Monday, September 16, 2019

MENGAJARKAN BALITA MENGENAL ANGKA DAN BERHITUNG

September 16, 2019 0 Comments
Berhitung dan angka merupakan 2 hal yang sangat dibutuhkan pada kehidupan sehari-hari. Semua aspek yang kita jalan pasti memerlukan kemampuan ini. Oleh karena itu kemampuan ini menjadi kebutuhan yang harus dimiliki setiap orang agar dalam menjalani keseharian menjadi lebih mudah. 
Untuk itu, setiap anak harus diajarkan mengenal angka dan berhitung sejak dini agar mereka mudah di kemudian hari. Dari beberapa referensi, aku pun mempraktikkan beberapa langkah mengenalkan angka dan berhitung yang aku terapkan untuk Lula.

1. Mengingat angka

Aku mengajarkan Lula untuk mulai mengingat dari angka 1 sampai dengan 10. Kebanyakan anak akan mudah mengingat angka dengan cara diajarkan dengan sambil bernyanyi atau setidaknya menyebutkannya dengan nada-nada nyanyian. Maka, aku pun melalukan hal ini setiap ada kesempatan untuk mengajarkannya. Misalnya pada saat Lula sedang menghitung jumlah mainannya.


2. Mengenalkan angka

Yang dimaksud mengenalkan angka di sini adalah pada langkah ini aku memperlihatkan bentuk angka pada Lula. Biasanya dengan memperlihatkan tulisan di buku-buku atau dengan menggunakan flashcard. Aku menunjukkan angka sambil mengucapkan angka berapa yang aku tunjuk dan Lula aku ajak untuk mengikutinya.


3. Interaksi dengan angka

Setelah kuperlihatkan bentuk angkanya, pada langkah selanjutnya adalah aku mengajari Lula untuk mulai menulisnya di kertas. Aku menggunakan bantuan activity book yang di dalamnya terdapat materi menjiplak angka. Cukup kuajari dia menulis angka 1 dan 2 saja. Namun aku melakukan hal ini bertahap agar Lula tidak terlalu terbebani. Aku juga mencoba untuk tidak mengajari menulis angka yang baru sebelum dia bisa dan hafal cara menulis angkanya.


4. Menggambarkan angka

Kebanyakan anak belajar dengan visualisasi mereka. Akan lebih baik jika anak dapat diperlihatkan contoh berhitung. Ada lagu bagus yang biasa kita dengar sejak kecil pun yang liriknya seperti ini:


“Dua mata saya,
Hidung saya satu.
Dua kaki saya,
Pakai sepatu baru.

Dua telinga saya,
Yang kiri dan kanan.
Satu mulut saya,
Tidak berhenti makan! ”



Biasanya, sambil kunyanyikan, aku pun sambil menunjuk mata, hidung, dan seterusnya.


5. Urutan angka

Setelah hafal dan mengerti cara menulisnya. Aku pun mengingatkan kembali pada Lula bahwa urutan angka tidak bisa diubah. Dalam berhitung harus tetap beruuratan yaitu 1 sampai dengan 10.



6. Praktik berhitung

Setelah mengenalkan angka, aku pun melakukan praktik berhitung. Langkah ini biasanya aku lakukan dengan cara melempar dadu, dan belajar menghitung jumlah titik dadunya. Atau bisa juga dengan benda-benda di sekitar seperti jumlah kursi, bantal, gelas dan sebagainya.


7. Berhitung acak

Apabila anak sudah mulai menguasi menyebut dan menulis angka. Pada tahap ini memang bisa dicoba agar anak mampu berhitung acak. Bisa juga dilakukan dengan menghitung mundur. Untuk Lula mungkin masih butuh beberapa bulan lagi, namun hal tersebut memang sudah aku lakukan pada Aksan serta Shahia, dan efektif!



Untuk mengenalkan angka pada anak, kusimpulkan sendiri dari pengalaman, akan lebih baik jika orangtua mencontohkannya langsung. 


