksi dengan angka

Setelah kuperlihatkan bentuk angkanya, pada langkah selanjutnya adalah aku mengajari Lula untuk mulai menulisnya di kertas. Aku menggunakan bantuan activity book yang di dalamnya terdapat materi menjiplak angka. Cukup kuajari dia menulis angka 1 dan 2 saja. Namun aku melakukan hal ini bertahap agar Lula tidak terlalu terbebani. Aku juga mencoba untuk tidak mengajari menulis angka yang baru sebelum dia bisa dan hafal cara menulis angkanya.


4. Menggambarkan angka

Kebanyakan anak belajar dengan visualisasi mereka. Akan lebih baik jika anak dapat diperlihatkan contoh berhitung. Ada lagu bagus yang biasa kita dengar sejak kecil pun yang liriknya seperti ini:


“Dua mata saya,
Hidung saya satu.
Dua kaki saya,
Pakai sepatu baru.

Dua telinga saya,
Yang kiri dan kanan.
Satu mulut saya,
Tidak berhenti makan! ”



Biasanya, sambil kunyanyikan, aku pun sambil menunjuk mata, hidung, dan seterusnya.


5. Urutan angka

Setelah hafal dan mengerti cara menulisnya. Aku pun mengingatkan kembali pada Lula bahwa urutan angka tidak bisa diubah. Dalam berhitung harus tetap beruuratan yaitu 1 sampai dengan 10.



6. Praktik berhitung

Setelah mengenalkan angka, aku pun melakukan praktik berhitung. Langkah ini biasanya aku lakukan dengan cara melempar dadu, dan belajar menghitung jumlah titik dadunya. Atau bisa juga dengan benda-benda di sekitar seperti jumlah kursi, bantal, gelas dan sebagainya.


7. Berhitung acak

Apabila anak sudah mulai menguasi menyebut dan menulis angka. Pada tahap ini memang bisa dicoba agar anak mampu berhitung acak. Bisa juga dilakukan dengan menghitung mundur. Untuk Lula mungkin masih butuh beberapa bulan lagi, namun hal tersebut memang sudah aku lakukan pada Aksan serta Shahia, dan efektif!



Untuk mengenalkan angka pada anak, kusimpulkan sendiri dari pengalaman, akan lebih baik jika orangtua mencontohkannya langsung. 


MENGENAL BANGUN DATAR

September 16, 2019 0 Comments


Sebuah tantangan juga buatku, project kali ini adalah tentang mengenalkan bangun datar pada Shahia dan Lula. Kak Aksan ga aku ikutkan dalam project ini, kenapa?? Ya tentunya karena levelnya udah lewaaaaatt, wkwkwkwkwk.

Kak Aksan udah di level lebih rumit, ngitungin luas ama keliling bangun-bangun datar. Sedangkan kedua adiknya masih pada konsep mengenal jenis-jenis bangun ruang, terutama sih ke Shahia, karena Lula masih terlalu unyu nampaknya, wkwkwkwk, maklum lah 4 taon aja belum genep!

Mengawali dengan mengenalkan sebuah gambar panduan tentang bangun datar, lalu mengajak Shahia berkeliling pandangan, mencari beberapa benda dan kemudian menjelaskan itu termasuk bangun apa. 



 


1. Segi Empat

 

   Contoh benda yang berbentuk segi empat yaitu :






2. Persegi Panjang


    Contoh benda yang berbentuk persegi panjang yaitu :

 



3. Segitiga

   Contoh benda yang berbentuk segi tiga yaitu :




4. Lingkaran 


Contoh benda yang berbentuk lingkaran yaitu :



Alhamdulillah, setidaknya beberapa benda yang Shahia kenali sudah membantuku memberikan pemahaman terhadapnya tentang jenis-jenis bangun datar. 


MENGENAL MATA UANG

September 16, 2019 0 Comments

Game Level kali ini membahas tentang "Logika Matematika". Jujurly, sesaat aku tertegun (mikir serius, wkwkwkkw). Maklum, sudah lama aku tidak terlalu mengintimidasi anak-anak dengan berbagai rumus! Setelah bertobat (ceileeeh), dan berikrar oada diri sendiri bahwa jika anak-anak memang tidak memiliki potensi di bidang Matematika, aku memang mengendorkan ikatan mereka dengan mata pelajaran ini, meskipun tetap lah ya, enggak 100% aku lepas. Karena aku sadar, Matematika ini banyak sekali aplikasinya dalam keseharian kita.

Dan yap!! Sore ini pun, kami terlibat dalam "dialog Matematika" (akhirnya bisa nggarap tantangan, wkwkwwkwk ....)

"Bund, boleh minta uang?" tanya Shahia dengan manis. 
Memang sudah menjadi "jatah"-nya, kalau sore sesudah selesai mengerjakan "tugas rumahan" dia akan meminta "upeti" berupa uang jajan.

"Mau jajan apa sih, Nak? Adek diajak ya ... yang akur ... Adek digandeng ke warung, jajannya juga yang ......." Belum selesai kalimatku, si bungsu sudah menyerbu.
"Yang halal!" celetuk bungsuku lucu.

"Bukan cuma yang halal, tapi enggak boleh beli permen karet juga lo Dek!" Shahia dengan berlagak pahlawan ikut menjawab. "Iya kan Bun? Janji deh enggak beli permen! Ayo Lul, kamu juga janji!" Shahia mengajukan kelingkingnya ke hadapanku sambil nyengir.
Sambil menahan tawa supaya terlihat tetap serius, aku pun menyodorkan kelikingku, menautkannya dengan kelingking Shahia, kemudian bergantian dengan kelingking Lula. Mereka pun semakin berbinar.

