Thursday, April 4, 2019

REVIEW BUKU : DEATH ROOM

April 04, 2019 0 Comments


Melompat ke genre thriller, buku ini bisa jadi rekomendai thriller yang tidak begitu berat. Sekitar 20 cerita fiksi ini akan membawa pembaca mengaduk-aduk rasa.

Mulai dari kengerian, ketegangan, hingga mungkin bayangan darah-darah berceceran. Kejutan-kejutan dan ending cerita yang tidak terduga di awal membuat buku ini menarik. Gaya khas masing-masing penulis pun nampak berbeda satu dengan lainnya, namun saling menguatkan isi buku.

Death Room! Ruang Kematian!
Bukan hanya berkisah tentang tragedi kematian saja, namun juga kisah-kisah menenangkan lainnya.
Berani coba? Siapkan adrenalin menjadikan hati berdesir!



REVIEW BUKU : THE LITTLE DETECTIVES

April 04, 2019 0 Comments



Genre anak memang tidak pernah lepas dari ide-ide unik. Buku ini full color dengan jumlah halaman 150 ++ berisi belasan cerita fiksi anak bertema detektif.

Keseruan bercampur ketegangan ala dunia anak tersaji apik sesuai target usia pembaca (anak usia 7-12 tahun). Anak-anak pun diajak untuk ikut berpikir siapa pelaku menghilangnya benda-benda yang menjadi topik cerita.

Mulai dari benda berharga, hingga hanya berupa daun kelor pun menjadi misteri yang asik untuk diungkap. Satu suguhan yang akan menambah wawasan anak-anak dengan cara yang menarik untuk dicoba.




#kelasmenulisonline
#kelompokF4
#saskia
#day17

REVIEW BUKU : RAINBOW - The Miraculous Stories of Single Moms

April 04, 2019 0 Comments


Baca ini memang kudu deket ama tisu dan siapin secangkir kopi. Loh kok? Emang kenapa?
Tisu udah pasti buat "ngelap" luapan airmata yang dijamin akan meleleh tanpa diperintah saat membaca lembar demi lembar buku ini.

Lalu kopi? Kopi untuk menjaga agar mata tetap melek dan fokus pada kisah-kisah yang tak jarang, bagai drama-drama sinetron!

Menjadi bagian dari penulis buku ini, tak membuatku menjadi "sok tegar", nyatanya, aku tetep aja "mbrebes mili" membaca kisah-kisah sahabat solihaku dengan status yang sama "singlemoms".

Ada yang dalam kesendiriannya masih harus berjuang menjadi survivor kanker, ada yang tiba-tiba harus dipaksa belajar ikhlas karena suami kembali ke sisi Allah padahal dirinya sedang hamil anak pertama! Serta belasan kisah lain yang cukup menguras emosi.

Menyuguhkan pesan moral yang dalam, mengajak pembaca untuk bersyukur dan terus berjuang dalam perjalanan panjang pernikahan masing-masing. Pernikahan adalah ibadah berjamaah yang waktunya memang panjang dan tentunya ujian senantiasa mewarnai.

Satu hal yang bisa kupetik, kesendirian itu sesungguhnya tidak ada, karena Allah sebenarnya selalu bersama kita. Bahkan saat kita tak menyadarinya, dia sangat dekat dengan kita. Allahu'akbar ...








#kelasmenulisonline
#kelompokF4
#saskia
#day16

REVIEW BUKU : MPASI? No Worries, Mommy!

April 04, 2019 0 Comments
Mengintip buku ini, seperti mengingat kembali masa-masa MPASI anak beberapa tahun lalu. Andaikan dulu sudah ada buku kisah inspiratif macam ini, mungkin enggak akan terlalu stress memikirkan anak yang susah makan, lalu pilihan menu apa yang cocok untuk anak, dan sebagainya.

Buku ini seperti menjawab kegalauan kaum emakers yang biasanya rempong dengan dunia MPASI. Makan apa anak setelah memasuki usia 6 bulan ke atas? Menu yang praktis namun tetap sehat itu seperti apa? Dan bahkan para penulis berbagi tips ala mereka masing-masing dalam menghadapi segala problematika MPASI.


Meskipun buku ini diterbitkan secara indie, tapi tidak mengurangi kualitas dari isi buku ini. Selain memuat kisah-kisah inspiratif para momies, buku ini juga dilengkapi dengan menu MPASI!

Rekomended untuk para ibu baru sebagai amunisi, pengalaman para penulis yang disajikan dalam kisah yang sederhana namun mengandung pesan moral yang tajam bisa menjadi kekuatan tersendiri bagi pembacanya. Bahwa momies yang sedang ribet MPASI tidak pernah sendirian, so don't worry!!