MENGENAL BANGUN DATAR

September 16, 2019 0 Comments


Sebuah tantangan juga buatku, project kali ini adalah tentang mengenalkan bangun datar pada Shahia dan Lula. Kak Aksan ga aku ikutkan dalam project ini, kenapa?? Ya tentunya karena levelnya udah lewaaaaatt, wkwkwkwkwk.

Kak Aksan udah di level lebih rumit, ngitungin luas ama keliling bangun-bangun datar. Sedangkan kedua adiknya masih pada konsep mengenal jenis-jenis bangun ruang, terutama sih ke Shahia, karena Lula masih terlalu unyu nampaknya, wkwkwkwk, maklum lah 4 taon aja belum genep!

Mengawali dengan mengenalkan sebuah gambar panduan tentang bangun datar, lalu mengajak Shahia berkeliling pandangan, mencari beberapa benda dan kemudian menjelaskan itu termasuk bangun apa. 



 


1. Segi Empat

 

   Contoh benda yang berbentuk segi empat yaitu :






2. Persegi Panjang


    Contoh benda yang berbentuk persegi panjang yaitu :

 



3. Segitiga

   Contoh benda yang berbentuk segi tiga yaitu :




4. Lingkaran 


Contoh benda yang berbentuk lingkaran yaitu :



Alhamdulillah, setidaknya beberapa benda yang Shahia kenali sudah membantuku memberikan pemahaman terhadapnya tentang jenis-jenis bangun datar. 


MENGENAL MATA UANG

September 16, 2019 0 Comments

Game Level kali ini membahas tentang "Logika Matematika". Jujurly, sesaat aku tertegun (mikir serius, wkwkwkkw). Maklum, sudah lama aku tidak terlalu mengintimidasi anak-anak dengan berbagai rumus! Setelah bertobat (ceileeeh), dan berikrar oada diri sendiri bahwa jika anak-anak memang tidak memiliki potensi di bidang Matematika, aku memang mengendorkan ikatan mereka dengan mata pelajaran ini, meskipun tetap lah ya, enggak 100% aku lepas. Karena aku sadar, Matematika ini banyak sekali aplikasinya dalam keseharian kita.

Dan yap!! Sore ini pun, kami terlibat dalam "dialog Matematika" (akhirnya bisa nggarap tantangan, wkwkwwkwk ....)

"Bund, boleh minta uang?" tanya Shahia dengan manis. 
Memang sudah menjadi "jatah"-nya, kalau sore sesudah selesai mengerjakan "tugas rumahan" dia akan meminta "upeti" berupa uang jajan.

"Mau jajan apa sih, Nak? Adek diajak ya ... yang akur ... Adek digandeng ke warung, jajannya juga yang ......." Belum selesai kalimatku, si bungsu sudah menyerbu.
"Yang halal!" celetuk bungsuku lucu.

"Bukan cuma yang halal, tapi enggak boleh beli permen karet juga lo Dek!" Shahia dengan berlagak pahlawan ikut menjawab. "Iya kan Bun? Janji deh enggak beli permen! Ayo Lul, kamu juga janji!" Shahia mengajukan kelingkingnya ke hadapanku sambil nyengir.
Sambil menahan tawa supaya terlihat tetap serius, aku pun menyodorkan kelikingku, menautkannya dengan kelingking Shahia, kemudian bergantian dengan kelingking Lula. Mereka pun semakin berbinar.

"Coba, Bunda mau tau dulu. Rencananya nih, Kak Shahia sama Lula mau jajan apa?" tanyaku tetap menyelidik sebelum benar-benar memberinya sejumlah uang.

"Mau beli es krim aja, Bun. Boleh?" Shahia menjawab dengan cepat, diikuti adiknya dengan wajah menggemaskan mulai maju beberapa senti ke arahku, dia sudah siap-siap merayuku dengan ciuman mautnya!!

"Hmm... tunggu dulu, harga es krim-nya berapa Nak?" 

"2.000 ada Bun, yang 3.000 juga ada."

"Oke, bawa 2.000-nya 3 lembar ya Nak."

"Yang ini kan ya, Bun. 2.000 itu 0-nya ada 3. Kalau yang ini itu 20.000, karena 0-nya ada 4." Shahia mulai memilah uang yang ada di dompetku.

Mengajar anak soal uang bisa dibilang gampang-gampang susah. Gampang karena pasti lambat-laun mereka kenal mata uang. Namun, bakal sulit karena enggak gampang bikin anak bisa mengelolanya dengan bijak.
Meski terlihat sulit, sebenarnya mengajar anak soal uang enggak harus dengan cara formal. Sebagai bunda, aku merasa kudu bisa mengajarkan dengan cara benar-benar halus tanpa terkesan mendikte.
Awalnya memang belum ada gambaran sama sekali, namun tantangan game level ini memicuku untuk berkreasi. Dari obrolan sore dengan Shahia dan Lula, diriku pun mendapatkan inspirasi, beberapa cara untuk aku jadikan sebagai langkah-langkah mengenalkan anak-anak dengan uang.

1. Memperkenalkan mata uang




Langkah pertama yang harus aku lakukan tentu aja memperkenalkan mata uang pada anak. Aku memulai dari nominal terkecil sampai dengan nominal terbesar.
Aku ajarkan Shahia dan Lula membedakan angka pada mata uang, gambar, dan nomor seri serta beberapa tanda tersembunyi. Membantu mereka untuk mengenali uang asli sehingga bisa membedakan dengan uang palsu.


2. Mulai memberikan uang saku



Setelahnya aku pun membiarkan Shahia memegang sendiri uang yang sudah dia kenal. Aku mulai mengajarkannya kenal uang dari nominal terkecil. Aku biarkan dia memegang uang tersebut sehari, namun aku tetap mencari tahu apa yang dia lakukan terhadap uang tersebut.
Sebelumnya, aku ajarkan mengenai penggunaan uang. Misalnya aja, dia bisa menggunakan uang tersebut bila ada yang dia butuhkan.
Perlahan-lahan, aku mulai ajarkan Shahia buat menabung sebagian dari uang yang dia pakai. Biar dia makin semangat, aku pun hadiahkan celengan berbentuk lucu.

3. Ajak anak berbelanja


Mengajak anak-anak berbelanja enggak salah, kok. Justru di sanalah aku berpikir bisa mencontohkan pada mereka gimana caranya menggunakan uang yang dimiliki.
Enggak harus belanja ke supermarket, aku memulai ajarkan aktivitas belanja ke warung terdekat. Contohnya, ya jajan es krim di atas tadi.
Sebelum berangkat, aku selalu tanyakan apa yang ingin dia beli. Tentu aja ada aturan mengenai apa yang diizinkan buat dibeli dan yang enggak. Aku biasanya melepas mereka untuk memilih bahkan membayar barang yang dia inginkan dengan uang jatah jajannya tersebut.
Dengan mengajak anak berbelanja, anak mulai dikenalkan dengan proses jual-beli. Enggak cuma itu, anak juga belajar buat membelanjakan uangnya dengan barang yang udah direncanakan sebelumnya. 

4. Mulai ajarkan menabung


Seiring berjalannya waktu, anak pun bisa diajarkan untuk belajar menabung lebih serius. Enggak cuma menggunakan celengan, anak bisa dikenalkan pada tabungan bank.
Cara ini memang sudah aku lakukan sejak beberapa bulan yang lalu. Aksan, Shahia dan Lula memiliki tabungan khusus dalam bentuk rekening bank. Mereka punya uang jajan tetap yang aku sodorkan tiap pekan untuk Shahia dan bulanan untuk Aksan. 
Dari uang jajan tersebut, aku membantu mereka untuk menyisihkan sebagiannya buat ditabungkan ke bank.
Biar enggak terlalu berat, awalnya aku ajak mereka punya goal tertentu. Misalnya, saat pengin beli barang tertentu, sepeda contohnya. Nah, mereka harus menabung terlebih dahulu buat beli barang tersebut.

5. Mengajarkan anak soal uang melalui permainan


Nah, ini dia yang enggak boleh terlupakan. Mengajarkan anak soal uang enggak selalu dilakukan dengan praktik langsung. Aku pun terkadang mengajak Shahia dan Lula bermain, misalnya bermain jual-jualan.
Salah satu permainan yang mengajarkan anak konsep uang dan mengelolanya adalah monopoli. Percaya deh anak bakal lebih mudah belajar mengelola uang dengan cara santai. 

Atau bisa juga dengan main jual-jualan. Konsep pengurangan dan penjumlahan secara tidak langsung juga akan terbentuk di sini. Aku biasanya akan berpura-pura menjadi pembeli, sedangkan Lula atau Shahia sebagai penjual. Mereka akan menentukan harga, dan aku memberinya uang mainan sebagai bentuk transaksi. 

Betapa serunya bermain mengenalkan konsep mata uang pada anak, sekaligus menerapkan unsur logika Matematika lainnya. Penjumlahan, pengurangan, dan nilai desimal (mengenalkan berapa jumlah 0 pada bilangan nominal uang).





Sunday, August 25, 2019

DARI TUGAS KELAS, HINGGA JADI AKTIVITAS

August 25, 2019 0 Comments



Beberapa level enggak setor aliran rasa (jujur banget!!), bukan karena tidak merasakan apapun, tapi justru karena terlalu fantastis rasanya hingga tak mampu berkata-kata.

Di sela-sela aktivitas offline yang makin merajalela, dan secara otomatis mengurangi jam online, aku harus tetap berpaua berpacu dengan semua list agenda.

Sudah jadi prinsipku, saat menceburkan diri ke dalam kelas tertentu, maka aku enggak boleh setengah-setengah, kudu total! Meskipun aku menyadari bahwa upayaku tetap saja belum terlalu optimal. Sehingga tentu saja, hasilnya pun kurang maksimal.

Belum pernah menggondol badge "prestasti", namun aku tetap bangga pada diriku sendiri, setiap kali Allah mampukan menyelesaikan tantangan 10 hari! Aku menang! Aku menaklkukkan tantangan 10 hari kelas bunda sayang dengan perjuangan yang luarbiasa (menurutku siiih ...)

Masih harus ngajar kelas offline, tugas negara sebagai asesor ke beberapa kota, hingga pecutan tanggung jawab domestik yang masih banyak kukerjakan sendiri. Alhamdulillah delegasi tugas ke anak-anak sudah berjalan seperti sistem manajemen rumah tangga. 

Aku sudah tidak pernah lagi pegang sapu, pel, merapikan tempat tidur, melipat baju-baju yang sudah aku cuci hingga memasukkannya ke dalam almari. Aksan dan Shahia sudah membagi tugas untuk mengambil alih beberapa pekerjaan domestik itu. MasyaAllah ....

Mulai dengan komunikasi produktif, melatih kemandirian anak, menstimlasi kecerdasan anak, mengobservasi gaya belajar anak hingga pada titik menstimulasi minat membaca anak, merupakan level tantangan yang menjadi bagian dari konsekuensi kelas, namun pada akhirnya menjadi aktivitas harian. MasyaAllah ... 

Di level #5 ini, diriku pun berpacu dengan segala aktivitas yang mulai memadat. Semua Allah gariskan dan telah DIA izinkan aku masuk kelas bunda sayang batch ini, tepat pada saat kegiatan offline dan online saling sikut-sikutan!

Rencana Allah memang luarbiasa hebat. Di level #5 ini pula diriku menjadi bagian dari KIP 2019 (Konferensi Ibu Profesional), menjadi LO salah satu nara sumber pula di event bergengsi tersebut. Sebut saja Mata Aksara, pelopor inisiator literasi di kawasan jalan Kaliurang Jogjakarta ini mampu membuatku berkali-kali makin jatuh hati dengan dunia literasi.

Sungguh, nikmat mana lagi yang bisa aku dustakan, jika Allah begitu banyak memberikan kemudahan berupa rezeki silaturahmi dengan orang-orang yang DIA hebatkan!

Mendapatkan oleh-oleh satu paket buku dari Pak Adi dan Bu Heni, founder Mata Aksara, makin membuatku menggebu untuk menggeliatkan literasi di Semarang khususnya, dan semakin menebarkan manfaat lebih meluas lagi. Semoga Allah ijabah. Aamiin ...

Menstimulasi anak untuk membaca, meskipun dalam keseharian mereka sudah nampak akrab dengan buku, tetap saja membutuhkan kegigihan extra. Akan tetapi, aku yakin, anak-anakku menjadi lebih terpacu kini untuk berkreasi lebih banyak dalam literasi. 

Membaca lebih banyak buku akan semakin meluaskan dunia mereka, mempertajam pola pikirnya, memperkuat mental dan memperkokoh karakternya. Semoga Allah selalu istiqomahkan ketiga buah hatiku untuk terus membaca, membaca ayat-ayat-Nya yang tersurat maupun tersirat.




#SalamLiterasi

KONFERENSI IBU PROFESIONAL 2019, BAGIAN SEJARAH PERGERAKAN PEREMPUAN!

August 25, 2019 0 Comments

Aku masih gagal move on dari hingar bingar KIP 2019. Masih tetap merinding setiap kali mengingat semua moment itu. 3 hari 2 malam yang mampu membuatku terus tercengang. Takjub, bangga, haru, menjadi lebih banyak bermuhasabah, hingga merasa ledakan semangat menyeruak dari dalam kalbu! "Dare to make a big dream!" Kalimat sakti itu terus mencuat di benak dan memenuhi otakku untuk merangkai impian-impian di masa depan.

Menjadi panitia KIP 2019, membuatku banyak belajar tentang kekompakan team. Menangis haru bersama mereka, karena syukur tak terkira. Allah lancarkan semua acara. Alhamdulillah ....

Sungguh nikmat yang tak ternilai menjadi bagian dari konferensi, menimba ilmu dari para ahli. Jajaran wanita hebat yang menjadi nara sumber, Ibu Septi, Ibu Sumitra, Ibu Noor Lisnani, Mbak Made, Ibu Tri Mumpuni, Mbak Elsy, Mbak Uswah, Mbak Efi, Mbak Indah Laras, Mbak Puspa, Mbak Restu, Mbak Puri, Mbak   serta 3 bapak yang tak kalah memukau, Ustaz Yazid, Pak Adi dan Pak Dodik.






Hari kedua, mewakili KLIK IP  Semarang bersama Mbak Marita juga menjadi bagian yang mendebarkan. 

Banyaknya apresiasi terhadap KLIK, bahkan beberapa secara personal menyampaikan ketertarikan dan ingin melakukan hal yang sama di regionalnya membuatku trenyuh.


Datang ke KIP atas izin dan ridho-Nya, bukan hanya menjadi bagian dari "saksi sejarah", namun juga menjadi bagian dari "pelaku deklarasi" konferensi membuatku benar-benar bersyukur. 



Allah pertemukan dengan orang-orang hebat, maka aku yakin, Allah sesungguhnya ingin supaya aku menjadi lebih bermanfaat seperti mereka


.





Tak ingin meninggalkan Jogja tanpa jejak. Sebelum kembali ke Semarang, aku dan beberapa teman mampir ke Mata Aksara, salah satu nara sumber KIP. Pak Nuradi dan Bu Heni menyambut dengan hangat. Bincang santai di Taman Baca Mata Aksara, ngulik aktivitas apa saja yang diadakan di sana, lebih intim dengan pasangan inspiring ini menguras informasi tentang literasi.

Takjubku benar-benar tidak terkendali. Keduanya bercerita tentang segala perjalanan hingga berada di titik ini. Keduanya mewakafkan waktunya untuk dunia literasi. MasyaAllah ....
Barakallahu Pak Adi dan Bu Heni sekeluarga, batinku tak lepas dari doa untuk keduanya.



Segalanya tentang KIP tak mampu terlukiskan hanya dengan kata-kata. Bahkan pemilihan diksi indah pun tak mampu menggambarkan segala perasaan syukur yang tertumpah ruah saat aku mengingat kembali, betapa HTM untuk acara ini "SANGAAAATT MUUURAAAAHHH!!"

Konferensi Ibu Profesional merupakan inisiator serta inspirator! Deklarasi yang dibacakan secara langsung oleh Ibu Septi, founder Ibu Profesional meluluh lantakkan jiwa, membakar gelora semangat baru. 

Dua tahun lagi, jadilah saksi sejarah temans!!
Karena dua tahun lagi, Konferensi Perempuan Indonesia akan kembali diselenggerakan, bukan lagi oleh kami, panitia KIP 2019, akan tetapi kalianlah yang akan menjadi bagian menjadi tim sukses penyelenggaraan Konferensi Perempuan Indonesia 2021!!!


#SalamPerubahan












Saturday, August 24, 2019

KONFERENSI IBU PROFESIONAL 2019, TOREHKAN SEJARAH PERUBAHAN!

August 24, 2019 0 Comments


Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rinduMasih seperti dulu ... Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa maknaTerhanyut aku akan nostalgi, saat kita sering luangkan waktuNikmati bersama suasana Jogja
Di persimpangan langkahku terhenti, Ramai kaki lima menjajakan sajian khas berseleraOrang duduk bersilaMusisi jalanan mulai beraksi, seiring laraku kehilanganmuMerintih sendiri ... di telan deru kotamu ...
Walau kini kau t'lah tiada tak kembaliNamun kotamu hadirkan senyummu abadiIjinkanlah aku untuk slalu pulang lagiBila hati mulai sepi tanpa terobati (tak terobati)




Lirik lagu sendu Kla-Project sayup-sayup menggelayuti batinku. Hari itu, aku kembali ke Jogja, ya ... tanggal 16 Agustus 2019 aku kembali menginjakkan kakiku di Kota Gudeg setelah sekian tahun tak pernah menilik kota ini.

Pikiranku melayang-layang belasan tahun silam, romantisme masa-masa kuliah membuatku tersenyum sendiri. Sama seperti hari ini, aku kembali ke Jogja untuk "belajar". Namun bukan di bangku perkuliahan, tapi belajar dari para "Change Maker" dalam Konferensi Ibu Profesional.

Menjadi panitia yang kami sebut diri kami genk "Timses Konferensi" membuatku gugup, sekaligus bersyukur. Bagaimana tidak? Ini adalah perhelatan pertama yang diselenggerakan komunitas kami, Ibu Profesional.

Memasuki Sahid Hotel, dadaku berdesir!
Bagaimana tidak? Kegugupanku semakin menjadi, karena pada akhirnya, kami, genk panitia ini terkumpul menjadi satu frame! Sejak beberapa bulan yang lalu, persiapan event besar ini, kami koordinasikan hanya lewat komunikasi online.







Aaah, mataku langsung terpaku pada ucapan selamat datang. Aku benar-benar di sini gaes!!! Aku akan menjadi saksi Konferensi Ibu Profesional dan ikut menorehkan sejarah bagi kaum perempuan!!

Desiran batinku semakin membuncah, tatkala aku melihat beberapa bentuk wajah berdandan totalitas ala "Inem Jogja", sosok wanita yang akan menjadi nara sumber hari ini. Tidak berfoto dengan teman-teman panitia saat wajahnya mengenakan make up maksimal, akan rugi berat pokoknya!!



Lalu mataku tertuju pada panggung yang begitu artistik, Njawani Banget! 


