Tuesday, April 9, 2019

Tepati Janji, Mengikat Hati

April 09, 2019 0 Comments



"Nak, Bunda mau ke Solo. Tapi mohon maaf, ga bisa ajak Kakak Aksan, Kak Shahia dan Lula. Gapapa ya?"

"Yaaaa.... Bunda kok perginya sendiri."

"Iya Nak, maaf ya. Nanti Bunda pulang dari Solo, kita main deh ya..."

"Oke deh kalau gitu."

"Kak Shahia mau ke mana?"

"Lula mau beliin jajan Bun," bungsuku menyela dengan gaya bicaranya yang memang masih lucu.

"Jajan apa, Nak?"

"Permen boleh?"

"Permen apa?"

"Permen yang kaya di fotonya Kak Aksan pas masih kecil itu lo Bun." Lalu dia berlari kecil menuju rak yang berisi album foto dan menunjukkan foto Aksan, kakaknya, yang sedang mengulum lolipop!

Aku terkekeh. Lula, gadis kecilku itu menambahkan argumen untuk menguatkan keinginannya.

"Lula enggak pilek, enggak batuk juga, jadi boleh kan Bun makan permen kaya gini? Nanti Lula gosok gigi kok kalau permennya udah habis."

Aku makin tergelak dibuatnya. Shahia dan Aksan pun ikut tertawa.

"Dasar ini anak pinter Bun ngerayu Bunda." Aksan menimpali Lula sambil tertawa.

"Oke deh, boleh. Gosok gigi ya abis maem permennya besok. Berarti Bunda ke Solo sendiri diizinkan ya, Bunda kerja dulu. Besok kita jalan-jalan dan beli permen lolipop! Ini namanya permen lolipop ya Sayang."


***

Nyatakan keinginan kita, dengarkan keinginan mereka lalu tepati jika sudah terikat janji, demikian yang aku lakukan untuk mengikat hati kami.

MasyaAllah sesimpel itu mengikat bonding dengan anak-anak....



***


#hari13
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional

BELAJAR LEBIH RAMAH

April 09, 2019 0 Comments


"Shah, ini diberesin!" Aksan dengan nada arogan memberikan instruksi pada adiknya.

Dengan cemberut, Shahia menuju mainan yang berserakan di lantai. 

"Ini tu bukan Shahia yang mainan! Tapi Nayura!" Lalu dia berteriak ke arah adiknya. "Luuuuuuuulllll, beresin!!!!"

Aaaahhh, berantai teriakan-teriakan di dalam rumah, membuatku jengah.
Astaghfirulllah ... tarek napas panjang, menetralisir "sesuatu yang hendak memercik", akal sehat harus tetap menguasai diri... Bismillah ....


"Kak Aksan, Kak Shahia, Lula, sini semua, Bunda mau bicara." Dengan nada datar, dan kubuat sewajar mungkin aku memanggil ketiga anakku.

Ketiganya berpandangan dengan wajah "semi takut". 

"Bunda mau tanya, mulut yang mengeluarkan suara ini dari siapa? Kira-kira milik siapa?"

"Dari Allah, Bun," si sulung Aksan menjawab.

"Lalu, kalau dari Allah dan milik Allah juga, berarti kita ini cuma dititipin. Bener kan ya? Nah, kalau kakak dititipin barang harusnya dijaga kan? Menjaga mulut ya dengan menggunakannya berkata yang baik-baik dan dengan cara yang baik-baik. Kalau teriak-teriak, kira-kira baik ga?"

"Gak, Bun." Aksan menunduk lesu.

"Yuk, belajar menegur lebih ramah, dengan bahasa yang lebih lembut. Berhenti teriak-teriak. Kakak neriakin Shahia, Shahia neriakin Lula, Lula nangis. Ga ada habisnya. Bunda akhirnya juga bisa jadi ikutan jengkel dan bisa jaid juga nanti marah-marah. Betul kan? Ga enak kan?"

"Iya, Bun." Kini Shahia yang ganti bersuara.

"Nah, yuk mulai sekarang, biasakan berkata ramah. Kaya foto kita yang ini loh, semuanya senyum. Mulut kita ini miliknya Allah, kalau Allah ga suka karena kita ga menjaga dengan baik, mulutnya diambil gimana coba? Kita ga bisa bicara, ga bisa ngeluarin suara, ga bisa tertawa... Nauzubillah."

"Iya Bun, Kakak belajar lebih baik lagi."

"Yuk, maaf-maafan dulu." Aku mengakhiri ceramah hari ini.



