Thursday, May 16, 2019

SYUKUR TIADA PUTUS

May 16, 2019 0 Comments

Gak terasa, bulan kedua sudah terlampaui dengan apik. Lagi-lagi, meski tak menghasilkan award apapun, diriku tetap puas dan bersyukur telah menyelesaikan tantangan hingga tuntas. Syukur tiada putus, di sela aktivitas yang mulai kejar mengejar, diriku masih DIA mampukan untuk menyelesaikan apa yang sudah aku mulai. Alhamdulillah ....

Mendidik kemandirian anak, bukan sebuah pekerjaan mudah. Konsistensi dalam membangun aktivitas harian, acap kali jatuh bangun karena kesibukanku sebagai orang tua yang punya peran ganda. Alhamdulillah sekali lagi, lagi-lagi Allah mudahkan. Anak-anakku, DIA bimbing untuk cepat memahami dan mengerti apa itu "kemandirian" serta DIA mudahkan anak-anakku menjalankan semua rentetan aktivitas yang mulai kubangun dalam keseharian mereka. Doa ku pun tak putus, semoga mereka senantiasa istiqomah melaksanakan kebiasaan-kebiasaan baik dalam rangka memupuk kemandirian dan kematangan mereka, baik secara psikis maupun mental.



Tak ada yang sempurna, selain DIA. Selalu ada celah dalam mendidik anak menuju insan yang mandiri sekaligus berdedikasi. Bukan hanya bisa mengandalkan diri sendiri, akan tetapi juga meneladani sosok yang amat disayang Illahi, Rosulullah saw. Aksan insyaAllah sudah mulai membangun kebiasaan baik meneladani Rosulullah yang tidak malu dan sungkan mengerjakan pekerjan rumahtangga. Shahia, insyaAllah sudah bisa menata dirinya sendiri serta mulai terbentuk rasa empati untuk lingkungan sekitar (baca : rumah) sehingga dia selalu ikut ambil bagian dalam prosesi "beberes" rumah tanpa perintah. Nayura si bungsu, alhamdulillah sudah memahami konsep "tanggung jawab" saat bermain. membereskan mainannya kembali, kemudian ke kamar kecil sendiri, bahkan dia juga sudah mulai menawarkan dirinya untuk membantu hal-hal lain, misalnya mengisi botol minuman untuk dimasukkan ke dalam kulkas, dan sebagainya.

Sebuah pencapaian yang tidak mungkin tanpa campur tangan Allah. Syukurku tiada putus! Alhamdulillah  ... alhamdulillah ... 

Semoga Allah senantiasa mereka semua dalam keistiqomahan. Aamiin ....


Tuesday, May 7, 2019

ALLAH MENYUKAI YANG RAPI DAN INDAH

May 07, 2019 0 Comments
Membiasakan anak shalat sejak usia dini adalah bagian dari pola asuhku. Tidak untuk memaksa anak beribadah, hanya saja tujuanku adalah membiasakan anak mengenal shalat 5 waktu. Walau pun untuk usia Lula, si bungsuku yang baru berusia 3,5 tahun, shalat bukanlah sesuatu yang aku haruskan.

Sesekali Lula bersemangat mengikuti gerakan shalat, bahkan dari cara berwudhu pun Lula sudah mulai belajar. Gerakan shalat, alhamdulillah dia sudah hafal. 

Setelah shalat pun, aku membiasakan dia melipat sendiri mukena serta sajadahnya. Alhamdulillah, Lula sudah bisa melakukan semua hal itu. Yaaa ... meski lipatannya tidak terlalu rapi, tetapi itu sebuah prestasi yang patut aku syukuri.

"Nanti abis shalat, mukena dan sajadahnya dirapiin lagi ya, Sayang."

"Kaya kalau abis mainan ya Bun? Diberesin lagi kalau abis mainan," balasnya dengan aksen lucu.

"Iya, Sayang. Dilipet yang rapi kalau abis shalat, terus disimpen mukena dan sajadahnya di tempat alat shalat."

"Iya Bun!"

"Eh, kenapa ya kita harus rapi-rapi? Lula tau ga? Hayooo ... inget ga kenapa harus rapi-rapian?"

"Anuuu ... itu lo Bun, biar kita disayang Allah. Allah kan suka yang rapi-rapi ya Bun."

"Wah, masyaAllah, anak soliha Bunda inget loh. Iya Nak, Allah itu suka sama yang rapi-rapi. Jadi, kalau mau disayang Allah, ya kita harus rapi juga."

Dia mengganggukkan kepala. Dan setelah melipat mukena serta sajadahnya, Lula berlari ke arah almari kecil tempat penyimpanan alat shalat.

Hmm ... desis alhamdulillah membanjiri bibirku. Ternyata mendidik anak untuk mandiri di usia dini, tidaklah terlalu rumit. Mengenalkan apa yang disukai Allah bisa memberikan motivasi anak untuk merapikan barang-barangnya sendiri. 