Aku makin gemetar saat aku mulai membayangkan akan berdiri di atas panggung, membacakan doa pembuka ples di hari kedua, diriku diberi amanah bersama mbak Marita menjadi Jubir KLIK IP Semarang yang menjadi salah satu pemenang CFP.

Hari pertama KIP, kami sudah diracuni virus-virus positif dari nara sumber. Dibuka dengan tarian bersama INEM Jogja, dilanjutkan dengan acara pembukaan, termasuk menyanyikan lagu Indonesia Raya 3 stanza yang sukses membuatku meleleh! (Nyanyi Indonesia Raya sambil mbrebes mili!).

Setelah hingar  bingar pembukaan, nara sumber pertama yang sudah muncul di awal mengajak menari semua peserta kini duduk di atas panggung. Talkshow bersama INEM Jogja, yang bernama asli Made Dyah Agustina. 

Bliau bercerita mulai dari alasan kenapa "Inem", kenapa berdandan clemang clemong dan sebagainya. Lagi-lagi, sukses membuatku makin bergidik. Satu pesan yang aku simpulkan dari mbak Made :

Jadilah diri sendiri, lakukan apa yang ingin dilakukan. Jangan pernah ragu untuk mencoba sesuatu yang baru, selama itu bermanfaat. Jika kita niatkan untuk sesuatu yang bermanfaat, Tuhan akan mempertemukan kita dengan orang-orang baik. Tidak perlu menjadi seperti Inem yang edan dan tidak waras, jadilah versi terbaik diri sendiri masing-masing. 


Bukan hanya materi pembuka dari Inem, nara sumber berikutnya di hari pertama cukup mampu membuatku terus melek, bahkan "ngowoh" (melongo). Dia lah Ibu Sumitra Pasupahaty, dari Singapura. Bu Sumi mewakili  Ashoka Foundation. 


Beberapa game dari Bu Sumi, cukup membuat kami berpikir keras untuk menjawab beberapa pertanyaan berikut :
1. Kapan pertama kali kamu melakukan hal baik untuk dirimu sendiri?
2. Kapan pertama kali kamu melakukan hal baik untuk orang lain? 
3. Kapan pertama kali kamu melakukan hal baik untuk diri sendiri dan orang lain saat remaja?
Bu Sumi berbagi kisah perjalanannya hingga kemudian bertemu Ashoka. Bagaimana dia awalnya membuat perubahan kecil yang pada awalnya hanya berniat memberikan "wadah bermain" bagi anak-anak di Singapura yang mulai kesulitan untuk bermain bersama.
Bu Sumi ternyata tidak hadir sendirian. Selain ditemani Ara Kusuma, putri kedua Ibu Septi Peni-Pak Dodik, yang juga menjadi bagian dari Ashoka. Bu Sumi ternyata juga membawa young fellow lainnya, yaitu Lita dan Rere.
Lita dengan program kelas melukis dan bermain bersama, kemudian dia juga menjadi motivator bagi rekan-rekannya atau pun anak-anak yang lebih mudah dibanding dirinya. Lita selalu mengobarkan semangat kepada mereka untuk "berani bermimpi!"
Sedangkan Rere, gadis asal Magelang ini adalah dengan mendirikan Rumah Baca Mc Ganz, yang memiliki arti Allah bersama kita. Di rumah bacanya, Rere memberikan pelatihan menulis gratis hingga menghasilkan karya.
Aku seperti ditampar .... Usia 15 tahun, aku ngapain? Aku kemana aja?
Aah ... MasyaAllah ... cipratan semangat untuk menjadi bunda yang membersamai generasi perubahan spontan meletup di dadaku! Anak-anakku harus berani bermimpi dan harus berani beraksi mewujudkan impian tersebut!




Belum menginjak hari kedua, aku sudah lemes saking terpesona dengan aroma luarbiasa para nara sumber!!!
Racun-racun pembawa perubahan itu terus menyusup ke relung jiwaku. 

"Aku pun harus bisa membuat perubahan!! Minimal perubahan dari dalam dirku sendiri, keluarga kecilku!"



 #CatatanHariPertama