****


#hari12
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional


TENTUKAN PILIHAN, SIAP KONSEKUENSI DILAKUKAN

April 09, 2019 0 Comments


"Bun, hari libur nanti main yuk, ke mana gitu..." Shahia memberi usulan. Dia ini memang tipe explorer.

"Main ke mana ya enaknya? Kasih usulan dong... Kak Aksan ada ide?"

"Uhm,... ke mana ya?? Bun, kalau ke Lawang Sewu aja gimana?"

"Lawang Sewu itu mana sih Kak?" tanya Shahia kepada Aksan.

"Itu lo, Shah, yang dulu kita juga udah pernah ke sana. Yang pintunya banyak. Abis dari Lawang Sewu, ke mall gitu Bun, makan siangnya di mall. Hehehehe..."

"Waaaa seruuuu tuh ya Kak, Shahia mauuu ah Bun!"

"Oke, deal deh ya... ke Lawang Sewu, abis itu maem siang di mall. Cari tempat makan yang bagaimana hayooo?"

"Yang halaaaaaalll!!!" Keduanya serempak menjawab.

"Oke, berarti besok harus bangun pagi seperti kalau masuk sekolah. Beres-beres rumah bareng-bareng, lalu kita siap-siap ke Lawang Sewu!"


***

Alhamdulillah, komprod dalam hal menentukan pilihan kepada anak-anak, akan membuatnya berpikir kritis, tentang kenapa harus itu, dan beberapa alternatif lainnya terhadap pilihan tersebut.

Kita juga bisa menyisipkan untuk memberikan pemahaman kepada anak-anak, bahwa setiap pilihan akan melahirkan konsekuensi, sehingga mereka juga harus siap bertanggung jawab terhadap konsekuensi atas apa yang mereka pilih.

MasyaAllah ... anak-anak sudah pinter memilih dan Allah memampukan mereka untuk memahami konsekuensi di balik pilihan yang mereka buat.





#hari11
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional

NAK, APA YANG KAMU INGAT?

April 09, 2019 0 Comments



"Kak, Bunda mau ngaji loh. Mau ikut?"

"Ngajinya di mana, Bun?"

"Di Green House. Inget gak yang di mana Green House itu?"

Shahia sedikit berfikir, dahinya berkerut. Lalu tiba-tiba senyumnya mengembang ....

"Shahia inget, Bun. Green House itu yang pas Shahia sama Kak Aksan ikut ngaji anak-anak kecil pas liburan puasa. Iya kan Bun?"

"Wii hebat masyaAllah masih inget kalau dulu ngaji di sana bareng temen-temen seumuran juga. Inget apalagi tentang Green House Nak?"

"Shahia juga belajar memanah Bun di sana. Kata Bunda sama Ustadz-nya yang ngajarin, memanah itu olahraga kesukaan Rosul ya Bun?"

"Iya, Nak. Itu olahgara sunnah yang disarankan Rosul. Memanah, berenang dan berkuda. Shahia pas dulu belajar panahan di sana seneng? Suka ga panahan? Berat ya Nak narik busurnya? Masih inget ga tuh rasanya memanah?"

"Inget Bun. Busurnya tu memang berat, tapi tu Shahia bisa lo Bun. Anak panahnya pas dilepas nempelnya di bunderan Bun. Kapan-kapan, panahan lagi ya Bun...."

"InsyaAllah, Sayang. Nah, ini jadi ikut Bunda atau di rumah sama Kakak?"

"Ikut ah..."


***

Menggali pengalaman anak ternyata seru. Kita bisa belajar tentang bagaimana anak bercerita pengalamannya, senangkah atau tidak nyamankah dengan pengalaman tersebut. Sejauh dan sedalam apa alam bawah sadarnya mengingat kenanngan atau pun pengalaman tersebuut juga bisa digali dari "bercerita pengalaman mereka".

Alhamdulillah ... anakku memiliki banyak memori indah tentang olahraga sunnah, panahan.




#hari10
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional


MASA ITU TELAH TIBA

April 09, 2019 0 Comments


Membersamai teman-teman di kelas matrikulasi IIP batch #7 regional Semarang selama 9 pekan adalah suatu pengalaman yang "uwooooww".

Bahkan dari mereka, aku belajar banyak hal. MasyaAllah ...

Curhatan yang mendekatkan kami secara personal, ungkapan kebahagiaan karena mereka merasa lega menumpahkan rasa, sesunguhnya bukan mereka yang berterimakasih, tapi aku!

Ya ... aku yang lebih berterimakasih kepada mereka atas segala hal yang mereka bagikan padaku. Belajar dari pengalaman kehidupan pribadi teman-teman bukanlah hal yang bisa didapatkan oleh semua orang bukan?