Menjadi Lelaki yang Bisa Diandalkan!

May 07, 2019 0 Comments

"Kak, alhamdulillah, Bunda dapet rezeki nih. Kita bisa beli kipas angin."

"Wah, alhamdulillah Bun."

Aku dan anak-anak memang belajar untuk lebih menyayangi alam. Kami sepakat tidak menggunakan pendingin ruangan. Hanya angin sepoi dari kipas angin lah yang biasanya membantu menyejukkan ruangan di dalam rumah kami.

Qodarullah, beberapa waktu lalu, kipas angin kami rusak. Ketika kutanyakan ke tukang reparasi, ongkos perbaikan dengan beli baru kok terasa tipis. Akhirnya, setelah dua bulan tanpa kipas angin, Allah memperkenankan aku membeli baru bulan ini.

Seperti biasa, beli kipas angin model stand tentunya dirakit sendiri di rumah. Sebenarnya bukan hal yang rumit sih, karena ada manual book, tinggal ikuti langkah-langkahnya saja. 

"Bun, sini Kakak aja yang bantu masang-masang."

"Emang Kakak bisa? Ini pakai obeng segala lo, Kak."

"Kakak coba ya Bun. Kakak ambil obeng dulu deh."

Tak lama dari dia mencari obeng di box peralatan, dia kembali di hadapanku. Dengan sigap, dia membaca buku panduan, lalu tangannya luwes memegang obeng.

"Bun, bantuin Kakak meganging yang ini, Kakak pasang ini dulu, lalu kencengin mur-nya dengan obeng."

"Hmmm, oke. Jadi Bunda cuma bantu megangin aja ya?"

Dia menggangguk dan kembali fokus pada kipas yang kini sudah berhasil berdiri di hadapannya. Tinggal memasang bagian kincir angin saja.

Sebentar kemudian, aku mengikuti aba-abanya, bagian mana yang kupegang dan kukaitkan. Kemudian Aksan mulai mengencangkan dengan obeng. Dan yap! Selesai!

Kipas angin sudah berputar-putar menggerakkan udara, menghasilkan angin sepoi-sepoi. Alhamdulillah, Aksan tumbuh menjadi sosok yang mandiri, menjadi lelaki yang bisa kuandalkan.



KOMPAK BERAKTIVITAS DI BULAN RAMADHAN

May 07, 2019 0 Comments



Mengisi bulan Ramadhan dengan memperbanyak aktivitas ibadah tentu sudah menjadi sebuah keharusan. Apalagi, di awal bulan Ramadhan ini, anak-anak libur sekolah. Sekolah memberikan kesempatan untuk beradaptasi dengan menjalankan puasa di rumah, tanpa kegiatan sekolah.


Aksan dan Shahia sepakat, bahwa belajar mengaji bersama menjadi agenda Ramadhan tahun ini. Tarawih, dan bahkan shalat wajib ke masjid bersama-sama menjadi bagian dari kesepatakan keduanya. Pagi ini aku masih riweh dengan si bungsu yang memang lengket kaya permen karet denganku. Bahkan saat aku habiskan waktu dengan tilawah pun dia maunya duduk di pangkuanku. 

Shahia yang merengek mengantri ingin disimak ngaji jilid dua-nya harus bersabar dengan monopoli adiknya terhadap diriku. Akhirnya, Aksan, si sulung menawarkan diri.


"Shah, sini ngaji sama Kakak aja. Mau ga?"

"Emang Kakak bisa?"

"Yeee ... ngremehin Kakak! Kakak kan udah sampai ghorib. Bisa lah kalau ngajarin kamu yang masih jilid dua."

"Emangnya boleh gitu ya, Bun?" Shahia meminta pendapatku. Aku menganggukkan kepala tanda setuju.

Oke! Masalah terpecahkan, alhamduillah. Mereaka berdua beringsut mengambil posisi berhadapan. Si Kakak bak guru, menyimak dan membenarkan beberapa bacaan adiknya yang masih kurang tepat.



MasyaAllah ... hatiku gerimis! Dasar emak baper!

Sesungguhnya, Allah lah yang menggerakkan hati keduanya sehingga sedemikian enjoy belajar mengenal huruf-huruf yang menjadi aksara firman-firman Allah. 

Satu alasan bersyukur hari ini. Anakku kompak belajar mengeja huruf-huruf hijaiyah tanpa dipandu bundanya. Allah membimbing keduanya, subhanallah wal hamdulillah ....





Melatih Kemandirian Anak

May 07, 2019 0 Comments
"Bun, kita maem soto donk buka puasanya!" usul Shahia.

"Hmm ... oke deh."

***

Setelah khusyuk menyantap Soto Semarang-an dengan mangkuk gerabah yang khas. Tempat sederhana, namun hangat dan menjadi favorit anak-anak. Bukan saja rasa masakannya yang memang pas di lidah kami, namun juga kehangatan Budhe dan Pakdhe pemilik warung yang sekaligus menjadi peramu serta penyajinya menghipnotis kami dan menjadikan warung Soto Gerabah masuk dalam list kuliner yang rekomended.

"Nak, nanti Shahia ya yang ngitung ke Budhe."

"Ngitung apa Bun?"

"Ngitungin kita ini berapa harus bayar. Soto besar 3, kecil 1, es teh 3, sate telur 3, tempe 3, sama air putih anget."

"Oke Bun!"

"Shahia inget ga? Coba ulang lagi, kita maem apa aja. Bismillah dulu ya, biar Allah bantu Shahia inget-inget."

Dia pun mulai bergumam, sesekali melirikku untuk meminta penilaian, benar atau salah. Dan yap! Dia mampu mengingat dengan benar. Gadis kecilku yang kini sudah berusia 7 tahun itu menuju pemilik warung, menyampaikan apa saja yang kami makan dan minum.

Budhe pemilik warung terkekeh, melirikku sesekali, dan aku balas dengan anggukkan kepala pertanda setuju bahwa yang disampaikan Shahia semua adalah benar.

Alhamdulillah, satu lagi hari ini misiku berhasil, Allah memudahkan.
Shahia belajar mengingat informasi yang lebih rumit, kemudian menyampaikannya kepada oranglain dengan benar. Keberanian menyampaikan kepada oranglain juga merupakan poin yang aku harapkan. Dan dia lulus kedua poin tersebut. MasyaAllah ....

Ah, nikmat mana lagi yang bisa aku dustakan, Allah benar-benar Maha Luarbiasa. DIA membantu anakku mengingat informasi dan menumbuhkan keberanian untuk bersosialisasi dengan orang dewasa.





Saturday, May 4, 2019

Biarkan Anak Persiapkan Bekalnya Sendiri

May 04, 2019 0 Comments
"Bun, Shahia hari ini mau bawa botol minum dua."

"Lha kok dua?"

"Iya, yang satu isi teh, yang satunya air putih aja."

"Wah, repot dong Bunda nyiapin dua-duaan."

"Bunda bantu siapin yang teh aja, Shahia isi sendiri yang air putih."

"Oke deh anak soliha."

Perbincangan singkat dengan anak keduaku menuai bahagia di hatiku. Bagaimana tidak, dia sekarang sudah lebih mandiri mengurus dirinya sendiri sebelum ke sekolah. Bekal minuman selalu dia siapkan sendiri setiap pagi. Alhamdulillah ....

Peranku hanya mengawasi sambil menyiapkan bekal makan siangnya. Ah, lega rasanya satu lagi kebiasaan sudah terbangun dalam keseharian Shahia.

"Nah, sudah penuh Bun!"

"Oke, teh -nya juga sudah jadi. Bunda yang nuang atau Shahia yang nuang ke botol?"

"Shahia aja deh, Bun!"

"Oke Sayang. Abis itu ganti baju, pakai kerudungnya, kaos kaki, tas dirapikan, kita berangkat ya!"

"Oke Bunda!"


Alhamdulillah ... Berkali-kali gumam hatiku berdentum memuji-Nya.



Biasakan Anak Melakukan Pekerjaan Rumah Tangga

May 04, 2019 0 Comments
Pekerjaan rumah tangga biasanya identik dikerjakan oleh orang tua, terutama ibu. Padahal, anak juga bisa ikut berperan mengerjakan pekerjaan rumah tangga sesuai usianya. 

Menurut sebuah penelitian, melakukan pekerjaan rumah tangga bisa mengajarkan anak tentang pentingya tanggung jawab di dalam keluarga.

Shahia, usia 7 tahun, mulai banyak aku libatkan dan berikan peran dalam pekerjaan rumah tangga. Kami bekerja sebagai teamwork. Ada pembagian tugas, atau kadang kami melakukannya sambil bermain. 

Aku membiasakan tidak hanya menyuruh anak, akan tetapi mencontohkan cara mengerjakan pekerjaan rumah tangga tersebut sebelum benar-benar melepasnya. Kami biasa mencuci piring bersama, kadang juga menjemur pakaian bersama, diselingi permainan atau hanya sekadar candaan.

Endingnya, aku memberikan dia apresiasi atas kinerjanya. Memberinya pujian dan ucapan terimakasih, bahkan hanya membolehkannya membeli sebungkus permen saja itu sudah sangat membuatnya tersenyum lebar.

Alhamdulillah ... Bahagia itu sederhana bukan? 
Mendidik kemandirian anak setiap hari, melihat perkembangannya, selalu saja menjadi satu alasan syukurku setiap hari.

Subhanallah wal hamdulillah ....