#kelompokF4
#saskia
#day15

Secantik Bunda ...

April 04, 2019 0 Comments
"Bun, kalau udah beresin piring, gelas dan sendok yang dicuci Bunda ke rak piring, Shahia ngapain lagi?"

"Shahia udah buang sampah di dapur ke tong sampah di depan rumah, Nak?"

"Oh iya, betul Bun. Yang itu belum."

"Anak Bunda masyaAllah luarbiasa pinternya. Rajin juga bantuin bundanya. Sini ah, Bunda mau bayar dulu."

Shahia pun segera berlari ke arahku. "Bayaran" yang kukatakan padanya adalah sebuah pelukan hangat yang lama, serta beberapa ciuman di pipi kanan-kiri serta keningnya. Ketiga anakkua cukup paham, bahwa "bayaran" melakukan hal-hal baik adalah peluk dan cium dariku. Murah meriah ya... tapi begitulah, kami mengekspresikan kasih sayang tanpa ada rasa malu maupun gengsi!

Bahkan antara kakak dan adik pun, "bayar-membayar" dengan cara yang sama sudah jadi kebiasaan kami di rumah. Terutama kalau mereka sempat terlibat pertengkaran ala bocah, karena berebut mainan, buku atau pun jajanan, endingnya harus berdamai, dengan saling memaafkan serta dilengkapi dengan peluk dan ciuman sayang. Begitulah kami ...

Tapi, kali ini ada yang sedikit berbeda, selain memberi Shahia pelukan dan ciuman, aku mengambil gawaiku, menyalakan mode selfie, dan jepreeeet ... sekejap, terabadikan wajah kami berdua.

"Tuh liat, anak solihanya bunda yang cantik. Duh senyumnya masyaAllah ... secantik siapa sih?" Godaku sambil memberinya pujian tulus.

"Secantik Bunda laaaah ...." jawabnya sambil bibirnya merekah, senyuman lebar mengembang. Sekali lagi, dia memberiku ciuman mesra. "Sayaaaaaang bundaaaa ...." tambahnya.

Ah, hatiku meleleh. Dasar mamak baperan! Sesungguhnya, aku terharu, dan satu sisi hatiku lainnya bersyukur. Amanah yang Allah titipkan padaku ini sudah mampu mengekspresikan perasaannya. Pujian tulus untuk anak-anak memang merupakan stimulasi untuk merangsang anak berani mengungkapkan perasaannya juga. Alhamdulillah ...



#kelasmenulisonline
#kelompokF4
#saskia
#day14

SHARING IS CARING!

April 04, 2019 0 Comments
BERBAGI. Sebuah kata yang terdengar simpel, umum dan seolah menjadi simbol "kedermawanan". Bahkan tak jarang, anak-anak dipaksa untuk berbagi agar terkesan "berakhlak" baik. Padahal, bagi anak-anak usia 0-7 tahun, "berbagi" adalah bukan hal yang sederhana. Mereka sedang berada di fase egosentris yang memang secara fitrah akan berusaha mempertahankan "kepemilikan", "keakuan" sehingga "berbagi" menjadi momok yang seolah merenggut sesuatu yang mereka genggam dan nikmati.

Lalu bagaimana menanamkan konsep bahwa berbagi itu adalah hal yang terpuji? Bagaimana menumbuhkan empati sejak dini? Fase egosentris memang harus dipenuhi, anak-anak tidak boleh dipaksa berbagi di range usia tersebut. Dilema bukan? Di sisi lain ingin mengajarkan konsep empati, tapi di sisi lain mempertahankan supaya anak puas di fase ego sentrisnya juga adalah hal penting.

Yap! Mengenalkan konsep kepemilikan adalah jawaban yang kupahami bisa menjadi jembatan solusi untuk dilema ini. Nayura dan Shahia yang masih sama-sama berada di fase ego sentris, tetap aku usahakan terpuaskan "keakuan"-nya, tidak kupaksa berbagi, melainkan mengenalkan bahwa setiap benda ada pemiliknya. Sehingga, saat ingin memakai barang yang bukan milik sendiri, harus meminta izin terlebih dahulu kepada empunya.

Siang ini, mereka sepakat membeli "jajan" yang berbeda saat kami berbelanja di sebuah mini market. Lalu dengan jelas, aku mulai menegaskan kepada keduanya.