"Coba, Bunda mau tau dulu. Rencananya nih, Kak Shahia sama Lula mau jajan apa?" tanyaku tetap menyelidik sebelum benar-benar memberinya sejumlah uang.

"Mau beli es krim aja, Bun. Boleh?" Shahia menjawab dengan cepat, diikuti adiknya dengan wajah menggemaskan mulai maju beberapa senti ke arahku, dia sudah siap-siap merayuku dengan ciuman mautnya!!

"Hmm... tunggu dulu, harga es krim-nya berapa Nak?" 

"2.000 ada Bun, yang 3.000 juga ada."

"Oke, bawa 2.000-nya 3 lembar ya Nak."

"Yang ini kan ya, Bun. 2.000 itu 0-nya ada 3. Kalau yang ini itu 20.000, karena 0-nya ada 4." Shahia mulai memilah uang yang ada di dompetku.

Mengajar anak soal uang bisa dibilang gampang-gampang susah. Gampang karena pasti lambat-laun mereka kenal mata uang. Namun, bakal sulit karena enggak gampang bikin anak bisa mengelolanya dengan bijak.
Meski terlihat sulit, sebenarnya mengajar anak soal uang enggak harus dengan cara formal. Sebagai bunda, aku merasa kudu bisa mengajarkan dengan cara benar-benar halus tanpa terkesan mendikte.
Awalnya memang belum ada gambaran sama sekali, namun tantangan game level ini memicuku untuk berkreasi. Dari obrolan sore dengan Shahia dan Lula, diriku pun mendapatkan inspirasi, beberapa cara untuk aku jadikan sebagai langkah-langkah mengenalkan anak-anak dengan uang.

1. Memperkenalkan mata uang




Langkah pertama yang harus aku lakukan tentu aja memperkenalkan mata uang pada anak. Aku memulai dari nominal terkecil sampai dengan nominal terbesar.
Aku ajarkan Shahia dan Lula membedakan angka pada mata uang, gambar, dan nomor seri serta beberapa tanda tersembunyi. Membantu mereka untuk mengenali uang asli sehingga bisa membedakan dengan uang palsu.


2. Mulai memberikan uang saku



Setelahnya aku pun membiarkan Shahia memegang sendiri uang yang sudah dia kenal. Aku mulai mengajarkannya kenal uang dari nominal terkecil. Aku biarkan dia memegang uang tersebut sehari, namun aku tetap mencari tahu apa yang dia lakukan terhadap uang tersebut.
Sebelumnya, aku ajarkan mengenai penggunaan uang. Misalnya aja, dia bisa menggunakan uang tersebut bila ada yang dia butuhkan.
Perlahan-lahan, aku mulai ajarkan Shahia buat menabung sebagian dari uang yang dia pakai. Biar dia makin semangat, aku pun hadiahkan celengan berbentuk lucu.

3. Ajak anak berbelanja


Mengajak anak-anak berbelanja enggak salah, kok. Justru di sanalah aku berpikir bisa mencontohkan pada mereka gimana caranya menggunakan uang yang dimiliki.
Enggak harus belanja ke supermarket, aku memulai ajarkan aktivitas belanja ke warung terdekat. Contohnya, ya jajan es krim di atas tadi.
Sebelum berangkat, aku selalu tanyakan apa yang ingin dia beli. Tentu aja ada aturan mengenai apa yang diizinkan buat dibeli dan yang enggak. Aku biasanya melepas mereka untuk memilih bahkan membayar barang yang dia inginkan dengan uang jatah jajannya tersebut.
Dengan mengajak anak berbelanja, anak mulai dikenalkan dengan proses jual-beli. Enggak cuma itu, anak juga belajar buat membelanjakan uangnya dengan barang yang udah direncanakan sebelumnya. 

4. Mulai ajarkan menabung


Seiring berjalannya waktu, anak pun bisa diajarkan untuk belajar menabung lebih serius. Enggak cuma menggunakan celengan, anak bisa dikenalkan pada tabungan bank.
Cara ini memang sudah aku lakukan sejak beberapa bulan yang lalu. Aksan, Shahia dan Lula memiliki tabungan khusus dalam bentuk rekening bank. Mereka punya uang jajan tetap yang aku sodorkan tiap pekan untuk Shahia dan bulanan untuk Aksan. 
Dari uang jajan tersebut, aku membantu mereka untuk menyisihkan sebagiannya buat ditabungkan ke bank.
Biar enggak terlalu berat, awalnya aku ajak mereka punya goal tertentu. Misalnya, saat pengin beli barang tertentu, sepeda contohnya. Nah, mereka harus menabung terlebih dahulu buat beli barang tersebut.

5. Mengajarkan anak soal uang melalui permainan


Nah, ini dia yang enggak boleh terlupakan. Mengajarkan anak soal uang enggak selalu dilakukan dengan praktik langsung. Aku pun terkadang mengajak Shahia dan Lula bermain, misalnya bermain jual-jualan.
Salah satu permainan yang mengajarkan anak konsep uang dan mengelolanya adalah monopoli. Percaya deh anak bakal lebih mudah belajar mengelola uang dengan cara santai. 

Atau bisa juga dengan main jual-jualan. Konsep pengurangan dan penjumlahan secara tidak langsung juga akan terbentuk di sini. Aku biasanya akan berpura-pura menjadi pembeli, sedangkan Lula atau Shahia sebagai penjual. Mereka akan menentukan harga, dan aku memberinya uang mainan sebagai bentuk transaksi. 

Betapa serunya bermain mengenalkan konsep mata uang pada anak, sekaligus menerapkan unsur logika Matematika lainnya. Penjumlahan, pengurangan, dan nilai desimal (mengenalkan berapa jumlah 0 pada bilangan nominal uang).