Dan ya ... Allah memberiku kesempatan untuk belajar bersama mereka, sekaligus amanah untuk mendengarkan mereka, bahkan tak jarang, diriku yang masuh fakir ilmu ini disambut hangat saat memberikan masukan, ide atau pun saran sebagai alternatif solusi untuk masalah yang mereka hadapi.

Bukankah jika kita bermanfaat untuk orang lain, sudah seharusnya aku yang berterima kasih? Karena tanpa mereka, apalah artinya dirku ini, menjadi tidak atau kurang bermanfaat bagi orang lain bukan?

MasyaAllah ... pengalaman 9 pekan begitu menggelora. Semangat belajar mereka pun melecutkan semangatku untuk lebih banyak belajar lagi ...

"Berubah atau kalah" sebuah ending penutup perkuliahan yang dianggap sangat nampol bagi semua mahasiswi matrikulasi IIP Regional Semarang.

Bersyukur atas banyak hal hari ini, terutama kesempatan menjadi fasilitator di batch #7 ini. Semoga perjumpaan kami dan kebersamaan kami selama 9 pekan ini mendapatkan ridho dan berkah dari Allah... Aaamiin Allahumma Aaamiin ....





#kelasmenulisonline
#kelompokF4
#saskia

#day21

Thursday, April 4, 2019

Revolusi Industri 4.0 ~ Pendidikan Karakter

April 04, 2019 0 Comments



Pendidikan sudah seharusnya menganut konsep "memanusiakan manusia" di mana dalam konsep tersebut, masing-masing individu fokus pada mewujudkan potensi diri, hingga memberikan manfaat bagi kehidupan bermasyarakat. 

Pendidikan menjadi alat kebijaksanaan manusia dalam berbangsa dan bernegara sudah bukan menjadi hal yang diragukan lagi. Membangun peradaban dari diri sendiri. Jika ingin merubah suatu negara, maka harus dimulai dari perubahan pada diri sendiri dulu.

Perkembangan baru di dunia teknologi dengan sebutan revolusi industri 4.0, memberikan tantangan bagi dunia pendidikan, dalam menyelaraskan pendidikan karakter berbasis kearifan lokal. Meski dunia berkembang begitu pesat, namun pendidikan karakter berbasis kearifan lokal harus diperkuat. Agar budaya yang hadir di lingkungan masyarakat tidak tergerus oleh kecanggihan teknologi.




Pendidikan karakter di era revolusi industri 4.0 harus tercermin dalam sikap kemandirian, misalnya para pelajar.Kkreativitas dan inovasi baru dalam berbagai bidang seperti ekonomi kreatif harus terwujud dalam pendidikan karakter ini. Pelajar harus memanfaatkan kondisi perkembangan teknologi dengan berbagai kreatifitas yang dimilikinya. Dari bidang usaha bisa menjadi peluang yang besar dalam membangun kemandirian dirinya sendiri. Hal ini terkait dengan potensi serta passion yang harus segera "ditemukan" dalam diri sendiri.

Membangun potensi atau talent serta mengasah passion adalah jawaban pasti. Hal berikutnya adalah terkait dengan konsep diri positif yang kuat juga harus dibangun sejak usia remaja. 

Pendidikan karakter memang harus meliputi beberapa point penting dalam membangun potensi diri untuk bisa bersaing dengan bangsa lain. Karakter tersebut diharapkan menjadi kepribadian utuh yang mencerminkan keselarasan dan keharmonisan dari olah hati (kejujuran dan rasa tanggung jawab), pikir (kecerdasan), raga (kesehatan dan kebersihan), serta rasa (kepedulian) dan karsa (keahlian dan kreativitas).





REVIEW BUKU : OASE JIWA

April 04, 2019 0 Comments



Satu lagi buku yang berisi kisah nyata para penulisnya. OASE JIWA, kumpulan kisah inspiratif tentang "memaknai hidup" dengan bahasa penulisan yang ringan, namun pesan moral yang tajam.

OASE JIWA menyajikan pengalaman berharga untuk memenuhi rasa dahaga pembaca akan makna kehidupan. Ujian hidup tiap-tiap hamba berbeda, skenario dari-Nya adalah yang terbaik bagi masing-masing insan. Demikianlah para penulis mencoba memberikan penekanan cerita dari pengalaman hidup mereka satu per satu.

Apa saja makna yang mampu mereka rangkum sepanjang perjalanan hidupnya. 
Apa saja yang mampu mereka sarikan dari segala persoalan dan masalah yang nyatanya mampu mereka selesaikan, atas izin-Nya.

Buku ini mengupas dari berbagai sisi kehidupan, benang merahnya adalah "keyakinan mereka akan kebesaran Tuhan".