"Jadi yang ini punya Kak Shahia? Dan yang ini punya Lula?" tanyaku sambil menunjuk masing-masing "jajanan" dalam sebuah kantung plastik.

"Iya, Bunda.. Yang biru punya Shahia. Yang merah punya Lula." Shahia menjawab cepat.

"Oke, diingat ya punya masing-masing. Kalau kepengen cobain punya Lula, kak Shahia harus ngapain hayo?"

"Izin dulu, Bun! Bilang sama adek, kakak bole minta atau gak."

"Nah, kalau adek ga bole gimana?"

"Ya udah, Shahia makan punya Shahia sendiri aja. Tapi besok kalau beli jajan lagi, Shahia mau beli yang kaya punya Lula ya, Bun. Yang warna merah."

"Oke, boleh. Janji ya, sudah punya jajan masing-masing, kalau mau nyicipin jajan yang bukan punya sendiri, harus izin dulu. Adek ngerti? Setuju ya... Janji yaa, yang akur yaa.."

"Oke, Bunda." Mereka berseru hampir bersamaan, lalu tertawa.

Tak kusangka, dengan menjelaskan konsep kepemilikan, justru mereka bisa berbagi dengan bahagia. Nampak akur dan ceria, saling nyicipin jajanan satu dengan yang lainnya. Lalu berceloteh tentang "rasa" dari jajanan yang sedang dia kunyah.

Aku tersenyum lega. Alhamdulillah ... terima kasih ya Rabb, Engkau lembutkan hati mereka untuk mendengar penjelasanku. Engkau telah mudahkan ingatan mereka untuk memahami apa yang aku katakan.


#hari9
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional

#kelasmenulisonline
#kelompokF4
#saskia
#day13

GOOD MORNING

April 04, 2019 0 Comments
"Good morning, Bunda." Sapaan ceria dari si gadis kecil berusia 7 tahun itu membuatku tersentak.


"Good morning juga anak soliha bunda. Wwwiih tumben nih, sapa paginya pake bahasa Inggris segala. Kenapa ya ..." Sedilikku sambil mencolek pipinya.

"Shahia tu tiba-tiba inget sama Kak Imane, Bun. Dulu, pas Kak Imane tinggal sama kita, kalau pagi, kak Imane bangun tidur selalu bilang good morning sambil meluk Bunda. Shahia kangen deh sama Kak Imane. Kak Imane tu tinggal di mana, Bun? Shahia kok lupa. Di sana jam berapa ya Bun?"

"Eeehh iya ya, kita udah agak lama gak ngobrol dengan Kak Imane di WA dan video call. Kak Imane tinggal di Paris, Sayang. Paris dengan Semarang bedanya 5 jam. Lebih cepat kita, jadi kalau sekarang jam 6 pagi di sini, di tempat Kak Imane masih jam 1 pagi."

"Ooh gitu ya, Kak Imane pasti masih bobok ya Bun. Nanti aja kita WA Kak Imane ya."

"Oke siap! Sekarang anak soliha bunda siap-siap berangkat ke sekolah yuk. Mandi, pakai baju muslim, nanti Bunda foto dan dikirim ke Kak Imane."

"Siap, Bunda!"

***

Imane Tazi, mahasiswi salah satu Universitas di Perancis, muslimah asal Maroko ini pernah tinggal bersama kami selama 1,5 bulan.

Kak Imane, begitu anak-anak memanggil anak angkatku ini. Menjadi orang tua angkat untuk mahasiswi asing selama dia ada project di Semarang adalah pengalaman yang menyenangkan. Selain meluweskan conversation bagiku, anak-anak juga bisa belajar banyak dari Imane. Bukan hanya belajar praktik bahasa Inggris, tapi juga budaya mereka. 

Kami banyak bertukar cerita, Imane tidak hanya bercerita tentang kebiasaan orang-orang Perancis, tapi dia juga banyak bercerita tentang tradisi dan budaya Maroko. Termasuk makanan khas, pakaian khas dan sebagainya.

Dan salah satunya adalah kebiasaan menyapa "Good Morning" saat bangun pagi, keluar dari kamar dan menemui anggota keluarga lain, Imane dengan hangat akan menyapa serta memeluk dan mencium kami.

Ah, anakku bercerita pengalamannya pagi ini dengan bahasa yang sederhana. Tapi aku yakin, memori tentang Imane tak sesederhana "good morning" yang dia ucapkan. Alhamdulillah, persaudaraan kami tetap hangat, meski Imane berada di belahan bumi lain.









#kelasmenulisonline
#kelompokF4
#saskia
#day12

***

#hari8
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional